The Innovation Diamond: 4 Pilar untuk Mencapai Keberhasilan Inovasi

innovation-diamond-modelPerusahaan saling berlomba untuk menjadi perusahaan inovatif guna memenangkan persaingan. Inovasi menjadi tantangan bagi sebagian besar perusahaan. Perusahaan inovatif yang berhasil, berarti penciptaan nilai yang terkandung dalam proses inovasi tersebut mampu menghasilkan manfaat bagi manusia dan lingkungannya.

Ada beberapa definisi tentang inovasi. Salah satunya mendefinisikan inovasi sebagai “creation of a viable new offering”, mengandung pengertian bahwa inovasi lebih dari sekadar invensi, yang paham akan kebutuhan pelanggan, tapi tetap mampu menghasilkan keuntungan bisnis.

Inovasi tidak berarti harus benar-benar baru, tapi bisa diupayakan dari temuan-temuan sebelumnya yang dimodifikasi atau diadaptasi. Selain itu, inovasi juga mengandung pengertian bahwa produk yang dihasilkan harus memberi nilai bagi inovator, perusahaan maupun pelanggannya. Mengenal inovasi juga perlu memahami bahwa inovasi tidak hanya sekadar inovasi produk, tapi bisa berupa sistem baru atau cara baru yang berhubungan dengan pelanggan.

Untuk berhasil dalam inovasi, Cooper, J. R., yang dikenal dengan bukunya, “Winning at New Product”, memperkenalkan the innovation diamond. Ia menyatakan bahwa pilar pertama dari the innovation diamond untuk mencapai keberhasilan inovasi adalah mengembangkan arena strategis yang tepat untuk menggerakkan bisnis perusahaan.

Fokus upaya bagian penelitian dan pengembangan (R&D) perusahaan juga ditujukan pada arena yang lebih menarik, yang memberikan keuntungan bagi perusahaan dan pembelinya. Perusahaan Corning Glass menfokuskan pada pasar yang sangat masih embrio saat itu, flatt-panel screen, untuk menjadi pilihan sesuai kapabilitas yang dimilikinya.

Kenyataan yang terjadi, kita sering menemukan perusahaan berupaya menciptakan banyak produk yang akhirnya menjadi tidak jelas fokus pasar yang dituju. Mereka menciptakan produk inovatif yang umumnya disebut inovasi incremental, hanya mengubah produk menjadi lebih baik. Perubahannya mudah dilakukan, cepat, dan murah.

Namun, tentu juga ada perusahaan yang menciptakan produk inovatifnya melalui proses riset bertahun-tahun, yang disebut inovasi radikal. Inovasi ini dilakukan dengan menciptakan nilai yang berbeda, yakni sulit ditiru oleh pesaing, memakan waktu lama, dan memerlukan biaya tidak sedikit.

Bagi perusahaan yang ingin terus unggul dalam persaingan dan mampu menjadi yang membangun dan mempermudah kehidupan manusia saat ini. Tentu, upaya menciptakan proses inovasi merupakan upaya berkelanjutan (sustainable), dan perlu menciptakan budaya inovatif yang mampu mendukung upaya tersebut.

Apple dan Samsung merupakan perusahaan yang banyak menghasilkan produk inovatif. Apple mampu menjual 250 juta unit iPod di tahun 2010, dalam kurun waktu kurang satu tahun sejak peluncurannya. Keberhasilannya diikuti dengan iPhone. Ada upaya untuk hanya fokus pada arena strategis yang memang sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki.

Demikian juga dengan Samsung Electronics, yang berhasil menggeser dominasi Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat dalam menghasilkan produk inovatif. Tidak tanggung-tanggung, Samsung berani mengalokasikan dana sangat besar untuk kebutuhan riset dan meningkatkan kompetensi dari sumberdaya manusianya. Budaya perusahaan juga berubah seiring dengan perubahan zaman, menghargai kreativitas dan penekanan pada kecepatan.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia juga tidak kalah dalam hal inovatif,misalnya PT Telkomsel, PT Niramas Utama, PT Kereta Api Indonesia, dan PT Martina Berto, Tbk. Namun, tidak semua hasil inovasi dari perusahaan-perusahaan Indonesia dikenal di dunia internasional. Oleh karenanya, perlu upaya khusus pemerintah, swasta maupun akademisi untuk memperkenalkannya, bisa melalui pameran, kampanye di universitas-unversitas, atau melalui acara penganugerahan (awarding) yang integritas dan kredibilitasnya tidak diragukan, baik secara nasional maupun internasional.

*Tulisan dimuat pada SWA Online, 27 Januari 2015 dengan judul “The Innovation Diamond: 4 Pilar untuk Mencapai Keberhasilan Inovasi (1).”

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia, PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s