Gaya Komunikasi Agresif, Efektifkah?

komunikasi agresif BUMNDi tengah serunya perdebatan di berbagai media massa terkait pro & kontra gaya komunikasi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau “Ahok” yang dianggap sebagian orang terlalu vulgar, beberapa hari yang lalu sebuah stasiun radio swasta di Jakarta mengajukan pertanyaan yang cukup menggelitik para pendengar, “Apa yang Anda rasakan saat mengekspresikan rasa marah Anda secara verbal dengan menggunakan kata-kata kasar pada lawan bicara?” dan “Bagaimana pula perasaan Anda sesudahnya?”

Komentar para pendengar cukup beragam. Mayoritas berujar bahwa pada saat marah mereka memang tidak bisa mengontrol pilihan kata yang keluar. Bahkan ada yang memberi labelling nama-nama hewan kepada lawan bicaranya. Pada saat marah, mereka memang merasakan kelegaan. Seolah-olah beban berat berkurang. Perasaan tidak puas dan rasa tidak suka pun terlampiaskan.

Namun, perasaan itu hanya bertahan sejenak. Sejurus kemudian mereka mulai menyesal. Salah seorang komentator bahkan berkata bahwa dia merasa mulut dan dirinya sangat kotor. Ada juga yang khawatir kalau kemarahan mereka justru akan menyakiti hati orang lain. Lalu hal itu akan berdampak pada hubungan jangka panjang dengan lawan bicara tersebut. Dari sini bisa kita lihat polanya bahwa marah menimbulkan kelegaan sesaat, namun selanjutnya akan menimbulkan penyesalan dan kekhawatiran.

Meskipun demikian, tetap ada komentator yang tidak merasakan pola seperti di atas. Bagi mereka, melontarkan makian saat marah adalah sesuatu yang sah-sah saja dilakukan karena merasa lawan bicara memang pantas diperlakukan demikian.

Tentu saja kita tidak tahu bagaimana perasaan para pemimpin Provinsi DKI Jakarta seperti Basuki Tjahja Purnama atau anggota DPRD DKI yang berkonflik dengan beliau sesudah saling melontarkan kalimat-kalimat verbal yang panas. Apakah masuk ke dalam kelompok yang menyesal atau tidak? Tulisan ini tidak akan membahas hal itu. Namun kita akan coba membahas apa saja gaya komunikasi yang dapat dipilih oleh pemimpin dan bagaimana efektivitasnya sehingga bisa menjadi referensi bagi Anda, para manajer dan para calon manajer.

Sebenarnya berbicara dengan marah adalah salah satu bentuk dari gaya komunikasi agresif (aggressive communication style). Merujuk pada Kamus Merriam-Webster, agresif diartikan sebagai “Ready and willing to fight, argue, atau using forceful methods to succeed or to do something.”

Orang yang berkomunikasi agresif sering diidentikkan dengan perilaku mengekspresikan kebutuhan, keinginan, pendapat, perasaan, dan keyakinan sendiri dengan mengabaikan kebutuhan, keinginan, pendapat, perasaan, dan keyakinan orang lain.

Orang yang memakai gaya komunikasi agresif secara verbal akan terlihat seperti meremehkan lawan bicara, mengajukan pertanyaan yang sifatnya menekan, mengajukan permintaan tolong tapi bernada instruksi, memaksakan kehendak atau nasihat, menyalahkan tanpa memberi solusi, berasumsi tentang orang lain atau peristiwa dan sarkastis. Bisa disimpulkan bahwa ketika seorang berbicara dan kemudian itu menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain, bisa dikatakan dia sudah berkomunikasi secara agresif.

Dalam sebuah pelatihan tentang berkomunikasi secara efektif bagi para manajer, terungkap bahwa, di sebuah perusahaan yang bergerak di consumer goods, mayoritas manajernya suka memakai pendekatan yang agresif. Malah para manajer sangat yakin bahwa bawahan atau lawan bicara tidak akan berubah jika tidak dimaki.

