Pemimpin Transformasional Sukseskan Kinerja Organisasi

pemimpin transformasionalTopik kepemimpinan selalu menjadi topik yang menarik perhatian publik. Hampir setiap saat kita membaca cerita-cerita yang membahas kepemimpinan, baik dari koran, berita on-line maupun televisi.

Biasanya berita-berita tersebut mendiskusikan tentang kepemimpinan tingkat negara, kementerian, lembaga-lembaga negara, provinsi, dan bahkan perusahaan, baik yang berskala internasional maupun nasional.

Berita tersebut menjadi menghangat apabila yang menjadi topik pembicaraannya adalah prilaku pejabat tingkat tinggi, seperti Ignatius Jonan dan Tony Fernandes pada kasus kecelakaan Air Asia QZ 8501 yang lalu.

Pada hakikatnya, kepemimpinan adalah suatu perilaku yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi pengikutnya (follower) di dalam mencapai suatu tujuan. Dalam suatu organisasi, seorang pemimpin diharapkan menuntun anggota kelompok untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan organisasi.

Namun, dalam tingkatan permasalahan tertentu, seorang pemimpin diharapkan menuntun anggota kelompok dan pemangku kepentingan organisasinya untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Secara konsep, kepemimpinan dapat dibagi dua, yakni kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional (Bernard M. Bass and Ronald E. Riggio, 2006). Kepemimpinan transaksional adalah model kepemimpinan, dimana seorang pemimpin mendorong anggotanya untuk bekerja, dengan menyediakan sumber daya dan penghargaan, sebagai imbalan untuk motivasi, produktivitas dan pencapaian tugas yang efektif.

Adapun kepemimpinan transformasional mempunyai ciri mampu menginspirasi dan mendorong anggota untuk mencapai hasil pekerjaan (result) yang tinggi dengan cara memberdayakan anggota kelompok untuk meningkatkan kemampuan mereka, serta menyelaraskan kepentingan individu dan kepentingan organisasi.

Dalam banyak berita, kita dapat melihat bagaimana Ignatius Jonan sebagai Menteri Perhubungan – regulator di dalam industri penerbangan, langsung bertindak secara cepat untuk memastikan bahwa misi keselamatan penumpang di dalam industri penerbangan juga merupakan misi yang dilaksanakan oleh seluruh penerbangan yang beroperasi di Indonesia.

Ia segera turun ke setiap perusahaan penerbangan untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mempunyai struktur organisasi, sistem prosedur dan kompetensi karyawan yang sesuai untuk menjalankan misi keselamatan penumpang pada perusahaan penerbangan.

Ternyata tindakannya tersebut mampu menginspirasi dan mendorong karyawan dan pejabat di Kementrian Perhubungan untuk menerapkan peraturan dengan lebih teliti sehingga tercapai result standar keselamatan yang lebih tinggi. Walaupun akibatnya beberapa perusahaan penerbangan harus kehilangan izin penerbangannya.

Sementara Tony Fernandes, sebagai pemegang saham mayoritas yang bukan CEO Air Asia Indonesia, memutuskan untuk tinggal di Surabaya dan mengikuti proses pencarian secara langsung untuk memastikan bahwa pelanggan Air Asia mengetahui bahwa Air Asia akan bertanggung jawab penuh terhadap kecelakaan ini.

Ia juga mengirim e-mail yang bersifat personal kepada setiap pelanggan Air Asia, dengan memakai bahasa ibu pelanggan tersebut. Dalam surat tersebut, Tony Fernandes menyatakan perasaan dia tentang kecelakaan yang dihadapi oleh Air Asia dan rasa terima kasihnya kepada semua pelanggan yang mendukung dia secara moril.

Tindakannya itu memperlihatkan bahwa dalam situasi sesulit apa pun, ia akan berusaha memberdayakan anggota kelompok untuk meningkatkan kemampuan mereka agar mampu menyelaraskan kepentingan stakeholders dan kepentingan organisasi.

Peran mereka berdua dalam menangani masalah kecelakaan pesawat Air Asia memiliki dimensi yang berbeda, Ignatius Jonan sebagai seorang menteri dan Tony Fernandes sebagai pemegang saham mayoritas dari perusahaan. Akan tetapi, hasil yang dicapai adalah perubahan didalam cara penanganan kecelakaan pesawat udara, dalam hal ini, yaitu Air Asia, yang akhirnya menghasilkan suatu kinerja yang luar biasa.

Apakah peran kepemimpinan hanya dibutuhkan pada tingkat atas saja? Tentunya tidak, banyak pihak yang terlibat di dalam kejadian ini dan masing-masing berusaha berperan sebagai pemimpin yang baik, sehingga unit kerjanya dapat menghasilkan kinerja berdasarkan standar atau bahkan lebih tinggi dari standar kinerja yang telah ditetapkan oleh pemimpin yang lebih tinggi.

Basarnas dengan dukungan penuh TNI dan negara-negara sahabat memainkan peran penting untuk menemukan dan mengevakuasi pesawat dan penumpang, mereka dapat menemukan lokasi puing pesawat Air Asia dalam waktu yang sangat singkat.

Pencarian korban yang tidak henti-hentinya, menyebabkan jumlah korban yang dapat ditemukan dan diindentifikasi sangat banyak dan penanganan jenazah hingga ke tempat peristirahatan yang terakhirpun dilakukan secara profesional.

Dari kejadian besar ini, kita dapat melihat atau membuktikan, walaupun kedua jenis kepemimpinan–transaksional & transformasional–memberikan pengaruh positif bagi komitmen anggotanya, ternyata kepemimpinan transformasional lebih berhasil di dalam situasi penuh ketidakpastian, dimana kepemimpinan yang dibutuhkan adalah gaya kepemimpinan yang mampu mengidentifikasi adanya kebutuhan akan perubahan, dan secara pemikiran dan fisik memandu proses perubahan tersebut sehingga semua anggota organisasi dapat melihat secara nyata, komitmen para pemimpinnya. Dengan demikian, komitmen itu juga memperbaiki motivasi, moral, kinerja dari para anggotanya.

*Tulisan dimuat BUMN Insight Online, 14 Maret 2015.

Octa Melia JalalOcta Melia Jalal.
Head of Center for Human Capital Development, PPM Manajemen
mia@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s