Diversitas Kolaborasi

collaboration diversityBerdasarkan riset yang telah dilakukan selama puluhan tahun oleh ilmuwan, psikolog, sosiolog, dan ahli ekonomi menunjukkan bahwa suatu kelompok yang heterogen (diverse) secara sosial akan menjadi lebih inovatif daripada kelompok yang homogen.

Heterogen dalam hal ini termasuk dalam keberagaman ras, etnis, gender, dan orientasi seksual. Hal ini rasanya sangat kentara sekali memang, bahwa tentu saja kelompok dengan keberagaman yang tinggi akan memberikan performa yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dan bersifat non-rutin.

Orang-orang dengan latar belakang berbeda akan memberikan informasi baru yang memperkaya satu sama lain. Dengan berinteraksi satu individu dengan individu lain di dalam kelompok, memaksa tiap orang untuk mempersiapkan diri dengan baik untuk mengantisipasi alternatif pandangan yang berbeda dan mengantisipasi bahwa pencapaian konsensus membutuhkan effort lebih. Pada akhirnya, kelompok yang memiliki diversitas ini akan berujung pada suatu hasil yang lebih baik daripada kelompok yang homogen.

Cristian Deszö dari Universitas Maryland dan David Ross dari Universitas Columbia melakukan sebuah riset tentang bagaimana efek diversitas gender dalam jajaran manajemen puncak dari perusahaan top yang tercatat dalam Standard & Poor’s Compsite 1500.

Deszö dan Ross melakukan kajian terlebih dahulu tentang ukuran dan komposisi gender dalam jajaran manajemen puncak di perusahaan tersebut dari tahun 1992 hingga 2006. Studi dengan organisasi sebagai unit of analysis ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan representasi wanita dalam jajaran manajemen puncak, rata-rata akan menyebabkan kenaikan firm value sebesar $ 42 Juta.

Tak hanya itu, mereka juga melakukan kajian terhadap intensitas inovasi yang diukur melalui rasio beban research and development terhadap total aset. Hasilnya, perusahaan yang berinovasi akan mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar jika terdapat wanita dalam jajaran manajemen puncaknya.

Diversitas juga tidak hanya bicara tentang gender, tapi juga etnis. Berkaitan dengan hal ini, diversitas etnis ternyata berujung pada kualitas penelitian ilmiah yang lebih baik. Richard Freeman, seorang profesor di Universitas Harvard, bersama dengan Wei Huang, seorang kandidat doktor bidang ekonomi dari universitas yang sama, melakukan kajian terhadap penulis dari 1.5 juta karya tulis ilmiah yang ditulis dari tahun 1985 hingga 2008 menggunakan Thomson Reuter’s Web.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa karya tulis yang dibuat oleh kelompok yang heterogen mendapatkan lebih banyak sitasi dan memiliki impact factor yang lebih tinggi dibandingkan dengan karya tulis yang dibuat oleh kelompok penulis dengan etnis yang sama.

Dalam proses diskusi, diversitas tidak hanya bicara tentang perbedaan perspektif belaka. Menambahkan diversitas sosial dalam kelompok akan membuat anggota kelompok meyakini bahwa perbedaan perspektif mungkin akan muncul diantara mereka dan hal inilah yang kemudian akan mengubah perilaku mereka.

Individu dalam suatu kelompok yang homogen cenderung berpikir bahwa dalam proses diskusi mereka akan cenderung untuk mengerti perspektif satu sama lain, sehingga akan lebih mudah untuk mencapai konsensus. Tetapi, jika individu di dalam kelompok menyadari bahwa mereka berbeda secara sosial –baik dalam ras, etnis maupun gender, ekspektasi mereka akan proses diskusi akan berubah. Mereka akan mengantisipasi adanya perbedaan perspektif dan opini. Ini lah yang kemudian memupuk asumsi bahwa mereka perlu bekerja lebih keras untuk dapat mencapai konsensus dan berujung pada outcome yang lebih baik.

Dalam tataran bisnis, diversitas juga terwujud dalam bentuk kolaborasi untuk menciptakan suatu inovasi. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Center of Innovation and Collaboration, tingkat kolaborasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan suatu perusahaan untuk berinovasi. Pihak yang menjadi mitra dalam melakukan aktivitas inovasi pun beragam, dapat berupa perusahaan lain dalam grup, pemerintah, universitas, konsultan, kompetitor, pemasok dan konsumen.

Di Indonesia, secara umum kolaborasi ini banyak dijalin dengan konsumen dan perusahaan lain dalam grup (79,6%), berbeda dengan China dan Hong Kong yang lebih banyak berkolaborasi dengan konsumen (68,0%; 58,0%). Namun, jika melihat dalam tataran yang lebih kecil, terdapat perbedaan antara perusahaan yang besar dengan perusahaan yang masih berstatus sebagai UMKM. Dalam melakukan aktivitas inovasi, perusahaan besar lebih banyak bermitra dengan perusahaan lain dalam grup (82,1%), sementara UMKM lebih banyak bermitra dengan konsumennya (73,3%).

*Tulisan dimuat SWA online, 24 Maret 2015.

fitri safiraFitri Safira
Center of Innovation and Collaboration (CIC) Researcher/Staf Pengajar PPM Manajemen
FFA@ppm-manajemen.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s