Inovasi Pembiayaan Saat Rupiah Keok

pelemahan rupiahPelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat beberapa pekan terakhir telah mendudukkan industri lokal pada posisi sulit. Tingginya ketergantungan pada bahan baku impor serta mahalnya biaya modal di tanah air telah membuat beban ekonomi yang harus ditanggung perusahaan menjadi sangat berat.

Di sisi lain pilihan untuk menggunakan bahan baku lokal masih terkendala dari segi kualitas. Realitas itulah yang mendorong perusahaan untuk berinovasi, satu di antaranya dari sisi pendanaan jangka menengah dan panjang.

Merujuk pada konsep valuasi, nilai perusahaan ditentukan dari dua variable besar, yakni arus kas bebas sebagai pembilang dan biaya modal sebagai penyebut. Dalam kondisi turbulensi, di mana tanda-tanda pelemahan ekonomi mulai teridentifikasi maka kemampuan perusahaan untuk meningkatkan nilai arus kas bebas sangatlah minim. Karenanya mau tak mau minimalisasi beban menjadi satu-satunya alternatif terbaik.

Biaya modal terdiri dari dua unsur utama berdasarkan sumber dana yang dipilih. Jika memilih utang, maka akan muncul biaya utang. Selanjutnya jika memilih ekuitas maka biaya ekuitas akan muncul. Terlepas dari teori struktur modal yang dianut, tingginya suku bunga kredit perbankan saat ini telah membuat perusahaan untuk berpikir ulang sebelum memutuskan untuk menggunakan sumber dana ini.

Betapa tidak, ketika Rupiah bertengger di level Rp. 13.000 lebih per Dollar Amerika, suku bunga kredit telah terkerek di atas 13%. Artinya setelah mempertimbangkan tingkat risiko bisnis yang ditanggung, bisa jadi biaya modal yang ditanggung perusahaan berada di atas 15%. Sebagian kalangan menilai angka ini dalam kategori kurang menguntungkan.

Meski dari ilustrasi tersebut terlihat bahwa dana perbankan tak lagi menarik, namun bukan berarti terhenti begitu saja. Inovasi pendanaan tetap dapat dilakukan, satu di antaranya bahkan bisa diinisiasi pemerintah, yakni dengan membentuk lembaga pembiayaan khusus industri. Ide yang pernah diwacanakan oleh Kementerian Perindustrian ini kiranya layak untuk dikaji secara mendalam.

Meksi sepintas lembaga ini tak begitu lazim di Indonesia, namun kehadiran lembaga sejenis sudah ada dan masih terbatas bagi pemain ekspor. Di beberapa Negara, seperti Malaysia dan Vietnam, lembaga pembiayaan khusus industri telah lama beroperasi.

Tak hanya itu, lembaga yang umumnya memberikan bunga di bawah pasar ini mampu berkontribusi besar pada perekonomian nasional. Bahkan kapitalisasi pasar mereka boleh dibilang sangat besar jika dibandingkan dengan perusahaan pembiayaan swasta lainnya.

Belajar dari Vietnam, lembaga pembiayaan khusus industri dinilai sangat membantu sebab di kala suku bunga perbankan bertengger di dua digit, lembaga ini mampu menyediakan dana dengan bunga satu digit. Meski awalnya terkonsentrasi pada usaha kecil dan menengah yang berorientasi ekspor, perlahan namun pasti juga merambah sektor menengah atas, baik yang berorientasi ekspor maupun domestik.

Inovasi pendanaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kemandirian perusahaan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan dana internal berupa saldo laba ditahan. Meski secara konseptual penggunaan laba ditahan menciptakan biaya yang lebih besar dari utang bank, namun fleksibilitas pendanaan menciptakan berbagai kemudahan saat manajemen menggunakan dana internal.

Beberapa variabel yang perlu diperhatikan saat manajemen menjatuhkan pilihan pada sumber dana ini meliputi tingkat suku bunga bebas risiko yang berlaku saat itu, pergerakan return pasar dan tingkat risiko bisnis yang dihadapi perusahaan. Selama tingkat risiko bisnis yang dihadapi berada dalam batas-batas toleransi maka penggunaan dana internal ini masih menguntungkan.

Penggunaan dana internal sebagai jawaban atas kebutuhan modal bukannya tanpa konsekuensi. Akibat alokasi dana internal umumnya porsi pembagian keuntungan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen akan berkurang. Realitas ini tentunya tidak disukai oleh pemegang saham.

Untuk itu, kecakapan manajemen dalam meyakinkan pemegang saham bahwa penurunan porsi dividen ini akan terkonversi dengan keuntungan lebih di tahun-tahun mendatang akan sangat menentukan. Saat investor telah diyakinkan niscaya dukungan mereka akan membuat perusahaan mampu bertahan saat Rupiah keok.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat Business Review online, 20 Maret 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s