8 Langkah Menuju Perubahan Organisasi Bisnis Sepak Bola Indonesia

kongres pssi 2015Bagi pemerhati olahraga nasional, khususnya sepak bola, pasti sudah tidak asing lagi dengan berita-berita kehebohan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) beberapa tahun belakangan ini. Sayangnya kehebohan bukan karena prestasi yang baik, tetapi lebih banyak karena kisruh kepengurusan dan pengelolaan sepak bola nasional.

Mulai dari masa kepengurusan Nurdin Halid yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan, tetapi tidak bersedia melepaskan kursinya di kepengurusan PSSI, dualisme Liga Primer Indonesia vs Liga Super Indonesia, pembentukan Komite Normalisasi PSSI oleh Komite Darurat FIFA sampai yang terbaru “persaingan” antara Menpora + BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) dengan PSSI dalam mengelola persepakbolaan Indonesia, dimana kali ini yang menjadi korbannya adalah Arema Cronus dan Persebaya yang lolos verifikasi PSSI, tetapi tidak lolos verifikasi versi BOPI.

“Ada apa dengan sepak bola Indonesia?” Pertanyaan yang satu ini mungkin sudah ribuan kali terlontar tanpa bisa mendapatkan jawaban yang pasti. Mengapa olah raga rakyat yang mungkin memiliki penggemar paling banyak dibandingkan dengan olah raga lain di Indonesia ini seperti tak pernah lepas dari masalah?

Ya, di satu sisi organisasi PSSI yang bolak balik kisruh, di sisi lain jumlah penggemar sepak bola ataupun pendukung sepak bola nasional (atau Timnas Indonesia) rasanya tak pernah berkurang. Terbukti dengan penuhnya Stadion Gelora Bung Karno jika Timnas bermain di sana dalam laga-laga internasional.

Dalam skala daerah lebih jelas lagi terlihat, pendukung tim sepak bola daerah fanatismenya luar biasa. Siapa tak kenal Bonek-nya Persebaya, Viking-nya Persib, Jakmania-nya Persija dan “fans club” lainnya di Indonesia. Kecintaan dan dukungan cukup banyak orang Indonesia yang rela antri tiket berdesak-desakan, kehujanan, mengeluarkan sejumlah rupiah yang tidak sedikit untuk membeli tiket dan akomodasi agar bisa mendukung tim kesayangan, tidak perlu diragukan lagi.

Tapi mengapa kecintaan dan kepedulian yang begitu besar seperti tidak berpengaruh pada PSSI? Apa yang salah? Adakah yang perlu dipersalahkan? Beberapa waktu lalu saat pertandingan kualifikasi Piala Asia U-23 di gelora Bung Karno antara Timnas Indonesia melawan Korea Selatan, GBK sempat bergemuruh dengan teriakan supporter, bukan sorakan kemenangan (karena dalam pertandingan ini Indonesia dikalahkan Korsel 0-4 dan gagal melaju ke putaran final di Qatar), tetapi teriakan “Revolusi…Revolusi…Revolusi… PSSI!”

Benarkah PSSI harus direvolusi? Benarkah PSSI harus berubah? Sampai detik ini rasanya masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang peduli pada sepak bola Indonesia, pada tim nasionalnya, pada PSSI. Sudah waktunya kesetiaan ini dibalas dengan kinerja yang baik dari PSSI yang ujungnya diharapkan menjadi awal dari prestasi sepak bola Indonesia.

Mari kita analogikan PSSI dengan sebuah perusahaan. Sebagai sebuah organisasi , PSSI juga memiliki pengelola, tim manajemen, produk yang dihasilkan, memiliki “karyawan” dalam hal ini pemain sepak bola dari tim-tim di bawah naungan PSSI, dan juga memiliki “pelanggan” dalam hal ini pencinta sepak bola Indonesia.

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel tentang karyawan yang memutuskan untuk berhenti bekerja atau pindah ke perusahaan lain. Penulisnya berargumen bahwa sesungguhnya alasan orang keluar dari suatu perusahaan bukan karena perusahaannya, tetapi karena manajer atau pemimpin di perusahaan tersebut.

Walaupun pastinya tidak secara gamblang karyawan tersebut menyampaikan alasannya, tetapi jika jawabannya adalah “komunikasi kurang bagus”, “jenjang karier tidak jelas”, bukankah tanggung jawab seorang manajer atau pemimpin untuk memastikan komunikasi di organisasinya berjalan baik, ada jenjang karier yang jelas bagi setiap karyawan?

Di sisi lain, pelanggan juga bisa saja beralih ke produk pesaing karena nilai tambah yang diberikan kalah menarik dari yang ditawarkan pesaing. Dari sisi karyawan, pemain sepak bola Indonesia, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, sudah ada yang lebih memilih bermain pada liga di luar Indonesia, dengan berbagai alasan dan mungkin bisa jadi salah satunya adalah untuk mendapatkan atmosfir persepakbolaan yang lebih baik agar bisa bermain dan berprestasi dengan lebih baik juga.

Walaupun rasanya Indonesia tidak akan kehabisan pemain, tetapi dengan fakta sulitnya “menemukan” 11 pemain terbaik dari ratusan juta rakyat Indonesia, kita tentunya tidak ingin pada satu titik nantinya sebagian besar putra-putra terbaik bangsa di bidang sepak bola ini lebih memilih berkarya di negeri orang.

PSSI sebagai organisasi membutuhkan pemimpin, manajer, pengelola, tim manajemen yang mampu membuat pemain dan pecinta sepak bola Indonesia tetap setia. PSSI sebagai organisasi sudah waktunya untuk berubah. Apa yang harus diubah? PSSI harus bisa menghasilkan “produk” yang menarik agar pemain dan pencinta sepak bola tidak lari ke pesaing. Permainan sepak bola yang menarik dan berkualitas pada akhirnya berujung pada prestasi.

