Jurus Penerus Bisnis Keluarga, KICK!

Family-BusinessKICK atau tendangan acap kali dikorelasikan dengan sepak bola. Olah raga ini tentunya sangat digemari, baik anak-anak maupun orang dewasa. Apalagi saat ini tengah berlangsung Liga Champion yang merupakan ajang unjuk gigi klub-klub sepak bola terbaik Eropa untuk menunjukkan diri sebagai tim terbaik yang meraih juara.

Tim terbaik tidak serta merta dibangun dalam waktu yang sekejap. Dibutuhkan kemampuan fisik, strategi, kematangan emosional, serta sinergi antar pemain agar dapat berlaga dengan baik. Susunan pemain yang baik juga menjadi penentu keberhasilan sebuah tim. Biasanya sebuah tim dikatakan hebat, jika berhasil mempertahankan posisi klasemen di urutan teratas selama lebih dari dua musim.

Tantangannya adalah bagaimana sebuah tim dapat membuat komposisi yang baik agar regenerasi terus berlangsung, dimana pada waktu yang bersamaan bisa saja ada pemain yang cedera, mendapat kartu kuning ataupun kartu merah. Pencari bakat perlu menyiapkan kader-kader penerus agar tim yang telah menduduki urutan teratas bisa terus menjadi jawara dan tidak terkendala masalah waktu.

Tak hanya sepak bola yang membutuhkan waktu untuk menyiapkan kader-kader penerus yang siap untuk menduduki peringkat teratas. Bisnis keluarga juga perlu menyiapkan kader-kader penerus bisnis demi keberlangsungan usaha. Hal ini bukan hal yang sulit, karena kecenderungan yang terjadi saat ini, banyak anak muda yang tertarik untuk berbisnis.

Ada yang memanfaatkan hobi sebagai sumber rezeki dan awal karier menjadi pengusaha, ada juga yang bermodalkan idealisme, jejaring, bahkan kenekatan dan percaya diri berhenti bekerja demi memuaskan pencapaian dirinya untuk mencapai cita-cita menjadi seorang bos karena bosan menjadi karyawan. Ada pula yang sekadar mengikuti tren. Di sisi lain, ada yang terjun menjadi pebisnis karena merupakan salah satu pewaris bisnis keluarga.

Apakah kisah penerus bisnis keluarga merupakan hal yang bisa menjadi pembicaraan hangat? Untuk beberapa keluarga mungkin jawabannya ya! Bola saat ini masih berada di posisi pemain tengah dan siap digiring untuk mencetak gol. Ada juga yang sudah siap-siap menggiring bolanya ke gawang. Hal ini memang kembali lagi tergantung kepada kesiapan tim (baca: bisnis keluarga). Kapan bola akan ditendang? Siapa yang menendang?

Lalu bagaimana jurus terbaik agar penerus bisnis bisa menjadi kader yang siap untuk melanjutkan tongkat estafet yang diberikan padanya? Jawabannya adalah KICK (Kompetensi, Integritas, Coach, dan Komitmen).

Kompetensi merupakan pengetahuan, keahlian dan sikap yang membentuk karakteristik atau kualitas pribadi seseorang untuk menghasilkan kinerja optimal. Kompetensi seseorang bisa datang dari bawaan si individu, ataupun diperoleh dari hasil pengembangan, seperti proses pendidikan, pelatihan, pengembangan, serta pengalaman. Gunung es sering digambarkan sebagai analoginya, dimana ada yang terlihat jelas dan ada yang tersembunyi.

Hard competency adalah jenis kompetensi yang lebih mudah untuk diamati dan dibentuk/dikembangkan, terkait dengan pengetahuan dan keterampilan. Biasanya hard competency juga harus diimbangi dengan soft competency yang menjadi karakteristik mendasar dan penting untuk keberhasilan. Soft competency terkait dengan konsep diri dan sifat sehingga lebih sulit untuk diamati dan perlu waktu lama untuk dibentuk/dikembangkan.

