Kue Cubit dan Kelebihan Bagasi

kue cubitBeberapa tahun belakang, Indonesia merupakan “pasar empuk” bagi produsen dalam maupun luar negeri. Hal tersebut tentunya didukung oleh pola konsumsi dan daya beli masyarakat.

Aktivitas konsumsi bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, melainkan sudah mulai mengarah pada pola konsumtif serta peningkatan kebutuhan tersier diiringi dengan perkembangan “life-style.”

Cukup menarik jika ingin melihat fenomena konsumsi masyarakat Indonesia, menurut hasil survei keyakinan konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), indeks keyakinan konsumen pada Juli 2014 kemarin kembali menguat jika dibanding dengan bulan Juni.

Tercatat Indeks keyakinan konsumen pada Juli 2014 adalah sebesar 119,8, lebih tinggi 3,5 dibanding dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 116,3 persen. Indeks keyakinan konsumen pada Juli 2014 tersebut juga tertinggi dalam dua tahun ini.

Berdasarkan survey, terjadi peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia dari tahun ke tahun dan tidak terpusat di kota besar. Hal menarik lainnya adalah masyarakat Indonesia loyal dalam berbelanja makanan dan minuman. Bagi pencinta kuliner, nama Pasar Santa bukan sesuatu yang asing lagi akhir-akhir ini. Penamaan pasar yang memiliki citra kumuh dan becek, saat ini tidak tergambar untuk Pasar Santa yang menjadi pusat kuliner ini.

Sejak berdiri sekitar 7 tahun yang lalu, Pasar Santa menjadi tempat penjualan sembilan bahan pokok, tapi jika kita berkunjung sekarang pemandangan sudah berbeda. Di lantai paling atas berkembang menjadi tempat usaha kreatif dan tempat hang out anak muda Jakarta. Produk yang ditawarkan juga beragam dari mulai pakaian vintage sampai ke makanan tradisional, seperti kue cubit.

Sebagian besar dari kita pasti telah mengenal kue cubit. Kue yang menjadi jajanan ketika sekolah dasar ini pun menjadi naik daun kembali. Bukan sembarang kue cubit yang diminati, melainkan kue cubit dengan berbagai modifikasi rasa dan toping, seperti rasa red velvet sampai green tea. Beberapa outlet kue cubit inovasi ini menjadi hal yang dibicarakan, pasalnya penggunjung sampai rela antri sebelum outlet buka dan sampai outlet menerapkan sistem waiting list pesanan hanya untuk mencicipi hasil inovasi dari kue cubit.

Fenomena kuliner juga tidak jauh berbeda dengan tren travelling berbagai kalangan di Indonesia. Pola konsumsi liburan masyarakat Indonesia yang juga sudah mulai bergeser ke destinasi luar negeri. Berpergian ke luar negeri saat ini bukan menjadi hal mewah, kemudahan akses dan perkembangan informasi menjadi pendukung utama pergeseran life style tersebut.

Tidak jarang juga kita menemui wisatawan yang mengalami kelebihan bagasi ketika akan pulang karena barang yang dibeli di tujuan wisata melebihi ketentuan. Salah satu alasan yang sering muncul adalah dikarenakan wisatawan tidak melakukan perhitungan membeli oleh-oleh dan berbelanja, khususnya beberapa barang yang tidak direncanakan.

Tren hang out, antrian outlet kue cubit sampai kejadian kelebihan bagasi merupakan beberapa gambaran pola pembelian dan impulse buying masyarakat Indonesia. Fenomena tersebut juga menggambarkan kemudahan masyarakat Indonesia untuk dipengaruhi sebuah tren.

Kemampuan pembelian ditambah dengan kepercayaan diri dalam membelanjakan pendapatan adalah indikator yang cukup menarik bagi beberapa investor baik dalam maupun luar negeri untuk menjadikan konsumen Indonesia sebagai potensi pasar.

40 persen atau 90 juta jiwa dari total populasi masyarakat Indonesia dikategorikan sebagai kelas menengah, hal tersebut dibuktikan oleh survey yang dilakukan tahun 2014. Angka yang cukup besar untuk menjadi peluang bisnis. Tahun 2015 juga merupakan tahun yang bersejarah untuk industri infrastruktur di Indonesia, pasalnya untuk pertama kalinya anggaran infrastruktur mendapatkan anggaran terbesar.

Hal tersebut berarti pemerintah memberikan perhatian yang serius untuk sektor infrastuktur untuk dapat menunjang kemajuan Indonesia dalam menghadapi MEA serta menangkap peluang daya beli masyarakat dan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, pertanyaan besar bagi pelaku industri Indonesia adalah apakah kita sudah mampu menjawab kebutuhan pasar? Apakah kita sudah siap bersaing dengan perusahaan asing yang tergiur dengan “pasar empuk” konsumen Indonesia? Apakah anggaran infrastruktur pemerintah justru hanya akan dinikmati investor asing? Kita lihat saja nanti.

*Tulisan dimuat Business Review Online, 10 Maret 2015.

meinita-nurulMeinita Nurul
Core Consultant PPM Manajemen – PPM Consulting
MEI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s