Namun, ketika ditanya balik, “Bagaimana mereka berharap diperlakukan oleh para senior manajer yang notabene adalah atasan mereka?” Para manajer tersebut tertawa dan berkata bahwa mereka merasa tidak nyaman jika dimaki oleh atasan dan berharap diperlakukan lebih baik. Disinilah uniknya, ada orang yang ingin diperlakukan secara baik, tapi tidak mau memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan.

Apa akibat yang mungkin muncul jika seorang pemimpin terus-menerus menggunakan gaya komunikasi verbal yang agresif? Satu hal yang pasti adalah pemimpin tersebut tidak akan bisa “buy people’s heart” atau membeli hati bawahan atau lawan bicaranya.

Menurut Dianna Booher dalam buku best seller-nya berjudul “What More Can I Say?: Why communication fails and what to do about it”, tujuan utama dari komunikasi sebenarnya adalah untuk menggerakkan perubahan. Pemimpin berkomunikasi agar bawahan atau lawan bicara paham apa yang dia maksudkan. Setelah paham maka lawan bicara diharapkan untuk melakukan action tertentu atau paling tidak inti yang dikomunikasikan mengubah cara pandang dan pemikiran mereka. Jadi komunikasi adalah untuk menciptakan perubahan.

Marshall Goldsmith, executive coach yang pernah dinobatkan oleh BusinessWeek sebagai salah seorang pemikir terbaik dunia di bidang kepemimpinan, mengatakan bahwa sangat sulit untuk memperkirakan apa reaksi orang ketika dimarahi. Bisa diam, bisa juga balik melawan. Jika balik melawan maka akan menimbulkan konflik yang lebih besar dan bahkan mungkin berujung deadlock.

Jika pun diam dan mengikuti apa yang dimaui oleh sang pemimpin maka mereka akan melakukannya dengan perasaan terpaksa. Itu pun jika sang pemimpin melakukan pengawasan secara ketat. Jika tidak maka mereka akan berhenti. Jadi perubahan cara berpikir dan bertindak yang terjadi sebagai akibat komunikasi agresif tidak akan bersifat long lasting.

Lalu apakah artinya komunikasi secara agresif harus dihindari? Sebaiknya “ya,” walaupun terkadang dalam situasi tertentu yang bersifat mendesak dan membutuhkan keputusan cepat maka gaya komunikasi seperti ini juga diperlukan.

Alternatif lain yang lebih bijak pagi pemimpin dalam berkomunikasi adalah dengan mengembangkan gaya komunikasi asertif. Sekali lagi kita gunakan defenisi dari Kamus Merriam-Webster: “Assertive is confident in behavior or style.” Orang yang berkomunikasi secara asertif akan mengekspresikan kebutuhan, keinginan, pendapat, perasaan dan keyakinan dengan langsung, jujur, terus terang dan sopan tanpa mengorbankan hak orang lain. Dalam bahasa yang lebih sederhana, asertif adalah tegas, tapi tanpa penggunaan kata-kata sarkastis.

Komunikasi asertif tidak berarti mengorbankan kepentingan si pemimpin. Tidak juga menempatkan posisi pemimpin jatuh di mata bawahan atau lawan bicara. Tapi gaya komunikasi ini akan menempatkan pemimpin pada posisi sebagai pemimpin yang tegas, namun tetap santun.

Kalau kita merujuk ke judul tulisan ini, maka jika parameter efektif itu adalah buy-in dari lawan bicara, perubahan cara pandang dan perilaku yang lebih bersifat long lasting, serta terciptanya citra pemimpin yang tegas dan santun, tentu saja gaya komunikasi agresif tidak efektif. Komunikasi asertif lebih baik. Namun jika ada maksud di luar tiga parameter tersebut, bisa jadi gaya komunikasi agresif akan efektif, bisa juga tidak.

Selamat mencoba untuk jadi asertif!

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 28 Maret 2015.

WendraWendra.
Pengajar dan Konsultan di PPM Manajemen
WEN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s