Optimis Menatap 2015

2015 aisTahun 2015 sudah menggantikan tahun 2014. Sepanjang tahun 2014, berbagai perubahan besar terjadi susul menyusul menerpa iklim usaha. Sebagian besar diantaranya justru kontra produktif. Sebut saja dinamika politik, perebutan kekuasaan yang tidak terlalu mulus, baik legislatif maupun eksekutif.

Kondisi ekonomi dunia juga setali tiga uang, mulai dari Eropa yang belum pulih, Amerika yang maju mundur menyebabkan ekspor terhambat, serta China dan India yang melambat. Akibatnya, defisit perdagangan kita pun tidak terhindarkan.

Ujung-ujungnya Rupiah tertekan, bahkan sudah hampir mencapai 13.000 Rupiah per dolar AS. Nilai yang cukup mendebarkan. Bursa juga bergolak, angka psikologis indeks saham 5.000 menjadi sulit tercapai, meskipun pernah juga sekali-sekali naik di atas 5.200.

Sekarang, apa yang akan terjadi pada tahun 2015? Beberapa catatan positif di akhir tahun membuat kita bisa sedikit lebih optimis. Keberanian Jokowi menaikkan harga BBM sampai Rp 2.000, memupuk harapan akan terciptanya ruang fiskal yang cukup longgar bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan proyek-proyek infrastruktur, seperti proyek transportasi jalan, pelabuhan, dan bandara. Demikian pula proyek-proyek pendorong perputaran ekonomi lainnya seperti pembangunan pembangkit listrik, irigasi, dan pengairan akan menjadi lebih masuk akal berjalan.

Pengentasan kemiskinan, jaminan kesehatan dan hari tua juga bisa berharap mendapatkan bagian fiskal yang lebih banyak. Kondisi itu semua diharapkan mendorong pertumbuhan bisnis karena akan membuat biaya perpindahan barang dan biaya logistik lebih murah, yang berarti juga harga barang bisa lebih terjangkau, daya saing produk domestikpun akan naik. Daya beli masyarakat juga bisa merambat naik, ujung-ujungnya transaksi bisnis meningkat, ekonomi pun akan menggeliat lebih kencang.

Meskipun ada optimisme itu, tapi jauh-jauh hari, beberapa institusi yang biasa membuat prediksi soal pertumbuhan ekonomi memperkirakan kita masih tumbuh sekitar 5,29 persen, yang berarti juga hampir sama dengan pertumbuhan tahun 2014. Masih jauh dari kondisi tahun 2013 yang masih bisa tumbuh di atas 6 persen. Kenapa begitu? Jawaban adalah proses pembalikan ekonomi memang tidak bisa secepat membalik telapak tangan. Perlu waktu.

Situasi bergolak seperti tahun 2014 telah membuat banyak pelaku bisnis cenderung tiarap. Investasi direm. Konsep “wait and see” menyebabkan ekonomi jadi stagnan. Gebrakan-gebrakan cepat yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK yang ingin selalu bergerak cepat , sudah mulai membangunkan pebisnis, hanya saja untuk langsung berlari, masih belum sanggup.

Itu sebabnya tahun 2015, bagi pelaku bisnis, akan menjadi tahun konsolidasi. Harapannya, tahun 2016 akan mulai siap-siap tinggal landas. Tahun 2017 barulan benar-benar lepas landas. Apa itu tahun konsolidasi? Secara umum konsolidasi berarti mengumpulkan semua tenaga dan sumber daya yang dikuasai, membuat rencana matang, baru kemudian lompat dan berlari pada kesempatan pertama.

Menyusun rencana dimulai dari audit posisi, yaitu melihat kondisi makro dan industri. Situasi makro dilihat dengan analisis masa depan terhadap politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan regulasi. Sedangkan lingkungan industri dengan melihat arah pasar, gerakan pesaing, calon pesaing, dan pemasok.

Audit posisi kemudian berujung pada rencana strategis 5 tahun ke depan, populernya Renstra 2020 untuk mencapai Visi 2020. Rancangan itu biasanya memerlukan inovasi pengembangan produk melalui rangkaian hasil riset. Sebelum launching biasanya dilakukan analisis bisnis model dan kelayakan investasi.

Bila proses itu bisa berlangsung dengan lancar dan cepat, maka akan berlanjut dengan dimulainya proses awal implementasi. Kegiatan yang dilakukan biasanya adalah kontak lebih serius dengan mitra-mitra strategis untuk keperluan pendanaan, dukungan bahan baku, kelancaran distribusi, dan kepastian hukum untuk perizinan.

