“Kinerja..Kinerja..Kinerja!”

evaluasi 100 hari jokowi“Kerja..kerja..kerja!” begitulah slogan yang didengungkan oleh Joko Widodo tidak lama setelah dirinya dilantik sebagai presiden. Beberapa hari yang lalu, genap sudah 100 hari Presiden Jokowi memegang tampuk pemerintahan tertinggi di Indonesia.

Sejak beberapa minggu lalu pula berbagai siaran televisi dan paparan media cetak yang meliput sering membahas sepak terjang Presiden Republik Indonesia ketujuh itu yang hampir selalu mengarah pada topik hangat tersebut.

Janji-janji kampanye yang didengung-dengungkan selama masa pencalonan presiden pun mulai ditanyakan dan ditagihkan. Terlebih, bisa dianggap kebetulan atau tidak, persis beberapa hari sebelum tiba di hari ke-100 pemerintahan Presiden Joko Widodo, hal-hal besar yang cukup tragis terjadi di Indonesia, yang menimpa hampir di berbagai sektor, seperti politik, sosial, ekonomi, dan transportasi.

Menyikapi hal tersebut di atas, tentu saja rakyat mulai menilai sebenarnya bagaimana kinerja presiden pilihan mereka dalam masa “percobaan” ini. Meskipun sebenarnya dalam politik tidak ada masa percobaan seperti layaknya karyawan atau manajer yang bekerja di perusahaan, namun mau tidak mau penilaian atas kinerja Presiden Jokowi pun menjadi faktor yang penting bagi keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Memang agak sulit sebenarnya saat kita menilai apakah kinerja seorang presiden di suatu negara mencapai nilai istimewa, baik, cukup, atau buruk karena kita/rakyat tidak mempunyai acuan penilaian layaknya formulir penilaian kinerja di perusahaan yang berisi indikator keberhasilan, bobot penilaian, target, dan lain-lain.

Persoalan tersebut di atas bila diukur dari skala negara memang sangat besar sehingga perlu lembaga negara untuk melakukan pengukuran kinerja presiden. Namun, sebenarnya hal-hal yang telah disebutkan di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh para manajer dan karyawan di perusahaan, dimana pengukuran kinerja mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan untuk menjamin kelancaran organisasi.

Secara singkat, bila perusahaan tidak melakukan pengukuran kinerja tentu saja perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian perusahaan sampai saat ini. Anggap saja seperti kita melakukan medical check up untuk diri kita sendiri, bila kita tidak pernah melakukannya, tentu kita tidak tahu kondisi badan kita ataupun penyakit yang mungkin timbul sehingga mengganggu aktivitas kita.

Proses penilaian kinerja, sebenarnya hanya sebagian dari keseluruhan proses manajemen kinerja. Adapun yang dimaksud dengan manajemen kinerja adalah proses terintegrasi yang strategis, untuk memastikan pencapaian kinerja perusahaan melalui pengelolaan kemampuan, pengembangan, maupun kontribusi individu.

Penilaian kinerja tidak akan ada manfaatnya bagi perusahaan bila tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan pendukung lainnya. Manajemen kinerja akan optimal bila perencanaan kinerja, pengelolaan kinerja, penilaian kinerja, dan penghargaan kinerja sebagai tindak lanjut dijalankan secara lengkap.

Saat ini, secara umum, belum banyak perusahaan yang menjalankan manajemen kinerja secara lengkap. Walaupun sudah banyak perusahaan yang melakukan penilaian kinerja secara rutin bagi seluruh karyawannya. Kemungkinan hal ini terjadi karena perusahaan belum mengetahui mengenai pentingnya manajemen kinerja dan bagaimana implementasinya.

Memang dapat dikatakan bahwa sekali perusahaan mengambil keputusan untuk menjalankan manajemen kinerja di perusahaan maka banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik dari sisi sistemnya maupun orang-orang yang akan terlibat.

Manajemen kinerja menuntut perusahaan untuk menyediakan suatu sistem perencanaan kinerja yang terintegrasi mulai dari tingkat perusahaan sampai individu. Hal ini menyebabkan perusahaan perlu untuk memiliki strategi yang jelas baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang sehingga tahapan-tahapan pencapaian sasaran perusahaan dapat jelas dipahami oleh seluruh pihak. Kemudian diikuti juga dengan kesepakatan sasaran pencapaian kinerja antara atasan dan bawahan.

Selain hal tersebut di atas, aspek pengelolaan kinerja pun menjadi persyaratan penting lainnya. Setiap atasan harus dibekali dengan kemampuan untuk memberikan coaching ataupun mentoring kepada anak buahnya sehingga mereka bisa memastikan para anak buah bekerja sesuai pada jalur tepat dalam rangka pencapaian sasaran kinerja.

Tidak sedikit perusahaan yang sengaja mengirimkan karyawan yang menjadi atasan pada pelatihan-pelatihan peningkatan kemampuan coaching atau mentoring. Dengan menjalankan manajemen kinerja, perusahaan juga diharapkan memiliki program pengembangan karyawan yang terintegrasi dan bersifat jangka panjang.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penghargaan kinerja. Tidak akan ada artinya proses perencanaan, pengelolaan, serta penilaian kinerja jika tidak disusun penghargaan kinerja yang tepat dan menarik. Penghargaan kinerja ini bisa dikatakan saling terkait antara gaji, tunjangan, dan insentif.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa implementasi manajemen kinerja ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri dan membutuhkan persiapan yang cukup matang sehingga pelaksanaannya akan lebih lancar serta bermanfaat.

*Tulisan dimuat Business Review Online, 30 Januari 2015.

zusty dewayani blogZusty Dewayani, S.Psi,M.M.
Core Consultant PT Binaman Utama – PPM Consulting
ZTD@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s