Bagi penggemar sepak bola kadang permainan menarik dengan daya juang yang maksimal walaupun hasil akhirnya adalah kekalahan sudah cukup membuat mereka memberi apresiasi pada suatu tim. Walaupun pasti tidak menolak jika mendapat bonus kemenangan atau juara. Apresiasi dari penonton, klub/tim maupun dari PSSI sebagai organisasi juga akan berpengaruh pada kesetiaan pemain.

Agar bisa menghasilkan “produk” semacam itu tampaknya perlu ada perubahan yang mendasar, dan agar dapat terlaksana dengan cepat, tuntas dan berkelanjutan, dibutuhkan kemampuan untuk mengelola perubahan.

John P. Kotter seorang pakar kepemimpinan dan perubahan, dalam bukunya Leading Change, menyampaikan 8 langkah yang harus dilakukan dalam proses perubahan. Delapan langkah yang jika salah satunya saja tidak dilewati hanya akan menghasilkan illusion of speed, alias perubahan yang tidak memuaskan. Kedelapan langkah tersebut adalah:

  1. Establishing A Sense of Urgency. Kisruh berkepanjangan, prestasi yang jalan di tempat. Situasi yang sudah sangat mendesak untuk mengawali sebuah proses perubahan.
  2. Creating A Guiding Coalition. Dengan kondisi yang seperti ini dibutuhkan kerja sama yang baik, tidak hanya di dalam internal PSSI sebagai organisasi, tetapi juga dibutuhkan dukungan dari pecinta sepak bola dan juga pemerintah. Kongres Tahunan PSSI Januari lalu salah satunya menghasilkan keputusan membentuk Ad Hoc Sinergi yang bertugas untuk memaksimalkan sinergi antara sepak bola dengan negara. Sebuah langkah awal yang baik.
  3. Developing A Vision and Strategy. PSSI memiliki visi PSSI 2020, yaitu “Membangun sepakbola Indonesia modern yang ditopang oleh organisasi yang dikelola secara profesional dan berorientasi pada kualitas dan prestasi tinggi menuju industri sepakbola dan pentas dunia”. Rasanya visi ini sudah cukup menantang untuk menjadi dasar dari diterapkannya strategi untuk berubah menjadi lebih baik.
  4. Communicating the Change Vision. Visi dikomunikasikan semaksimal mungkin, menggunakan semua saluran. Tidak hanya ke internal PSSI, tapi juga ke seluruh rakyat Indonesia. Agar semua elemen dapat bekerja sama bahu-membahu menjaga jalannya perubahan. Saat ini berapa banyak rakyat Indonesia yang tahu visi, strategi dan program-program PSSI? Saya yakin jawabannya: sangat sedikit.
  5. Empowering Employees for Broad-Based Action. Mengatasi berbagai rintangan yang dapat memantapkan pengalaman dalam mengelola perubahan agar dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk melakukan perubahan. Perlu ada program-program untuk mewujudkan hal ini
  6. Generating Short-Term Wins. Perubahan pada umumnya tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, dibutuhkan tahapan-tahapan untuk memberi tanda sudah sampai mana proses perubahan yang dijalankan. Secara konsisten menciptakan, mengevaluasi, dan merayakan kemenangan-kemenangan kecil dalam bentuk, misalnya, pemberian penghargaan agar semangat para agen-agen perubahan ini dapat terus dijaga agar tidak redup, juga menyelaraskannya dengan tujuan akhir. Jangan lupa juga untuk mengkomunikasikan kemenangan-kemenangan kecil ini kepada semua pihak.
  7. Consolidating Gains and Producing More Change. Sebelum visi terwujud, perubahan jangan berhenti dilakukan. Satu visi terwujud, lanjutkan dengan visi yang baru yang lebih menantang.
  8. Anchoring New Approaches in the Culture. Jadikan perubahan sebagai budaya. Tunjukkan hubungan yang jelas antara perilaku yang baru dengan kesuksesan organisasi, agar semua pihak makin meyakini pentingnya berubah dan bersama-sama terus menjalankan perubahan, dan pada akhirnya perubahan menjadi budaya di dalam organisasi

Bisakah PSSI berubah? Januari lalu sudah dilaksanakan kongres tahunan PSSI yang diantaranya menghasilkan rencana kerja PSSI satu tahun ke depan. Tanggal 18 April 2015 dijadwalkan menjadi saat dilaksanakannya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.

Dalam KLB PSSI akan dipilih ketua umum, wakil ketua dan komite eksekutif PSSI. Orang-orang yang akan berperan besar dalam proses perubahan PSSI dan sepak bola Indonesia 4 tahun mendatang. Mari kita doakan agar KLB berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang dapat menjadi agen perubahan. Pemimpin yang mampu membuat “karyawan”-nya setia pada PSSI dan sepak bola Indonesia.

Selain mendoakan tugas kita sebagai rakyat Indonesia sebagai “pelanggan-nya” PSSI, yang masih peduli pada prestasi sepak bola nasional adalah ikut serta sebagai pelaku perubahan sekaligus mengawasi jalannya perubahan tersebut. Pekerjaan rumah pengurus baru tentunya tidak mudah, tetapi dengan dukungan dan keterlibatan semua elemen sepak bola Indonesia, yang sulit bisa jadi mudah dan menyenangkan untuk dijalani.

Bravo Sepak Bola Indonesia! Salam Perubahan!

Tulisan dimuat Business Review online, 19 April 2015.

Foto Aya crpMulyawati, S.S., M.M.
Consultant PPM Manajemen – PPM Consulting
AYA@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s