Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan

entrepreativityPeter Drucker pernah mengatakan bahwa inovasi merupakan sebuah kekhasan dari entrepreneurs (wirausaha); sebuah alat yang mereka gunakan untuk menggali peluang dalam perubahan untuk membangun sebuah bisnis yang berbeda. Inovasi, dapat ditunjukkan sebagai sikap disiplin, dapat dipelajari, dan dapat dipraktikkan.

Inovasi dan kewirausahaan tidak hanya sebatas ide-ide bisnis yang cemerlang. Poin terbesar dalam hal ini adalah bagaimana caranya untuk mengidentifikasi, menilai, dan menyempurnakan ide tersebut, serta mengembangkannya ke dalam konsep bisnis yang nyata.

Fase awal penciptaan ide mungkin membutuhkan suatu proses kreatif yang signifikan. Namun, pada fase pengembangan ide akan lebih banyak berkisar pada kegiatan problem-findings dan problem-solving, dimana proses ini akan membutuhkan input-input yang kreatif.

Berbicara tentang kreativitas, inovasi dan kewirausahaan, menurut Isaksen dan Tidd, dalam buku Innovation and Entrepreneurship (2011), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi proses kreatif dalam suatu organisasi. Salah satu dari ketiga faktor tersebut adalah personality.

Studi tentang inovasi dan kewirausahaan cenderung berfokus pada peran individu, yaitu karakteristik bawaan dari seorang inventor atau wirausaha. Tipikal karakteristik dari seorang wirausaha antara lain adalah:

  • memiliki semangat, passion, untuk mencari dan mengidentifikasi peluang-peluang baru;
  • fokus dan disiplin dalam mengejar peluang pada proyek tertentu, bukan mengejar berbagai peluang secara oportunis;
  • fokus pada proses eksekusi sebuah ide, bukan pada proses analisis kelayakan bisnis yang tak berujung;
  • terlibat dan membangun jejaring profesional, dan mampu menggali keahlian serta sumber daya yang dimiliki oleh orang lain.

Selain karakteristik di atas, kesuksesan seorang wirausaha juga dipengaruhi oleh variabel lain, seperti latar belakang etnis dan agama, profil psikologis, dan pendidikan serta pengalaman. Berdasarkan riset yang pernah dilakukan, satu dari empat wirausaha memiliki orang tua yang juga seorang wirausaha. Orang tua yang bekerja sebagai seorang wirausaha akan menjadi role model bagi anak-anaknya yang pada akhirnya mungkin untuk memberikan dukungan untuk menjadi seorang wirausaha pula.

Dalam kaitannya dengan latar belakang etnis dan agama, beberapa populasi dari etnis dan agama tertentu memiliki persentase wirausaha yang cukup tinggi. Di Eropa, sebagian besar umat Yahudi berkarier sebagai wirausaha. Beberapa yang dikenal publik adalah Mark Zuckerberg (Facebook) serta Larry Page dan Sergey Brin (Google). Di Asia, sebagian besar wirausaha merupakan mereka yang beretnis China.

Kebanyakan riset tentang psikologi dan kewirausahaan yang telah dilakukan didasarkan pada pengalaman dari perusahaan kecil di Amerika Serikat. Studi tersebut menyebutkan bahwa seorang wirausaha cenderung untuk memiliki internal locus of control, yakni sukses atau tidaknya suatu outcome ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan dari faktor eksternal.

Wirausaha yang sukses juga memiliki need for achievement yang tinggi. Seorang wirausaha cenderung untuk termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan prestasi tertentu ketimbang keinginan untuk sukses secara umum. Perilaku ini kemudian diasosiasikan dengan sikap berani mengambil risiko secara realistis.

Sebagian orang memiliki pandangan bahwa wirausaha yang sukses cenderung untuk memiliki latar belakang pendidikan yang kurang cemerlang. Salah satu alasan logis dari fenomena ini adalah karena adanya keterbatasan kemampuan dan peluang kerja dari mereka yang under-educated. Hal ini sering kali disebut sebagai necessity-drive entrepreneurship, sesuatu yang bertolak belakang dengan opportunity-driven entrepreneurship.

Mereka yang terkategori sebagai opportunity-driven entrepreneurs cenderung untuk memiliki latar belakang pendidikan yang lebih baik daripada necessity-drive entrepreneurs dan cenderung untuk menjadi wirausaha yang lebih sukses.

Sebelum menjadi seorang wirausaha, secara rata-rata seseorang akan bekerja selama 13 tahun sebelum akhirnya membuat perusahaan sendiri. Sebenarnya, tidak ada pola yang spesifik dari seorang wirausaha yang sukses. Namun demikian, pengalaman terlibat dalam pekerjaan yang bersifat developmental work nampaknya lebih memberikan arti daripada pengalaman terlibat dalam pekerjaan riset. Seperti halnya para wirausaha dari Silicon Valley yang telah terlebih dahulu mendapatkan berbagai macam pengalaman praktis dari banyak perusahaan sebelum akhirnya membangun perusahannya sendiri.

Pada akhirnya, kewirausahaan tidak akan terlepas dari inovasi. Penemuan produk, proses atau paradigma baru itulah yang akan menggerakkan roda kapitalisme. Hal-hal baru tersebut sangat dipengaruhi proses kreatif yang dilalui oleh seorang individu, termasuk didalamnya personality dan latar belakang individu tersebut.

*Tulisan dimuat SWA online, 3 Maret 2015.

fitri safiraFitri Safira
Center of Innovation and Collaboration (CIC) Researcher/Staf Pengajar PPM Manajemen
FFA@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s