3 Jurus Jitu Mengelola Atasan Anda

manage-your-bossAda satu pertanyaan yang hampir selalu muncul saat saya memberikan pelatihan kepemimpinan. Pertanyaannya klasik. Bahkan saya bisa katakan sangat klasik malah! Kenapa? Pertama, karena pertanyaannya relatif itu-itu juga. Kedua, diajukan oleh peserta dari berbagai latar belakang perusahaan, industri, level jabatan, lama kerja dan latar belakang pendidikan. Jangan tanya soal gender. Pasti juga beda. Lalu seperti apa pertanyaannya?

Pertanyaanya kurang lebih berbunyi seperti ini, “Pak, oke tadi Bapak sudah menguraikan bagaimana cara memimpin bawahan. Lha, kalau saya di posisi bawahan, bagaimana ya caranya memimpin atasan?”

“Kenapa Anda merasa harus memimpin atasan?”, saya tanya balik.

“Ya agar atasan mau menerima ide-ide saya. Agar saya selalu muncul on the top of mind mereka. Agar karir saya dilancarkan, dan seterusnya.”

Biasanya saya langsung jawab, “Solusi tercepatnya adalah Anda harus segera jadi atasannya atasan Anda. Sehingga Anda bisa memimpin dia.”

Geeeeerrrrrr…..

Ruang training langsung riuh-rendah oleh gelak tawa peserta. Ada yang terbahak sampai mengeluarkan air mata. Ada yang mesem-mesem saja. Ada juga yang menimpali lebih jauh sambil mengolok-olok sang penanya.

Tapi tentu saja itu jawaban bercanda. Biar kelas tidak terlalu serius. Lalu jawaban yang serius seperti apa?

Begini. Sejauh ini saya yakin tidak ada cara untuk memimpin atasan. Bahkan saya belum pernah menemukan satu buku pun yang membahas bagaimana cara memimpin atasan.

Ada beberapa buku yang judulnya menjurus ke arah itu, seperti Managing Up and Across terbitan Harvard Business Review atau Lead Your Boss karangan John Baldoni. Tapi isinya bukan bagaimana cara mempimpin atasan. Juga bukan bagaimana memanipulasi dan mengambil muka atasan. Bukan itu! Melainkan isinya adalah bagaimana mengelola hubungan dengan atasan.

Memimpin tidak sama dengan mengelola. Jika Anda memimpin, maka seolah-olah Anda menempatkan diri lebih tinggi. Kemudian Anda mempengaruhi. Mengelola lebih bersifat menciptakan hubungan yang win-win. Anda untung, dia untung.

Ingat, atasan tetaplah atasan. Karir dan masa depan Anda dipengaruhi keputusan yang dibuatnya. Anda tidak bisa memimpin dia. Itu ibarat menantang matahari. Sia-sia. Bahkan Anda bisa terbakar.

Jadi jika yang Anda inginkan adalah agar atasan Anda mau menerima ide-ide Anda, mau menjadikan Anda on the top of mind-nya, mau mempromosikan Anda secara adil dan cepat, dan seterusnya, maka Anda harus menempatkan diri Anda pada posisi yang akan bisa membantunya agar sukses. Sehingga jika Atasan Anda sukses, Anda juga akan ikut sukses. Inilah yang disebut dengan mengelola atasan.

Lalu apa langkah-langkah detail dalam pengelolaan atasan tersebut? Bob Selden dalam bukunya What To Do When You Become The Boss kurang lebih menyampaikan tiga jurus berikut ini.

Pertama. Kenali prioritas kerja atasan.
Setiap atasan pasti memiliki yang namanya Key Performance Indicator (KPI). Kinerja atasan Anda akan dinilai oleh atasannya yang lebih tinggi lagi berdasarkan capaian KPI tersebut. Maka kenalilah yang menjadi KPI atasan Anda tersebut.

Kedua. Kenali gaya atasan dalam bekerja.
Ada atasan yang suka perencanaan matang. Planning, planning, planning, itulah semboyannya. Jadi dia akan banyak melakukan kegiatan analisa situasi, analisa persoalan, menyusun alternatif solusi, kemudian menimbang dan memilih solusi terbaik, serta menyusun tindakan antisipasi. Baginya action plan yang detail dan terukur itu penting. Dia tipe pemikir.

Di sisi lain, ada juga atasan yang setengah cowboy. Baginya, action itu penting. Bekerja, bekerja, bekerja, mungkin itu akan jadi semboyannya. Kalaupun ada kekeliruan, perbaiki sambil jalan. Jadi dia adalah tipe pekerja.

Maka kenalilah atasan Anda masuk kategori yang mana.

Ketiga. Fokuskan pada apa yang bisa Anda bantu.
Setelah mengenali KPI dan gaya bekerja atasan Anda, maka fokuskanlah perhatian dan upaya Anda untuk membantu atasan Anda mencapai KPI-nya dengan gaya bekerja yang sesuai.

Misal, jika KPI atasan Anda adalah peningkatan jumlah pelanggan baru sebesar 10%. Tipenya adalah pemikir. Maka siapkanlah action plan untuk membantu dia meningkatkan jumlah pelanggan sebesar 10% tersebut. Sertakan data, fakta dan rasional yang akan mendukung dia dalam mengambil tindakan.

Namun jika atasan Anda adalah tipe pekerja. Maka jangan terlalu banyak menyusun planning. Anda bisa dianggap terlalu lama dalam bekerja. Buat rencana dalam garis besar saja dan langsung lakukan dengan sepengetahuan dia.

Dengan menerapkan tiga langkah tersebut maka harapannya adalah atasan Anda akan sukses. Sehingga perhatian dan dukungannya pun akan lebih mudah Anda dapatkan. Selamat mengelola atasan Anda!

*Tulisan dimuat PortalHR.com, 18 Maret 2015.

WendraWendra.
Pengajar dan Konsultan di PPM Manajemen
WEN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s