Agar menghasilkan kinerja optimal, organisasi membutuhkan penerus bisnis dan pemegang kepemimpinan tertinggi di organisasi yang memiliki kompetensi yang baik. Jika kompetensi bawaan masih dirasa lemah maka perlu meningkatkan kompetensi lewat proses pendidikan, pelatihan, pengembangan, serta mengasah kemampuan lewat pengalaman berbisnis lewat proses benchmarking (tolok banding) dan proses magang dengan terjun langsung ke lapangan.

Integritas adalah sikap teguh mempertahankan prinsip dan menjadi dasar yang melekat pada diri sebagai nilai-nilai moral. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas merupakan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Jika disimpulkan dalam kalimat yang simpel, yaitu walk the talk! (baca: apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikatakan, yang menggambarkan konsistensi dari tindakan seseorang).

Sudah selayaknya sebagai penerus bisnis keluarga yang akan menjadi pemegang kepemimpinan, sejatinya ia memiliki integritas di dalam dirinya sebagai salah satu kompetensi dasar individu. Integritas disini diharapkan menjadi stimulus bagi individu untuk peningkatan tujuan perusahaan yang akan dicapai.

Dari sisi organisasi, integritas yang dimiliki sang penerus akan menjadi contoh bagi seluruh karyawan dan seluruh stakeholder yang kemudian dapat menjadi pendorong untuk mewujudkan misi bersama. Sinergi antara atasan dan bawahan ataupun sinergi antara perusahaan dan pelanggan, mencerminkan pentingnya seluruh peran yang dijalankan organisasi agar tumbuh dan memenangkan persaingan bisnis.

Coach atau pelatih diperlukan dalam bisnis keluarga. Bak permainan sepak bola, organisasi juga membutuhkan coach andal yang dapat memandu, menyemangati, memberikan motivasi, memberikan contoh yang baik, bahkan mengarahkan agar strategi yang direncanakan dapat dijalankan dan terlaksana dengan prestasi terbaiknya.

Oleh karena itu, si penerus bisnis keluarga juga harus mampu menjadi coach, sosok model yang dicontoh sehingga patut menunjukkan perilaku yang tidak mudah menyerah, disiplin, etis, serta dapat memberi jalan keluar dari problem yang dialami oleh pemain.

Kemampuan berempati, analisis problem, berpikir kreatif, serta penentu strategi/taktik perlu diasah pada diri seorang coach. Bukan hanya pintar menentukan strategi, tapi juga dapat membeli hati coachee-nya. Tentu saja dalam perjalanan, ia sering dihadapkan pada situasi dan kondisi yang tidak menentu. Disinilah ujian terhadap kemampuan coach dalam menjalankan perannya. Keadaan dimana penerus bisnis keluarga memadukan seni, keterampilan, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk membawa organisasi ke tingkat produktivitas terbesarnya.

Komitmen atau keterikatan dalam melakukan sesuatu dalam bisnis keluarga adalah hal yang penting. Pasang surut bisnis yang ditekuni merupakan salah satu pemicu hilangnya gairah berbisnis. Tantangannya adalah bagaimana terus membangun komitmen bersama di tengah persoalan dan kondisi yang tidak menentu. Terkadang konflik antara kepentingan bisnis dan kepentingan keluarga merupakan masalah yang cukup pelik dialami.

Selain itu, jika sudah memantapkan hati untuk terjun berbisnis, hal lain yang juga harus menjadi pertimbangan adalah kesiapan mental maupun material untuk tidak mendapat gaji (baca: tidak digaji) sekali pun. Ini salah satu contoh komitmen dan perjuangan, semata-mata demi keberlangsungan bisnis yang tengah dalam kondisi surut.

Komitmen teguh di awal sebagai penerus tongkat estafet bisnis keluarga akan membantu untuk menjadikan pribadi yang matang dan mampu dalam menyikapi berbagai persoalan maupun tantangan bisnis ke depannya. Seiring berjalannya waktu, si penerus bisnis sepatutnya juga memikirkan keberlangsungan bisnis dengan memikirkan proses regenerasi melalu penyiapan kader-kader penerus bisnis ke depannya.

The game is on..are you ready to KICK?

*Tulisan dimuat Business Review online, 18 Maret 2015.

yunita blogYunita Andi Kemalasari, S.Si, M.M
Core Consultant PPM Manajemen – PPM Consulting
YUN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s