Pekerja adalah Aset, Perusahaan adalah yang Utama

mayday 2015Tepat tanggal 1 Mei seluruh dunia merayakan Hari Buruh yang sering disebut dengan May Day. Peringatan ini berawal dari perjuangan para buruh di era revolusi industri untuk memperjuangkan kondisi kerja yang lebih manusiawi.

Seiring berjalannya waktu, bahkan buruh menjadi satu elemen/ lapisan tersendiri dalam tatanan masyarakat. Bahkan dibeberapa kondisi, buruh seolah-olah menjadi satu kekuatan yang ‘menakutkan’.

Permasalahannya pun selalu itu-itu saja. Tuntutan mereka dalam demonstrasi yang sering kita saksikan juga selalu itu-itu saja; kesejahteraan atau kondisi hidup yang lebih layak, masih sangat mendasar, bahkan kadang tidak jauh dari ‘urusan perut’. Berikut ini adalah persepektif penulis untuk mengajak kita memiliki paradigma baru dalam persoalan terkait buruh ini.

Semua Hanyalah Masalah Persepsi dan Komunikasi

Persepsi merupakan salah satu unsur terpenting dalam suatu pola hubungan. Perasaan cinta, senang, jengkel, benci terhadap seseorang atau pihak lain sebenarnya tidak lebih dari persepsi semata. Persepsi tersebut terkadang menjadi sebuah ekspektasi jika kita memiliki kepentingan terhadap seseorang atau pihak lain tersebut. Ilustrasinya ialah jika memandang seorang wanita dan menurut kita wanita tersebut cantik, maka hal tersebut adalah persepsi.

Persepsi antar seseorang tidaklah sama. Bisa jadi rekan kita yang lain tidak berpandangan bahwa wanita tersebut tidaklah secantik yang kita nilai. Ya, setiap orang memiliki persepsinya masing-masing. Karena kita sudah lama tidak memiliki pacar, maka kita mulai berekspektasi untuk bisa memiliki hubungan kasih dengan orang tersebut. Sejak saat itupun perjuangan terus dilakukan atau sering disebut dalam bahasa kekinian sebagai ‘Pendekatan atau PDKT’.

Ilustrasi di atas sebenarnya adalah sudut pandang mudah memandang problematika hubungan buruh dan pemberi kerja (sering disebut sebagai pemilik usaha, pengusaha, manajemen, dlsb). Kondisi kerja dipersepsikan oleh buruh selalu kurang, kurang, dan kurang. Sementara di sisi lain bagi pemberi kerja atau pemilik usaha seringkali buruh selalu dipersepsikan sebagai beban atau masalah saja.

Perbedaan persepsi inilah yang menjadi akar dari kenapa demonstrasi buruh selalu terjadi seolah tidak akan pernah ada habisnya. Menjadi semakin bermasalah ketika persepsi antar pihak tersebut tidak pernah dikomunikasikan secara tepat.

Tepat yang dimaksud dalam hal ini ialah terjadinya proses dialog yang menguntungkan kedua belah pihak tanpa tekanan, kekerasan apalagi penindasan. Apakah sudah tersedia secara cukup? Apakah semua pihak mau merendahkan hati untuk buka ruang berkomunikasi? Penyamaan persepsi adalah solusi utama dan komunikasi adalah prasyaratnya.

Karena ini adalah persoalan persepsi, maka ijinkan penulis untuk selanjutnya menggunakan kata ‘pekerja’ ketimbang ‘buruh’. Kenapa demikian? Definisi buruh sebenarnya memiliki arti tidak terlalu positif dan cenderung memposisikan golongan ini dalam status yang lebih rendah.

Dalam bahasa Indonesia buruh diartikan sebagai ‘orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah’ (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke-IV) dan dalam bahasa Inggris sendiri cenderung diartikan sebagai ‘pekerja, terutama fisik’ (sumber: Oxford Advanced Dictionary 7th Edition).

