Employee Engagement

Employee-Engagement“Karyawan yang sudah kerja 15 sampai 20 tahun hanya diupah Rp 7 juta. Mana adil itu,” ujar salah satu anggota Serikat Pekerja salah satu perbankan beberapa waktu yang lalu di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), Jakarta.

“Pokoknya saya sudah tidak betah nih kerja di perusahaan saya saat ini. Manajemennya payah. Lingkungan kerja pun sudah nggak nyaman,” ujar rekan yang kerja di salah satu rumah sakit besar di wilayah Kebayoran.

Namun demikian, tidak sedikit pula karyawan yang merasa betah, bangga, dan bahkan semangat kerjanya tinggi sehingga selalu memberikan kontribusi nyata kepada perusahaannya. “Saya bersyukur bekerja di perusahaan ini, karena suasana kerjanya menyenangkan, manajemennya bagus, sehingga saya bisa memberikan kontribusi optimal kepada perusahaan,” ucap seorang karyawan di salah satu perusahaan trading.

Perusahaan sebagai organisasi memiliki ketergantungan yang saling terkait dengan individu dalam perusahaan itu sendiri. Karyawan sebagai individu dalam perusahaan merupakan bagian dari struktur organisasi yang memiliki peranan besar dalam menentukan tercapainya tujuan perusahaan. Kinerja karyawan merupakan dasar bagi pencapaian kinerja dan prestasi perusahaan, sehingga pengelolaan karyawan sebagai sumber daya yang potensial merupakan tugas utama manajemen.

Pengelolaan sumber daya manusia menjadi sangat penting karena perusahaan dapat mencapai kinerja yang diharapkan serta memiliki keunggulan kompetitif ketika orang didalamnya melakukan apa yang terbaik dari mereka, apa yang mereka senangi serta kuatnya faktor kepemilikan secara psikologis dalam melaksanakan dan memberi hasil pada pekerjaan mereka, semua hal tersebut menjadi faktor motivasi karyawan (Poppy Veronica, 2008).

Karyawan yang puas dan termotivasi akan peduli, merasa memiliki, atau mengabdikan diri terhadap bisnis organisasi secara maksimal dan bekerja secara tim untuk meningkatkan performance bagi organisasi.

Menurut T. Hani Handoko bahwa keterikatan karyawan (employee engagement) terhadap perusahaan menjelaskan seberapa besar seseorang merasa bergairah (passion) dan merasa senang (excitement) dalam bekerja.

Karyawan yang merasa terikat adalah yang merasa benar-benar terlibat dan memiliki antusias akan pekerjaan dan organisasinya. Keterikatan adalah kemauan dan kemampuan untuk berkontribusi terhadap keberhasilan perusahaan, yakni pada kondisi karyawan mau berupaya keras menuntaskan pekerjaannya, kalau perlu dengan lembur, menggunakan segenap pikiran dan energinya.

Keterikatan karyawan atau sering disebut Employee Engagement adalah sebuah pernyataan psikologis dimana karyawan merasa tertarik untuk ikut menentukan kesuksesan perusahaan serta memiliki keinginan dan motivasi kuat untuk berkinerja melebihi kewajibannya (Ajai Singh, master trainer Transformasi Indonesia). Institute of Employee Studies (2004) mendefinisikan employee engagement adalah suatu sikap positif dari karyawan terhadap organisasi tempat dirinya bekerja.

Employee Engagement pertama kali diperkenalkan oleh kelompok peneliti Gallup pada tahun 2004. Employee engagement telah diklaim dapat memprediksikan peningkatan produktivitas karyawan, profitabilitas, mempertahankan karyawan, kepuasan konsumen serta keberhasilan bagi organisasi. Beberapa penelitian terdahulu menjelaskan dampak employee engagement pada individu. Employee engagement mempengaruhi kualitas kerja karyawan, meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi jumlah ketidakhadiran karyawan dan menurunkan kecenderungan untuk berpindah pekerjaan.

