3 Kesalahan Memilih Manajer

3 kesalahan memilih manajerKepantasan beberapa nama yang ditunjuk pemerintah untuk menempati posisi direksi dan komisaris sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperdebatkan.

Sejumlah pihak menganggap bahwa kementerian BUMN telah melanggar praktik pemerintahan yang baik dengan menunjuk orang-orang yang tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengisi posisi strategis di beberapa perusahaan pelat merah.

Lebih jauh, menurut menurut mereka jabatan strategis semestinya tidak diisi dengan orang-orang yang coba-coba. Jika tetap dipaksakan, maka hasilnya juga pasti coba-coba.

Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri BUMN Rini M. Soemarno juga sudah berupaya menjelaskan bahwa direksi dan komisaris yang ditunjuk adalah orang-orang yang sudah teruji integritasnya serta memiliki pendidikan dan pengalaman yang memadai. Integritas adalah yang paling penting, terutama untuk jabatan komisaris karena merekalah nanti yang akan menjadi pengawas jalannya perusahaan.

Penjelasan tersebut ternyata tidak menyurutkan perdebatan. Apalagi akhir-akhir ini beberapa media masa memberitakan adanya komisaris BUMN terpilih, padahal yang bersangkutan pernah tersandung masalah Korupsi. Jika integritas adalah yang paling penting, kenapa orang dengan kasus korupsi bisa lolos?

Informasi yang ada memang masih simpang siur. Namun jika hal itu benar, maka pertanyaannya adalah apakah proses penyaringan direksi dan komisaris yang dilakukan pemerintah selama ini sudah dilakukan dengan tepat?

Sebenarnya kalau coba kita telaah lebih jauh, pergantian manajer mulai dari level terendah, seperti supervisor atau bahkan lurah, sampai ke level tertinggi seperti direksi, komisaris dan bahkan menteri, adalah hal yang lumrah terjadi.

Penyebab pergantian itu bisa bermacam-macam. Bisa karena manajer yang lama mendapat promosi, masa jabatannya habis, ataupun sengaja diberhentikan dengan alasan tertentu. Sebagai konsekuensinya posisi manajerial yang ditinggalkan akan diisi oleh orang baru yang dipilih oleh manajemen puncak (top management) ataupun pemegang saham.

Namun sering kali hasil penunjukkan manajer baru menimbulkan pro dan kontra. Ada pihak yang setuju dengan pilihan manajemen puncak/pemegang saham tersebut. Mereka merasa bahwa pilihan manajemen puncak sudah pas. Orang yang dipilih adalah orang yang sudah teruji secara pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan perilaku. Oleh sebab itu pantas ditempatkan sebagai manajer.

Di sisi lain, sering juga ditemui adanya pihak yang tidak puas dengan pilihan manajemen puncak/pemegang saham tersebut. Reaksi ketidaksetujuan itu bisa terlihat dari perilaku diam, sinis, dan bahkan ada juga ada yang secara aktif mempertanyakan dasar pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen puncak/pemegang saham.

Ya, memutuskan siapa yang akan diangkat menjadi manajer adalah salah satu tugas teramat penting dari manajemen puncak/pemegang saham. Jika keputusan yang diambil tepat, maka akan berdampak positif bagi kinerja perusahaan. Namun jika salah, biaya yang ditimbulkan tidak sedikit. Mulai dari biaya yang tidak tercatat, seperti opportunity cost dan penurunan moral karyawan, sampai biaya yang tercatat, seperti biaya business turnaround dan bahkan mungkin biaya untuk menutup usaha.

Risiko ini sepertinya sudah cukup disadari oleh para pengambil keputusan (manajemen puncak/pemegang saham). Namun anehnya kesalahan pemilihan manajer tetap terjadi. Parahnya, akibat kesalahan itu sering tidak bisa teridentifikasi secara cepat. Efek yang ditimbulkan baru terlihat beberapa waktu kemudian, yakni ketika kinerja perusahaan menurun.

Secara mekanisme, kesalahan pengambilan keputusan bisa di trace back dari proses pengambilan keputusan yang dijalankan. Apakah dalam pengambilan keputusan tersebut semua informasi yang relevan sudah dikumpulkan dan semua alternatif sudah dipertimbangkan? Ini baru dari sisi proses pengambilan keputusan.
Selain itu, cara berpikir yang kurang tepat juga bisa mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan. Apa saja cara berpikir yang kurang tepat tersebut?

