Jurus Jitu di Tahun Kambing

tahun-kambingPada penanggalan China, terhitung sejak 19 Februari 2015 hingga 7 Februari 2016 kita akan memasuki tahun ‘kambing kayu.’ Jika diurutkan, kambing merupakan tanda kedelapan (baca: pek) dari zodiac China.

Menurut kepercayaan, angka delapan melambangkan perdamaian dan kemakmuran. Itulah mengapa banyak orang meyakini bahwa tahun ini akan diwarnai dengan situasi yang kondusif dalam berbisnis. Sehingga, besar harapan bahwa integrasi ekonomi ASEAN yang akan diberlakukan di akhir tahun akan membawa kemakmuran bagi bangsa.

Namun satu hal yang tetap perlu diwaspadai adalah ketika paradigma tersebut diamini oleh segenap pelaku pasar. Tak ayal upaya meraih sekaligus mempertahankan kemakmuran akan menjadi target utama yang dipertandingkan sehingga mau tak mau para pengelola perusahaan harus menyiapkan jurus bisnis yang lebih jitu di tahun ini.

Karakter ‘kambing’ tidak hanya merepresentasikan pelaku usaha, melainkan juga konsumen. Untuk menemukan makanan yang tepat, kambing tergolong hewan yang cukup jeli. Tak semua daun atau tumbuhan bisa jadi makanan yang menyehatkannya. Itulah kondisi yang akan dihadapi dunia bisnis.

Konsumen akan semakin selektif dalam memilih. Oleh karenanya bergantung pada daya saing yang lazim dilakukan tak lagi dinilai tepat. Perusahaan perlu memetakan kembali komponen inti pencipta daya saingnya. Cost leaderships strategy yang dipercaya menjadi penentu kemenangan di era perdagangan bebas hendaknya disikapi secara bijaksana. Sebab, ketika satu tanaman telah disantap oleh kawanan kambing maka kambing pertama yang menemukan santapan itu cenderung keluar dari komunitas untuk mencari alternatif lain.

Itulah karakter unik lain yang perlu dicermati. Artinya tak semua produk murah akan menjadi incaran konsumen. Produk yang merepresentasikan keseimbangan antara harga yang dibayarkan dengan kualitas yang diterima akan menjadi incaran utama. Dengan demikian pekerjaan rumah pertama ada pada bagaimana perusahaan mampu mempersempit kesenjangan antara apa yang dipersepsikan dengan realisasi yang diperoleh konsumen.

Di antara sekian banyak alternatif, satu solusi yang layak mendapat perhatian adalah meningkatkan efektivitas komunikasi pada konsumen atau pelanggan. Melibatkan mereka sejak formulasi produk disusun akan menjadi kunci sukses utama. Dengan cara ini, perusahaan akan mampu mengidentifikasi dengan mudah hal-hal yang menjadi ‘hidden needs’ dari pasar.

Satu peluang emas yang dipercaya muncul adalah nuansa perdamaian. Saat itu tercipta maka peluang sinergi dengan pesaing akan semakin banyak bermunculan. Tengoklah kini bagaimana penyedia jasa pendidikan menghadapi persaingan global. Program kerja sama dengan pemain asing merupakan pilihan terbaik mengingat tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang siap menjadi pemain dunia telah meningkat drastis selang dua tahun terakhir. Bahkan sejumlah perguruan tinggi asing yang terakreditasi internasional pun tengah giat-giatnya mencari mitra di Asia. Sehingga, muncullah pekerjaan rumah besar yang kedua, yakni bagaimana membangun kemitraan yang menguntungkan masing-masing pihak?

Kuncinya ada pada inovasi. Kemitraan harus mampu menciptakan ide-ide inovasi yang akan memperkuat posisi para pemain. Bisa inovasi dalam hal produk, pasar, pemasaran atau bahkan organisasi. Prinsipnya-pun sangat sederhana, ‘serahkan semua pada ahlinya’.

Masing-masing pelaku berdiri di atas kompetensi inti dan, pada posisi tersebut, pola kemitraan dibangun. Targetnya tak lain adalah efisiensi dan efektivitas. Dalam konteksnilai perusahaan, efektivitas merupakan kunci pendongkrak besaran aliran kas masuk sedangkan efisiensi erat kaitannya dengan pengetatan aliran kas keluar. Makin lihai perusahaan meraih kedua hal tersebut maka sisi aktiva diyakini akan semakin membaik. Inilah simbol awal dari kemakmuran.

Selanjutnya, hal lain yang tak boleh diacuhkan adalah karakter kuat dari ‘kayu.’ Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menambah kekuatan dari sebuah balok kayu. Misalnya dengan mengaitkan satu bagian dengan yang lain. Namun tetesan air yang terjadi dalam frekuensi teratur juga dapat menyebabkan pelapukan pada kayu. Itulah risiko yang harus diantisipasi sejak dini.

Pandangan tersebut membawa kita pada gambaran peran manajemen risiko yang makin vital di perusahaan. Perbankan akan makin disibukkan dengan aktivitas memilih metode penentuan cadangan modal minimum yang paling tepat. Sektor manufaktur akan lebih cermat dengan pengelolaan risiko operasi, demikian pula di sektor jasa. Semua pihak akan lebih berhati-hati dalam menjalankan roda bisnis.

Saat kekuatan ‘kayu’ terjaga penuh maka usianya akan bertambah panjang. Itulah cerminan dari umur kerja sama yang akan terjadi di tahun ini. Loyalitas yang dikelola secara efektif akan berdampak pada jalinan hubungan jangka panjang berbasis mutualisme.

Hubungan bisnis bisa jadi berubah menjadi pertemanan atau kekeluargaan, di mana masing-masing pihak akan saling menjaga kepentingan satu pihak dengan yang lain. Saat pola itu terduplikasi secara baik niscaya jejaring kemitraan perusahaan akan semakin luas. Di satu sisi peluang peningkatan produktivitas terjadi, di sisi lain ‘cuan’pun mengalir deras.

Selamat merayakan Tahun Baru Imlek, Gong Xi Fa Cai, Xin Nian Kuai Le.

*Tulisan dimuat pada BUMN Insight Online, 21 Februari 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s