Hal ini disebabkan karena karyawan yang memiliki derajat engagement yang tinggi akan memiliki keterikatan emosi yang tinggi pada organisasi. Keterikatan emosi yang tinggi mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan (cenderung memiliki kualitas kerja yang memuaskan) dan akan berdampak pada rendahnya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan/perusahaan.

Harus dibedakan antara engagement dan loyalitas. Engagement diukur dari hasil kerja, sementara loyalitas diukur dari masa kerja. Orang yang loyal terhadap perusahaan belum tentu engagement-nya tinggi. Dengan terciptanya employee engagement, kekhawatiran perusahaan terhadap talent war atau pembajakan talented people dalam organisasi akan sirna dan produktivitas perusahaan akan meningkat sehingga meningkatkan daya saing perusahaan serta menjamin keberlangsungan bisnis perusahaan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen (2013) menunjukkan bahwa faktor-faktor pendorong keterikatan karyawan (employee engagement) di antaranya adalah suasana kerja yang menyenangkan, gaji dan benefit yang kompetitif, kesempatan karir yang jelas, sedangkan yang membuat karyawan mengundurkan diri dari perusahaan adalah kurangnya kesempatan untuk berkembang, hilangnya kepercayaan karyawan kepada pimpinan, pekerjaan tidak sesuai dengan harapan, dan lingkungan kerja tidak sesuai harapan.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda merasa terikat (engage) terhadap perusahaan? Apakah Anda  selalu melakukan sesuatu lebih baik dari apa yang diharapkan perusahaan? Apakah Anda merasa bangga untuk mengatakan kepada orang lain bahwa Anda adalah karyawan perusahaan saat ini? Apakah pekerjaan Anda saat ini sesuai dengan kompetensi Anda? Apakah Anda sering memberikan saran-saran untuk meningkatkan kinerja tim Anda? Apakah Anda merasa puas dengan kredibilitas jajaran direksi, atasan langsung, serta kompensasi dan benefit perusahaan?

Jika semua jawaban di atas adalah “ya”, maka Anda salah satu karyawan yang memiliki keterikatan terhadap perusahaan. Jika jawabannya “tidak”, maka sebaiknya Anda berpikir untuk mencari perusahaan lain yang sesuai dengan harapan Anda. Namun, untuk mendapatkan pekerjaan baru tentunya tidak semudah yang kita bayangkan. Serangkaian proses yang harus dilalui tidak segampang yang kita bayangkan. Belum lagi sejumlah “pesaing” untuk mendapatkan pekerjaan yang sama-sama kita harapkan tidaklah sedikit, bisa jadi lebih dari ribuan pelamar yang akan jadi “pesaing” kita untuk mendapatkan pekerjaan yang kita harapkan.

Oleh karena itu, langkah “termudah” yang harus kita lakukan adalah jadilah yang terbaik di bidang pekerjaan yang kita tekuni saat ini. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah sikap mental. Tanamkan dalam diri kita untuk selalu ingin menjadi yang terbaik. Tingkatkan selalu kualitas kinerja kita dengan terus meningkatkan kompetensi kita dengan banyak membaca, belajar dari rekan yang terbaik, melatih diri dan mengevaluasi diri, atau mempraktikan kompetensi dan pengalaman kita kepada bawahan atau rekan kerja.

Sebaliknya, Anda sebagai pemilik atau pimpinan perusahaan juga harus selalu mewaspadai perilaku karyawannya apakah banyak yang menjawab “ya” atau “tidak”. Lakukanlah selalu perbaikan terhadap sistem dan prosedur sumber daya manusia saat ini, kebijakan organisasi, serta perilaku para pemimpin dan iklim kerjanya yang dapat berdampak pada karyawan untuk selalu memberikan kontribusi positif terhadap perusahaan.

*Tulisan dimuat Business Review online, 25 April 2015

Foto-PASIr. Priatna Agus Setiawan, M.M
Consultant PPM Manajemen – PPM Consulting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s