Arti yang lebih luas, netral, dan positif sebenarnya ialah “orang yang bekerja” sehingga padanan “pekerja” menjadi lebih tepat. Presiden secara konstitusi sendiri adalah pengemban tugas dari rakyat. Mana yang lebih positif tanpa mengurangi maknanya, antara: Presiden adalah buruh rakyat atau Presiden adalah Pekerja Rakyat?

Ciptakan Sistem yang Baik dan Teruslah Berkontribusi

Kembali lagi, karena ini persoalan persepsi, maka penulis akan coba memberikan formula persepsi yang menjadi solusi. Bagi anda yang merasa sebagai pihak pemberi kerja, coba tanamkan persepsi bahwa Pekerja adalah Aset! Mereka bukan beban, bukan juga masalah, apalagi musuh.

Justru karena merekalah perusahaan kita bisa tetap berjalan. Jika kita mengganti semua proses produksi dengan mesin canggih dan otomatis sekalipun, kita masih tetap membutuhkan bantuan mereka.

Sekarang mari kita perluas persepsinya, bahkan mereka bisa menjadi keunggulan kompetitif kita. Banyak sekali perusahaan di dunia ini yang menjadikan pekerja sebagai keunggulan kompetitif.

Di dunia ini siapa tidak mengenal Google, Toyota, Microsoft, IBM, Starbucks. Coba Anda simak bagaimana mereka menganggap bahwa keunggulan mereka ya berada pada pekerja-nya, bukan berada pada mesin yang mereka miliki. Di Indonesia pun, perusahaan-perusahaan sekelas Astra memiliki persepsi yang sama terhadap pekerjanya. Kenapa Anda tidak demikian?

Ketika perusahaan memiliki persepsi pekerja adalah aset, maka mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk membuatnya menjadi sesuatu yang sangat utama dan berhati-hati untuk perlakuan terhadapnya.

Sederhananya, bahkan ditunjuk direksi yang bisa memberikan arahan dan kebijakan khusus untuk menangani hal ini. Bandingkan dengan perusahaan yang masih mempercayakan urusan pekerja ini pada departemen yang bahkan hanya diberi nama personalia, itupun hanya diasuh oleh tingkat manajer.

Selain itu, jika kita berpersepsi pekerja adalah aset maka kita lebih berpikir bahwa uang yang kita keluarkan kepada mereka adalah ‘Investasi’ ketimbang ‘Biaya’.  Jika Anda berinvestasi, maka Anda tidak akan pelit, karena orang pelit untungnya pastilah sedikit.

Anda juga akan berhati-hati dan tidak gegabah, karena ada faktor risiko yang selalu menyertai proses pencapaian imbal baliknya. Investasi pada pekerja pun seperti itu: tidak boleh pelit dan tidak boleh gegabah.

Untuk memastikan bahwa Anda bukan termasuk yang pelit dan gegabah bisa dilakukan dengan penciptaan sistem yang baik. Ciptakan suatu sistem pengelolaan pekerja yang bukan hanya memandang mereka sebagai sumber daya tetapi juga modal utama (from human resources management system becoming human capital perspective).

Pendekatan pengelolaan yang berbasis kompetensi bisa menjadi salah satu solusi. Bayangkan Anda memiliki suatu standar kompetensi yang harus dimiliki oleh semua elemen pekerja dalam perusahaan.

Ketika anda sudah memiliki standar tersebut, maka semua sistem pengelolaan akan berbasis kepada pencapaian kompetensi tersebut. Dimulai dari rekrutmen dan seleksi, anda akan mencari pekerja yang memenuhi kompetensi tertentu, ketimbang hanya asal merekrut saja.

Begitupun dengan sistem imbal jasa dan penilaian kinerjanya. Pekerja akan dibayar sesuai dengan kinerja yang dicapainya dan semua mengacu kepada kompetensi tersebut. Untuk mencapai kinerja yang unggul, pekerja pasti juga perlu dilatih dan dikembangkan sedemikian rupa.