Bentuk kerja sama pun mulai dijajaki, mulai dari yang sifatnya transaksional sekadar jual beli atau sewa beli dan outsourcing sampai pada kemungkinan kolaborasi yang lebih strategis seperti merger dan akuisisi, joint venture, atau pembentukan usaha baru.

Renstra 2020 tersebut, jika selesai dibuat bisnis modelnya, bisa saja digadang-gadang sampai ke lantai bursa untuk dicarikan pemodalnya dengan cara IPO. Ini menyebabkan pada awal semester kedua tahun depan, jumlah IPO akan meningkat pesat sehingga bisnis keuangan dengan segala perangkat bisnis ikutannya pun akan marak. Akibatnya, pasar keuangan akan lebih panas ketimbang sektor riil.

Dana yang terhimpun, jika langsung diinvestasikan akan mulai berdampak pada belanja modal dalam bentuk asset tetap yang produktif. Karena proses pengadaan, pemasangan, dan uji coba memerlukan waktu, maka barulah pada semester satu tahun 2016 dampak geliat sektor real akan mulai terasa.

Lalu apa yang terjadi selama proses persiapan berlangsung. Tampaknya, bisnis masih akan seperti saat ini, atau lebih ramai sedikit. Dalam situasi ini, kebanyakan strategi yang dipakai adalah penetrasi pasar, artinya produk lama pada pasar lama. Perusahaan yang tadinya “wait and see” mulai lebih aktif meningkatkan jumlah produksi, mendorong hasilnya melalui distribusi dengan lingkup sasaran lebih luas, harapannya biaya logistik lebih murah dan lancar, sembari berbelanja iklan untuk meningkatkan daya tarik produk bagi konsumen.

Ini berarti industri logistik dan distribusi akan naik, demikian pula dengan industri periklanan, baik melalui media cetak, elektronik maupun sosial media.

Dari sektor jasa, tampaknya konsultan manajemen dan lembaga riset akan banyak kecipratan pekerjaan. Permintaan untuk penyusunan rencana strategis dan riset pasar maupun kelayakan bisnis model akan membesar. Demikian pula dengan pengembangan SDM. Pada situasi konsolidasi, biasanya perusahaan akan lebih banyak menyiapkan tenaga professionalnya.

Pada semester dua, setelah arah strategi perusahaan sudah semakin jelas, maka pengembangan SDM akan menjadi langkah awal yang wajib dilakukan. Strategi make akan lebih menarik daripada strategi buy. Ini didorong oleh adanya cukup waktu persiapan, dan pertimbangan bahwa strategi jangka panjang memeelukan loyalitas yang juga jangka panjang.

Kalau skenario ini berjalan cukup baik, mestinya pertumbuhan ekonomi, minimal sama dengan tahun 2014 atau akan sedikit lebih baik. Target sampai mendekati pertumbuhan 6 persen masih bisa diharapkan. Akan lebih tinggi? Bisa saja, bila pemerintah dapat mempercepat belanja infrastrukturnya sehingga bisnis ikutannya akan ikut berputar menggelinding seperti gelindingan bola salju yang terus membesar akibat gesekan dengan lingkungan.

Program kesejahteraan dan kesehatan masyarakat juga akan mendorong peningkatan ekonomi yang lebih baik. Gangguan yang masih mengkhawatirkan adalah dari politik. Harapannya, gonjang-ganjing Koalisi Merah Putih melawan Koalisi Indonesia Hebat sudah akan berakhir. Rekonsiliasi partai politik mestinya juga sudah berjalan. Kepentingan negara sebagai issue strategis bersama seharusnya menjadi prioritas lebih penting ketimbang sekedar membela kepentingan koalisi masing-masing secara membabi buta.

BUMN sebagai pelaku bisnis yang sudah teruji bertahun-tahun mestinya sudah banyak belajar. Bahkan bisa menjadi lokomotif industri domestik untuk bergerak lebih cepat. Langkah konsolidasi seharusnya tidak membuat kita lengah terhadap peluang bergerak begitu cepat. Persiapan menghadapi MEA Desember 2015 sudah harus rampung, supaya ketika gong perlombaan dipukul, semua sudah siap.

Peluang lebih besar, tapi ancaman juga makin berat. Yang cerdas dan cepat akan meninggalkan yang bodoh dan lamban.

*Tulisan dimuat majalah BUMN Insight No.4 Tahun I Januari 2015. Hlm. 52.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D.
Core Faculty PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s