1. Pertimbangan politis melebihi persyaratan baku yang sudah ditetapkan
Seringkali untuk jabatan manajer publik, unsur politis banyak bermain. Sebetulnya hal ini tidak aneh dan secara logika berpikir pun bisa diterima. Pengambil keputusan tentu saja akan cenderung memilih orang-orang yang memiliki loyalitas dan kedekatan secara ideologis dengan dirinya. Namun menjadikan politik sebagai pertimbangan utama di atas persyaratan baku pengangkatan yang sudah ditetapkan tentu saja tidak bijak.

Dalam kasus BUMN, sebagaimana diulas sebelumnya, persyaratan dan tata cara pengangkatan dewan komisaris dan direksi BUMN sudah diatur dalam Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-P2/MBU/02/2015 dan PER-03/MBU/02/2015. Di sana dinyatakan bahwa anggota direksi dan dewan komisaris harus memenuhi persyaratan formal, materiil dan lainnya.

Persyaratan formal adalah menyangkut kecakapan dalam perbuatan hukum. Persyaratan materiil diantaranya menyangkut aspek integritas, dedikasi, keahlian, pengetahuan dan pengalaman. Persyaratan lain diantaranya mengatur bahwa anggota direksi dan dewan komisaris tidak boleh terafiliasi dengan partai politik tertentu.

Masyarakat awam mungkin tidak mengetahui semua proses yang sudah berjalan. Pihak yang paling tahu tentu saja adalah pengambil keputusan. Jika memang seluruh anggota direksi dan komisaris yang terpilih sudah memenuhi persyaratan tersebut di atas, maka tentu saja tantangannya adalah mengkomunikasikan hal itu secara jelas ke masyarakat sehingga perdebatan tidak menguras energi semua pihak. Namun jika dulu ketika proses pemilihan yang diutamakan adalah politis, maka mungkin perlu ada tindakan korektif.

2. Menjadi manajer karena memang sudah gilirannya
Terjadi dibanyak perusahaan bahwa penunjukkan manajer berdasarkan jatah atau sistem urut kacang. Seseorang diangkat jadi manajer karena memang dia dirasa sudah cukup senior dan sudah waktunya naik jadi manajer. Padahal, lama kerja tidak menjamin bahwa seseorang akan menjadi seorang manajer yang andal.

Ada orang yang berpengalaman, ada juga yang berpenglamaan. Harusnya yang dipilih adalah yang sudah berpengalaman dan memiliki kompetensi yang memadai. Sedangkan berpenglamaan artinya orang tersebut sudah lama di suatu posisi, tapi kompetensinya tidak berkembang.

3. Bias
Ada beberapa bias dalam berpikir yang sering mengganggu keobjektifan dalam pemilihan manajer. Diantaranya adalah “hallo effect,” yakni pola pikir menggeneralisasi salah satu karakter yang dimiliki seseorang. Hanya karena melihat orang itu memiliki salah satu karakter yang dicari maka pengambil keputusan kemudian menganggap bahwa semua karakter sang calon sudah baik.

Disamping itu juga ada “similar to me error,” yakni menilai lebih untuk orang tertentu karena memiliki karakteristik yang relatif sama dengan pengambil keputusan. Manajemen puncak/pemegang saham yang mengalami similar to me error akan cenderung memilih manajer yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu dengan dirinya walaupun orang tersebut belum tentu kompeten.

Terakhir adalah stereotyping, yakni menggeneralisir sekelompok orang dengan cara memberi label karakteristik tertentu pada semua anggotanya. Misalnya memandang bahwa orang Jawa rajin bekerja, sementara orang melayu cenderung malas.

Tentu saja stereotyping tidak dapat dibenarkan dan dipertanggungjawabkan. Jika pengambil keputusan memiliki stereotype tertentu maka dia akan mengabaikan orang tertentu hanya karena orang tersebut berasal dari kelompok yang memiliki label negatif di mata si pengambil keputusan.

Itulah tiga kesalahan dalam cara berpikir yang bisa mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan. Disamping memperbaiki mekanisme pengambilan keputusan, memahami tiga kesalahan berpikir tersebut dan berusaha untuk menghindarinya akan sangat membantu para pengambil keputusan untuk memilih personil yang tepat sebagai manajer.

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 19 April 2015.

WendraWendra.
Pengajar dan Konsultan di PPM Manajemen
WEN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s