Proses Seleksi Kapolri: Objektif atau Subjektif?

Budi_GunawanSelepas musibah Air Asia QZ8501 menutup akhir tahun 2014, seleksi dan pemilihan Kapolri menjadi berita utama yang menghias beberapa media nasional, cetak maupun online di awal tahun 2015.

Kontroversi menyeruak tatkala Presiden Joko Widodo mengajukan calon tunggal, yaitu Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Jokowi mengatakan bahwa ia menggunakan hak prerogatifnya dan, dengan alasan tersebut, Jokowi mengajukan BG ke DPR untuk memperoleh persetujuan.

Dikatakan kontroversi, karena setelah DPR mengatakan persetujuannya, KPK sebagai lembaga yang independen mengumumkan BG sebagai tersangka dalam kasus rekening gendut polri. Dengan kata lain, calon yang diajukan presiden ternyata diragukan sisi integritasnya.

Timbul pertanyaan, “Apakah bapak presiden sudah memeriksa profil si calon sebelum memutuskan yang bersangkutan diajukan menjadi calon tunggal? Dan apakah profil si calon sudah sesuai dengan profil yang dituntut dalam pekerjaannya sebagai kapolri?”

Kegiatan promosi atau penempatan seorang staf atau karyawan merupakan salah satu kegiatan pengelolaan human capital di perusahaan yang sangat umum terjadi dan menjadi bagian dari keberlangsungan perusahaan. Siapa menggantikan siapa, siapa mengisi posisi apa, apa persyaratannya dan bagaimana prosesnya merupakan sejumlah pertanyaan yang mengiringi proses berlangsungnya sebuah promosi. Dan saat sebuah keputusan dikeluarkan, biasanya akan muncul dua reaksi, “Oh ya, memang dialah orang yang tepat” atau “Apakah dia orang yang tepat?”

Dari sudut pandang pengelolaan human capital (atau sumber daya manusia bila meminjam istilah yang lebih umum), sistem-sistem dalam manajemen human capital sesungguhnya hanya sebuah alat yang digunakan dalam mengelola sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Keberhasilan dalam implementasi sistem manajemen human capital tersebut lebih dipengaruhi oleh manusianya sebagai pelaku. Oleh karena itu, para pelakunya diharapkan dapat bertindak objektif dalam menjalankannya.

Sebagai bagian dari sistem manajemen human capital, promosi diatur dalam Sistem Manajemen Karier. Promosi identik dengan kenaikan golongan atau kenaikan pekerjaan, oleh karenanya dalam Sistem Manajemen Karier dibuatlah sejumlah persyaratan yang menyertainya. Artinya, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seseorang diputuskan masuk dalam keranjang kandidat promosi untuk diseleksi.

Apa saja yang menjadi persyaratan untuk promosi? Dengan menggunakan pendekatan competency based, maka kompetensi dan kinerja adalah dua hal yang cukup banyak digunakan sebagai persyaratan utuk promosi di sebuah perusahaan. Kinerja adalah satu hal yang cukup terukur dan terlihat, karena biasanya perusahaan memiliki historical record untuk kinerja setiap karyawannya. Bagaimana dengan kompetensi? Bagaimana mengukurnya? Apakah cara mengukur dan kapan mengukurnya juga sama dengan kinerja? Sekali dalam setahun?

Mengukur kompetensi tentu tidak sama dengan mengukur kinerja. Kompetensi merupakan kombinasi antara pengetahuan, keterampilan serta sejumlah sifat dan karakter diri yang muncul dalam bentuk perilaku yang dapat membantu seseorang untuk menghasilkan kinerja yang superior. Kompetensi dapat diamati dan diukur dan dapat dikembangkan melalui perilaku yang muncul dalam pekerjaannya. Dengan demikian perilaku dalam bekerja merupakan cerminan kompetensi yang dimiliki seseorang.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam Sistem Manajemen Karier yang mengatur promosi, akan tercantum persyaratan kompetensi dan tuntutan kinerja yang harus dipenuhi untuk setiap pekerjaan (baca: posisi). Dengan mengacu pada persyaratan ini maka setiap orang dalam perusahaan sesungguhnya memiliki peluang yang sama untuk membangun kariernya sehingga dapat mempersiapkan dirinya untuk itu. Artinya karyawan dapat menentukan pilihan kariernya dan selanjutnya menyiapkan diri untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Kondisi ini dapat terwujud bila Sistem Manajemen Karier tersebut terbuka, artinya diketahui oleh setiap karyawan, dari persyaratan maupun proses selesksinya. Keterbukaan akan mendorong dijalankannya sistem tersebut dengan benar dan adil sehingga proses promosi mulai dari seleksi calon kandidat dan seleksi kandidat menjadi sangat transparan dan objektif. Pada saat diumumkan keputusan siapa yang terpilih, maka reaksi yang muncul seyogianya adalah ”Oh memang dia orang yang tepat.”

*Tulisan dimuat Business Review Online, 23 Januari 2015.

Rachmi Endras blogRachmi Endrasprihatin
Core Consultant PPM Manajemen
AMI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s