Saat Tepat untuk Pertajam Model Bisnis

Business-PlanSemua orang sepakat bahwa kunci sukses dalam persaingan era Masyarakat Ekonomi ASEAN tak lain adalah daya saing yang kuat. Dengan memiliki sebuah keunggulan baik dari segi merek, kualitas maupun harga produk besutan perusahaan akan mampu bersaing dengan produk asing dari beberapa negara tetangga.

Alhasil hampir seluruh produsen domestik kini tengah berjuang untuk mempercepat terciptanya sebuah rumusan daya saing. Ini berarti perusahaan membutuhkan satu metodologi yang tepat. Kriteria ketepatan tersebut ada pada sisi obyektivitas, dinamis serta kemampuan memetakan perubahan operasi bisnis dari hulu ke hilir.

Model bisnis

Salah satu metodologi yang dapat dijadikan alternatif adalah menyusun strategi berbasis model bisnis. Selain karena model mampu memberikan gambaran proses dari hulu ke hilir yang akan dilakoni perusahaan baik saat ini maupun masa depan, menyusun strategi dengan melihat sebuah model bisnis diyakini dapat mempersingkat waktu. Dengan demikian, perusahaan akan lebih dinamis dalam menghadapi turbulensi lingkungan.

Dua model yang lazim digunakan adalah balance score card dan business model canvas. Meski keduanya mempunyai perbedaan dari sisi fokus perhatian yang diberikan, namun dua-duanya memandang bisnis sebagai proses yang tak terputus dari back office hingga front office. Artinya, model meyakini bahwa untuk menghasilkan aliran kas masuk ke dalam perusahaan (baca; pendapatan) dibutuhkan dukungan back office, baik berupa kegiatan produksi maupun hal-hal yang bersifat administratif.

Dengan demikian saat manajemen memutuskan untuk melakukan efisiensi maka langkah memilah mana saja aktivitas yang termasuk dalam value added dan non value added akan sangat menentukan. Melalui cara pandang ini kita dapat menyimpulkan bahwa menomor-duakan aktivitas administrasi akan berujung pada instabilitas kinerja operasional perusahaan.

Hal utama yang membedakan rumusan model bisnis di tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah kejelian memandang elemen-elemen yang berpotensi mendatangkan aliran kas masuk lebih bagi perusahaan.

Sebagai contoh, jika beberapa tahun belakangan ini perusahaan lebih terfokus pada upaya menjadikan konsumen sebagai pelanggan, maka ke depan para pengelola wajib merumuskan upaya untuk melakukan regenerasi pasar melalui konsumen yang telah berhasil diakuisisi. Langkah peremajaan pasar ini yang selama sekian tahun banyak dilupakan oleh perusahaan.

Untuk jelasnya, kita dapat mengambil contoh problematika yang dihadapi koran-koran cetak nasional. Selama ini mereka lebih terfokus pada upaya peningkatan kualitas pemberitaan dan kurang memperhatikan pentingnya peremajaan segmen.

Boleh jadi kualitas meningkat secara signifikan, namun tanpa disadari hal tersebut diikuti oleh tersaringnya jumlah pembaca. Hanya kalangan dengan pendidikan tertentu yang mampu memahami berita-berita yang disajikan. Tidak demikian halnya dengan mereka di usia muda. Saat jumlah pelanggan berkurang karena faktor usia, barulah perusahaan sadar bahwa selama ini mereka lupa ‘mendidik’ calon konsumen masa depan.

Bercermin pada realitas itu, perusahaan kiranya perlu menyiapkan produk-produk untuk segmen pasar masa depan. Filosofi dasar yang digunakan adalah memandang produk sebagai value yang diberikan kepada konsumen.

Bila kita meminjam istilah Osterwalder dalam model bisnis canvas, produk harus disertai dengan value proposition yang kuat dan bersifat timeliness. Tapi kalau toh tidak dapat memenuhi kaidah long lasting, maka peninjauan pada model bisnis harus dilakukan secara periodik agar manajemen dapat menemukan hal-hal baru yang mampu meremajakan value proposition-nya.

Strategis dan praktis

Pada era MEA, value proposition tak dapat lagi hanya berupa sesuatu yang bersifat retorika seperti menyajikan produk terbaik bagi konsumen di segmennya. Melainkan harus berupa sesuatu yang strategis dan praktis. Contohnya; menyajikan produk yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan piranti teknologi untuk tahun 2015-2016.

Pada pernyataan tersebut tenggat waktu penggunaan value telah jelas (yakni dengan durasi dua tahun). Artinya manajemen perusahaan punya pekerjaan rumah besar di tahun 2015 yakni untuk menyiapkan value proposition di tahun 2017-2018. Makin dinamis perubahan yang terjadi maka makin singkat pula periode yang digunakan.

Hal berikutnya yang patut dicermati adalah pola komunikasi yang dibangun agar value proposition dapat tersampaikan secara efektif kepada konsumen. Tahun-tahun ini perusahaan meyakini bahwa membangun komunikasi yang efektif dengan pelanggan bukanlah hal yang mudah. Terlebih dengan pesatnya perkembangan teknologi internet yang memungkinkan terjadinya penyebaran informasi (termasuk strategi perusahaan) secara luas.

Alhasil mau tak mau pilihan untuk membangun komunitas pelanggan menjadi alternatif terbaik. Sebab dari komunitas jualah loyalitas dapat terbangun secara efektif.

Ketika tiga hal tersebut dapat dilakukan secara tepat, niscaya rumusan daya saing akan segera ditemukan. Siapkah kita dengan hal tersebut? Semoga.

*Tulisan dimuat majalah Pajak vol XIV Mei 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s