Dengan mengacu kepada kesenjangan kompetensi yang dimiliki pekerja maka akan lebih mudah bagi anda untuk membuat rencana pengembangan dan pelatihan.  Bukankah sistem ini menjadi adil bagi semua pihak?

Sistem yang disusun juga harus selaras dengan strategi organisasi. Terkadang ada kesenjangan yang cukup besar antara target pencapaian organisasi dengan target pencapaian individu. Sering ditemui kondisi, semua pekerja telah bekerja dengan baik atau berprestasi, tapi perusahaan tetap saja rugi.

Biasanya hal tersebut terjadi karena target dari individu (pekerja) tidak selaras dengan target organisasi. Semua unsur ini (sistem, strategi, dan pekerja) saling terkait. Sehingga permasalahan di salah satu unsur akan menjadi masalah di unsur yang lain. Sebaliknya, perbaikan di salah satu unsur bisa menyelesaikan permasalahan di unsur yang lainnya.

Bagi anda yang merasa sebagai pihak pekerja, coba tanamkan persepsi bahwa jangan hanya selalu menuntut hak saja, tapi juga berpikir kembali ‘kontribusi apa yang sudah saya berikan kepada perusahaan?’. Sama seperti yang John F. Kennedy katakan “jangan tanyakan apa yang negara (perusahaan) bisa berikan kepada anda, tapi apa yang bisa anda berikan untuk negara (perusahaan)”.

Menuntut hak adalah suatu hal yang sah-sah saja, tapi sah juga jika perusahaan menuntut kinerja yang unggul dari anda. Keseimbangan antara apa yang harusnya dicapai (kewajiban) dengan apa yang akan diterima (hak) akan terjadi jika mau adil terhadap keduanya. Teruslah berpikir positif bahwa apa yang anda tuntutkan bukan merupakan fakta tunggal, tapi ada kaitannya dengan fakta lain (sebab-akibat).

Pada kasus gaji, misalkan, kenaikan biaya kebutuhan hidup mengakibatkan harapan kita akan kenaikan gaji akan mengikuti secara linier. Akan tetapi biaya kebutuhan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lain yang dilalah-nya juga menekan perusahaan sehingga harus melakukan penghematan. Jangan ‘memakai kacamata kuda’ dan seolah tutup mata dengan kondisi yang menekan perusahaan itu tersebut.

Kepentingan Perusahaan Menjadi yang Utama

Perubahan persepsi pada kedua belah pihak (pemilik kerja dan pekerja) yang dikomunikasikan secara intensif akan melahirkan suatu paradigma baru, yaitu: apapun keputusan yang diambil kepentingan perusahaan menjadi yang utama. Pemilik kerja selalu berupaya untuk berpikir langkah memajukan perusahan, dan pekerja menjadi elemen terpenting daripadanya.

Pekerja pun akan selalu berupaya untuk berpikir apa kontribusi yang bisa diberikan untuk memajukan perusahaan. Semua disatukan oleh satu tujuan bersama, tujuan memajukan perusahaan. Kalau tidak memiliki paradigma tersebut dalam perusahaan, yang terjadi kita lebih sibuk bersaing melawan antar pihak dalam organisasi ketimbang bersaing melawan pesaing dari perusahaan kita.

Jangan bicarakan perusahaan kita akan maju, wong didalam saja kita masih sibuk berperang. Jangan bicarakan kenaikan gaji, wong produk kita tidak laku karena kalah bersaing dengan kompetitor.

Jika saja perubahan paradigma tersebut telah tertanam secara kuat maka tuntutan yang khas pada hari buruh dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi mungkin akan sangat jarang kita temui dan menjadi suatu bentuk perayaan sukacita dalam bentuk parade-parade.

Selamat merayakan hari buruh (pekerja)!

*Tulisan dimuat Business Review online, 30 April 2015.

Kokoh Ronald blogKokoh Ronald Aruan, ST, MM, CSCP
Kepala Divisi Konsultansi & Riset PPM Manajemen (PPM Consulting)
KRA@ppm-manajemen.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s