Penciptaan Ide-ide Besar yang Solusional Untuk Mencapai Keberhasilan Inovasi

whatwedo_mdl3Inovasi yang sukses mengandung arti tidak saja keberhasilan secara ekonomi melainkan juga keberhasilan sosial. Inovasi yang sukses adalah inovasi yang menciptakan nilai lebih besar untuk konsumen, komunitas, dan lingkungan pada saat yang sama. Pemahaman mengenai keberhasilan inovasi ini diutarakan Avanti Fontana dalam bukunya “Innovate We Can!

Menciptakan nilai lebih besar untuk konsumen merupakan hasil kreativitas yang melahirkan ide-ide besar. Sejalan dengan hal ini, pilar ketiga menyatakan bahwa untuk menopang keberhasilan dalam inovasi, perusahaan perlu mengupayakan adanya penciptaan ide-ide besar (blockbuster idea) yang bisa berkontribusi dalam solusi yang dibutuhkan konsumen.

Pilar ketiga memperkuat dua pilar yang sebelumnya, pertama dengan berfokus pada arena pengembangan yang tepat, didukung kompetensi dan kapabilitas perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan. Kedua, perlu diciptakan iklim, budaya, serta kepemimpinan organisasi yang mendukung keberhasilan inovasi.

Namun, tidaklah bisa memberikan solusi bila hanya ide besar saja. Pada tahapan berikutnya, ide besar hanya akan menghasilkan produk yang diharapkan konsumen melalui proses pengembangan produk, yang populer disebut dengan The Idea-to-Launch State-Gate System.

Sang pencipta sistem ini, Robert G. Cooper, yang banyak berkiprah dalam riset dan konsultasi perusahaan khususnya di area pengembangan produk, memperkenalkan state-gate seperti map konseptual dan operasional untuk pengembangan produk baru, mulai dari ide sampai produk diluncurkan ke pasar.

Ia seperti sebuah blue print untuk mengelola proses pengembangan produk baru sehingga bisa lebih efektif dan efisien, yang berfungsi sebagai alat untuk memenangkan persaingan.

StagegatesProcess

The Idea-to-Launch State Gate System berisi 5 stage. Diawali dengan Discovery: Ideas Generation lanjut ke stage 1: Scoping, stage 2: Build Business Case, stage 3: Development, stage 4: Testing & Validation, dan stage 5: Launch.

Tiap tahapan ada 5 gate sebagai gerbang pembuat keputusan untuk “go” atau “no go” ke stage berikutnya. Di setiap stage ada proses diskusi yang melibatkan pelanggan atau konsumenuntuk meningkatkan kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar.

Perusahaan P&G telah menerapkan state-gate system sejak tahun 1990 yang terus diperbarui metodenya. Sekarang sudah generasi ketiga, yakni P&G SIMPL Stage-Gate Process, yang berisi 5 Stage (Discover-Design-Qualify-Ready-Launch) dan 4 Gate.

Seperti halnya dengan P&G, 3M juga telah menerapkan state-gate system untuk pengelolaan proses inovasinya. Budaya serta iklim perusahaan 3M yang inovatif, berlandaskan kreativitas dan disiplin merupakan perpaduan kekuatan untuk menghasilkan keberhasilan dalam inovasi.

Corning-Glass yang terkenal dengan gelas Pyrex dan Corning ware, merupakan salah satu perusahaan yang sukses menerapkan state-gate system. Saat ini, Corning-Glass menghasilkan banyak upaya inovasi di fiber optic dan glass untuk flat-panel display.

Proses state-gate system terus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan pasar. Prosesnya menjadi lebih ramping dan singkat. Cakupannya juga semakin luas. Bahkan dalam proyek intensif, proses state-gate system pengembangan produk dari setiap pihak internal terkait dilakukan secara virtual.

Lego, perusahaan mainan asal Denmark, sangat produktif dengan pola mengganti sepertiga lini produknya dengan item-item baru setiap tahun. Hal ini tentunya harus didukung dengan proses pengembangan produk yang cepat dan berhasil. Lego menerapkan state-gate system untuk memproses produk barunya untuk lebih menjamin banyak dan cepatnya produk baru diluncurkan ke pasar.

Contoh-contoh perusahaan yang menerapkan state-gate system tersebut di atas membuktikan bahwa blue print state-gate system setiap perusahaan bisa berbeda sesuai dengan kondisi perusahaan, kebutuhan pasar, dan tingginya persaingan dalam industri. State-gate system menjadi alat bantu perusahaan untuk mencapai keberhasilan inovasi yang didambakan.

*Tulisan dimuat SWA online, 18 Februari 2015 dengan judul “The Innovation Diamond: 4 Pilar Untuk Mencapai Keberhasilan Inovasi (3)”

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia, PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s