Mengelola Gap Antargenerasi: Gen X dan Gen Y

gen-xyBelakangan ini perbincangan seputar “Gen Y” menarik perhatian para praktisi dan akademisi. Gen Y adalah angkatan kerja yang dilahirkan dalam rentang waktu antara 1980-2000. Mereka dikenali sebagai generasi yang memiliki perilaku berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni, Baby Boomers dan Gen X.

Oleh sebab itu, Baby Boomers dan Gen X perlu memahami dan mengerti cara mengelola Gen Y dengan tepat. Namun apakah benar bahwa pemahaman dan pengelolaan generasi yang berbeda hanya perlu dikuasai oleh Baby Boomers dan Gen X? Apakah Gen Y tidak perlu memahami dan mengelola generasi sebelumnya?

Pembahasan tentang Gen Y selama ini terlalu terfokus pada sisi apa yang harus dilakukan Baby Boomers dan Gen X terhadap Gen Y. Gen Y ditempatkan sebagai objek, sedangkan Baby Boomers dan Gen X adalah aktornya. Padahal organisasi adalah sebuah sistem sosial. Organisasi adalah tempat para individu saling berinteraksi. Perilaku satu individu akan mempengaruhi individu lainnya. Oleh karena itu, Gen Y juga perlu memahami dan mengelola generasi sebelumnya.

Inilah beberapa hal yang harus Anda, para Gen Y, lakukan untuk mengelola perbedaan antar generasi di tempat kerja:

1. Sadarilah bahwa setiap generasi memiliki nilai yang berbeda

Nilai-nilai yang dianut oleh setiap generasi dipengaruhi oleh pengalaman keluarga dan lingkungan masyarakat dimana mereka dibesarkan. Nilai mempengaruhi perilaku. Ketidakmampuan memahami hal ini bisa berujung pada konflik. Bahkan satu istilah yang sama pun bisa dimaknai berbeda.

Sebagai contoh istilah “hardworking”. Baby Boomers mendefenisikan hardworking dengan kemauan bekerja di atas 10 jam sehari. Sementara Gen X akan menganggapnya dengan bekerja tepat waktu sehingga mereka masih punya waktu buat keluarga, sedangkan Gen Y akan mendefenisikannya sebagai kemampuan melakukan pekerjaan multitasking. Perilaku yang ditunjukkan akan berbeda tergantung pemahaman. Gen Y perlu menyadari hal ini.

2. Hindari judging dan labeling

Gen Y perlu menjaga diri untuk tidak terlalu cepat menilai dan memberi label tertentu kepada generasi yang berbeda. Meskipun bagi Anda mereka mungkin terkesan tradisional, namun Anda jangan coba-coba mengatakan bahwa mereka kuno. Tunjukkan rasa penghargaan Anda kepada mereka. Walau bagaimanapun, saat ini mereka adalah atasan dan senior Anda di organisasi.

3. Cari tahu nilai-nilai yang penting bagi mereka

Lebih jauh lagi Anda perlu mengetahui nilai-nilai apa saja yang penting bagi generasi sebelum Anda. Sebagai contoh Baby Boomers menyukai komunikasi secara face to face. Gen X menghargai ide work life balance. Pelajarilah nilai-nilai yang dihargai masing-masing generasi tersebut agar Anda lebih memahami mereka.

4. Fokus pada apa yang bisa dilakukan dan bangun komunikasi

Pemahaman akan nilai-nilai penting mereka tidak berarti bahwa Anda harus berperilaku sama. Anda cukup berfokus pada hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu memudahkan tugas mereka.

Misalnya Baby Boomers dan Gen X adalah generasi yang tidak terlalu melek teknologi maka dukunglah penyelesaian pekerjaan mereka dengan kemampuan teknologi yang Anda miliki. Gen X adalah generasi yang mendukung ide work life balance maka bantulah mereka dengan kemampuan multitasking Anda sehingga pekerjaan cepat selesai.

Jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan apa yang bisa Anda perbuat. Komunikasi yang baik akan membuat mereka merasa dihargai sekaligus menegaskan kontribusi Anda buat mereka. Selamat mencoba!

*Tulisan dimuat BUMN Insight Online, 31 Januari 2015.

WendraWendra.
Pengajar dan Konsultan di PPM Manajemen
WEN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s