BBM dan Subsidi, How Low Can You Go?

bbm non subsidiHarga minyak dunia yang terus turun memberi keberuntungan sekaligus potensi masalah di masa depan bila tidak tertangani dengan baik.

Sumber utama potensi masalah tersebut adalah karena harga minyak dapat dipastikan akan mengalami rebound (naik kembali) dan pada saat yang sama masyarakat kemungkinan belum siap dengan harga keekonomian pasar.

Dengan mengacu pada harga rata-rata dunia minyak mentah yang diproduksi Indonesia, harga minyak selama sepuluh tahun terakhir tampak sangat berfluktuasi.

grafik 1 brm

Grafik 1: Harga rata-rata bulanan minyak mentah (sumber kementrian ESDM)

Pada awal tahun 2005, harga minyak rata-rata berada pada tingkat USD42,35 per barel. Bila data ditarik sampai tahun 2000, harga rata-rata bahkan di bawah USD30 per barel.

Harga minyak rata-rata sempat melonjak tinggi dan mencapai puncaknya pada bulan Juli 2008 pada tingkat USD 134,96 per barel, yang kemudian anjlok lagi dan mencapai titik terendah pada tahun tersebut pada harga rata-rata USD38,45 per barel.

grafik 2 brm

Grafik 2: Harga rata-rata bulanan minyak mentah, tahun 2005 – 2014 (sumber: kementrian ESDM)

Setelah harga minyak mengalami terjun bebas pada akhir tahun 2008, harga kembali merangkak secara konsisten sejak Januari 2009 sampai Desember 2012, dengan fluktuasi harian yang cukup besar, dan stagnasi rata-rata harga pada bulan Juni-Juli tahun 2011.

Pada waktu memasuki tahun 2013, harga sudah mulai menunjukkan kecenderungan menurun lagi, yang ditandai dengan harga Januari 2013 USD111,07 per barel dan ditutup pada Desember 2013 pada USD107,02 per barel. Harga terus cenderung menurun sepanjang tahun 2014, kecuali lonjakan pada bulan Juni 2014.

Sekalipun cenderung menurun, tingkat harga yang bertengger di atas USD100 per barel sejak tahun 2011 menjadi bahan pernincangan tersendiri, baik dalam forum ekonomi, bisnis, dan politik, karena menyangkut isu harga keekonomian BBM, kemampuan membayar (capacity to pay) masyarakat, dan kemauan membayar (willingness to pay) masyarakat terhadap BBM, yang kemudian berdampak pada besarnya subsidi BBM.

Anjloknya harga minya dunia sejak bulan Juli 2014 sampai saat ini menjadi berkah untuk pemerintah dan masyarakat, sekaligus juga menjadi awal ujian kebijakan pemerintah mengenai subsidi BBM.

Menjadi berkah karena dengan terus merosotnya harga minya dunia berarti harga BBM juga turun. Seperti saat ini, tanpa subsidi pun harga BBM seperti premium menjadi rendah, dan tidak ada masalah dengan capacity to pay maupun willingness to pay oleh masyarakat pengguna premium.

Tidak ada yang dapat memprediksi pergerakan harga minyak berikutnya karena banyak faktor yang mempengaruhi pasokan dan permintaan minyak dunia. Dengan tidak bersedianya mengurangi produksi minyak oleh para produsen utama minyak, misalnya, pasokan akan terus melimpah dan harga akan cenderung turun, dan bisa mencapai harga terendah sepuluh tahun yang lalu.

Bila menggunakan stress test, harga tersebut bahkan bisa lebih rendah lagi dari harga terendah yang dicapai pada bulan Desember 2008. Tetapi bila produsen tiba-tiba memotong produksi, maka harga akan merangkak naik kembali.

Karena faktor-faktor seperti itulah, maka cara yang paling mudah memprediksi harga minyak adalah dengan menggunakan konsep random walk atau gerakan acak. Menurut teori pergerakan harga acak, harga satu period eke depan sama dengan harga hari ini. Bila ternyata harga actual periode mendatang berbeda dengan harga hari ini, perbedaan tersebut merupakan error.

Dengan demikian, kapan dan berapa harga naik pun sulit diprediksi, dan cara mudah memprediksi juga menggunakan konsep gerakan acak. Bisa saja, harga akan melonjak sampai tingkat yang tertinggi seperti yang terjadi pada bulan Juli 2008.

Pada saat, atau bila, harga menanjak kembali itulah terjadi ujian yang sesungguhnya dari kebijakan penghapusan, atau pengurangan subsidi sampai nol rupiah. Evaluasi setiap dua pekan terhadap harga BBM bersubsidi dapat dimanfaatkan untuk mengukur apakah masyarakat masih mempunyai capacity to pay dan willingness to pay BBM tanpa subsidi bila harga dibiarkan pada tingkat keekonomiannya.

Bila melampaui, sedangkan pemerintah belum siap dengan alternatif moda transportasi yang memadai dan alternatif penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran, pemerintah perlu mempretimbangkan kembali model harga BBM bersubsidi.

Persoalannya, berapa besaran subsidi yang perlu diberikan, dengan memperhatikan batasan atau constrant kebutuhan alokasi dana APBN untuk pembangunan, dan tidak habis terbakar dalam bentuk subsidi BBM.

—Tambahan——————————————————-

Dalam sebuah forum kajian pembangunan, saya menyajikan alternatif subsidi. Pertama, kebijakan harga tetap subsidi mengambang. Kebijakan ini dapat menyedot anggaran APBN saat harga melonjak, tetapi menuai protes masyarakat saat harga anjlok.

Kedua, kebijakan harga mengambang subsidi tetap. Model kebijakan ini menyelamatkan APBN karena sudah bisa dipastikan besaran subsidi secara total, tetapi menimbulkan downside risk bagi masyarakat pada saat harga melonjak.

Ketiga, harga mengambang dan subsidi mengambang dengan harga maksimum atau ceiling price. Model kebijakan ini membagi risiko antara pemerintah dan masyarakat. Pada saat harga turun, pemerintah dapat mematok harga minimum, sehingga subsidi dapat dikurangi, dihapus, atau bahkan diselamatkan. Pada saat harga melonjak, harga dapat dipatok pada harga maksimum sehingga tidak melampaui capacity to pay dan pemerintah dapat menambah alokasi subsidi.

Di dalam forum tersebut, saya mengajukan alternatif ketiga untuk diterapkan. Tulisan ini pun menyarankan kebijakan harga mengambang dan subsidi mengambang dengan ceiling price diajukan sebagai alternatif kebijakan yang optimum.

———————————————————————

*Tulisan dimuat Media Indonesia, 19 Januari 2015.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro
Dosen di PPM School of Management & pengamat bidang manajemen, keuangan, dan ekonomi
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s