Keluar Dari Permainan Roller-Coaster BBM

roller coster bbmPasca keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi per Maret tahun ini, spontan masyarakat mulai memandang BBM dalam idiom ‘Benar-Benar Menggalaukan.’

Betapa tidak, kenaikan harga yang lebih dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia telah menciptakan ketidakpastian dalam dunia bisnis dan ekonomi, sebab harga BBM secara langsung berdampak pada biaya distribusi produk. Ketika harga jual telah disepakati, maka kenaikan BBM kali ini merupakan hal yang wajib ditanggung produsen. Selanjutnya, perlahan namun pasti konsumen jualah yang menanggung lewat kenaikan harga jual produk.

Menerapkan pola mengambang pada harga BBM, khususnya yang bersubsidi, memang terkesan ‘aman’, namun praktik di lapangan menunjukkan ada banyak masalah. Proses perbaikan infrastruktur jalan raya yang kini tengah dijalankan mau tidak mau harus dihadapi produsen dengan mengubah jalur distribusi.

Atas upaya ini tak jarang tambahan biaya merupakan sebuah konsekuensi logis. Belum lagi jika inefisiensi tersebut masih diperparah dengan harga BBM yang dipatok dengan pola fluktuasi secara periodik. Bukan soal harga yang menjadi perhatian, namun lebih kepada kepastian pada harga berapa BBM akan dijual. Karena melalui informasi tersebut dunia bisnis merasa seolah-olah mempunyai pedoman penetapan harga dari aspek makro.

Untuk terlepas dari jebakan tersebut bukanlah hal yang sederhana, namun bukan berarti sudah menjadi harga mati. Masih ada beberapa celah yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Pertama, cermati kembali pola distribusi produk perusahaan. Pastikan setiap pemain di dalam jalur telah berfungsi secara efektif. Itu artinya keberanian untuk melakukan efisiensi melalui penutupan jalur distribusi yang dinilai tidak optimal harus tercipta.

Menerima postulasi (dogma) itu bukanlah hal yang mudah. Banyak perusahaan yang gagal disebabkan secara konsisten selalu melibatkan ‘perasaan’ seperti bagaimana masa depan karyawan jika unit usahanya ditutup? Akankah mereka menjadi pengangguran? Akibatnya, alih-alih menciptakan efisiensi, beberapa perusahaan bahkan tidak pernah ‘berani’ menutup usahanya. Pilihan untuk tetap beroperasi walau dengan risiko tinggi masih menjadi idola.

Kedua, bersinergi dengan konsumen. Pada beberapa kasus bisnis, kompleksitas distribusi lebih disebabkan karena minimnya kolaborasi antara produsen dengan konsumen. Dengan kata lain, keterlibatan pelanggan (baca: orang yang mengkonsumsi produk yang sama berulang-ulang) sebagai kepanjangan tangan rantai distribusi masih minim.

Padahal keikutsertaan mereka dalam proses distribusi diyakini mampu memindahkan sebagian biaya sehingga, jika dikalkulasi secara rinci, tidak semua risiko kenaikan harga tersebut ada di pundak konsumen akhir. Ibaratnya ‘berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.’

Mengingat posisi BBM yang sangat vital dalam perekonomian, maka mitigasi risiko yang diambil tak cukup dengan hanya memperhatikan sisi distribusi produk jadi. Di lain sisi input produksi juga perlu dilihat secara tajam.

Kondisi saat ini sebenarnya lebih dapat diprediksi bila dibandingkan dengan realitas selama sepuluh tahun terakhir. Keputusan pemerintah untuk mengkaji harga BBM secara periodik setidaknya mengingatkan kita akan arti penting persediaan input produksi.

Bila awalnya persediaan digunakan untuk motif menjaga stabilitas produksi, kini sudah saatnya juga digunakan dalam upaya menjaga target margin. Memang akan ada komponen biaya lain yang timbul seperti halnya pengelolaan gudang. Namun sadar atau tidak pola ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan harus memotong target margin yang berpotensi untuk diraih.

Langkah lain yang mutlak memerlukan kolaborasi beberapa pihak adalah mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan. Semua realitas dalam lima tahun terakhir mengingatkan kita akan arti penting sumber energi alternatif dalam ekonomi. Sebab tanpa hadirnya hasil inovasi tersebut, niscaya para pelaku domestik takkan mampu keluar dari wahana roller coaster problematika harga BBM.

Dengan demikian kerja sama yang manis antara pemerintah dengan lembaga penelitian maupun pendidikan sangat diperlukan guna mendampingi proses komersialisasi ide-ide inovasi energi anak-anak negeri. Semoga kita bersama-sama mampu mewujudkan gagasan ini.

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 7 Maret 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s