Seni Pemasaran Ala Gen Z

Gen Z

Pada era awal tahun 2000-an dunia disibukkan oleh ulah generasi milenium (mereka yang lahir di awal 80-an) yang memicu perkembangan teknologi informasi. Bagi generasi-generasi sebelumnya, menonton televisi sambil mengganti channel melalui remote adalah cikal-bakal kemalasan. Namun tidak demikian halnya dengan generasi ini.

Meski kecenderungan untuk bergantung pada otomatisasi sangat tinggi namun perlu disadari bahwa itu semua bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dimensi waktu tak lagi dipandang sebelah mata. Satuan menit dan detik merupakan hal yang begitu berarti. Tak jarang melalui otomatisasi yang berhasil diciptakan, para generasi milenium menghabiskan banyak waktu untuk berkarya. Inilah yang sebenarnya memicu pesatnya perkembangan industri kreatif.

Belum selesai dengan urusan generasi milenium, sejak 1994 lahirlah generasi yang dikenal dengan sebutan generasi Z, disingkat gen Z. Mereka lahir di tengah-tengah keberhasilan generasi milenium dalam menempatkan otomatisasi sebagai kebutuhan hidup.

Gadget sudah menjadi piranti wajib yang menemani manusia dalam melalui hari-harinya. Bahkan beberapa alat elektronik, seperti lampu senter dan radio kini telah digantikan oleh gadget. Perubahan-perubahan pun mulai terjadi secara cepat. Kehadiran buku (secara fisik) kini mulai digantikan oleh e-book.

Tak hanya itu, seiring dengan perkembangan teknologi internet, kini proses pertukaran pengetahuan dapat dilakukan tanpa mengenal batas-batas ruang dan waktu. Sehingga tanpa disadari, gen Z terlahir dalam lingkungan tersebut.

Jika di akhir 90-an pola komunikasi pemasaran lebih diarahkan pada iklan media televisi maka sejak 2010 pilihan jatuh pada internet mulai dari website hingga beberapa aplikasi yang melengkapinya, seperti YouTube, game online dan social media.

Kedekatan gen Z pada internet telah membuka wacana baru dalam dunia marketing. Pola-pola komunikasi konvensional kini mulai ditinggalkan. Meski demikian tidak mudah bagi produsen untuk segera beradaptasi dengan kondisi yang ada. Beberapa produk terlihat ‘dipaksakan’ untuk berkomunikasi dengan gen Z.

Satu bahan refleksi yang tepat adalah koran cetak. Meski mereka berupaya mendekatkan sajian berita pada gen Z, namun ketimpangan masih banyak terlihat. Misalnya pada bagian awal dan utama koran selalu menyajikan berita-berita politik-ekonomi-bisnis dan sosial dari sudut pandang wartawan.

Padahal yang dibutuhkan oleh gen Z adalah opini kaumnya dalam memandang realitas kehidupan. Sarana seperti ini hanya dapat diakomodir oleh social media. Belum lagi tuntutan gen Z untuk memperoleh berita saat diperlukan. Niscaya koran online jualah yang menjadi pilihan mereka.

Untuk mendekatkan diri pada gen Z, para pelaku industri perlu memperhatikan beberapa hal berikut. Pertama, gen Z dikenal menyukai efek ‘personalisasi’. Satu karakteristik utama mereka adalah tidak terlalu suka hal-hal yang umum.

Kata-kata seperti ‘konsumen yang terhormat’ buat mereka adalah suatu hal yang retoris. Sapaan langsung pada nama depan atau nama panggilan membuat peluang kedekatan sangat tinggi. Karenanya perusahaan perlu mencermati informasi yang dipublikasikan pada akun-akun social media mereka.

Efek personalisasi lainnya juga dapat dipicu dari hobi. Gen Z dikenal suka berkumpul bersama komunitasnya. Umumnya kelompok-kelompok ini muncul karena kesamaan hobi. Jika produsen mampu menjalin relasi khusus dengan komunitas-komunitas tersebut maka bukan mustahil para gen Z akan bertumbuh menjadi pelanggan setia produk seumur hidup. Dari merekalah perusahaan dapat memperoleh ide-ide pengembangan produk.

Tak hanya itu, komunitas juga dapat menjadi duta komunikasi pemasaran yang paling efektif. Kedua, jalinlah relasi khusus dengan komunitas gen Z tersebut baik secara offline, seperti melalui event, maupun secara online. Pahamilah bahwa sirkulasi informasi pada generasi ini berjalan 24 jam sehari.

Ibaratnya mereka membuka mata dengan gadget serta mengakhiri hari juga dengan gadget. Karenanya penggunaan sarana social media merupakan hal yang vital dalam membangun konsistensi komunikasi. Ini merupakan peluang emas bagi perusahaan sebab dengan demikian ia dapat ‘menemani’ kehidupan konsumen di setiap detiknya.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa social media tak lagi dapat dipandang sebagai sebuah alat, melainkan sarana yang efektif dalam menjangkau gen Z. Karenanya ini saat yang tepat bagi perusahaan untuk merancang strategi komunikasi pemasaran berbasis internet khususnya social media.

Bagi sebagian kalangan mengirimkan iklan promosi lewat e-mail dinilai efektif. Namun survei yang dilakukan YouTube di pertengahan tahun lalu menunjukkan bahwa 50 % responden menyatakan tak lagi membuka iklan dalam inbox e-mail mereka, apalagi yang mendiami spam. Mereka lebih menyukai testimoni para pengguna produk di social media sebelum mengambil keputusan untuk mengkonsumsi produk.

Terakhir, beberapa riset menyimpulkan bahwa gen Z menyukai hal-hal yang bernilai sosial tinggi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ini saatnya bagi perusahaan untuk memandang aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai investasi pemasaran masa depan. Semakin tinggi konektivitas CSR dengan produk maka semakin harumlah image-nya di mata gen Z. Siapkah kita dengan perubahan ini?

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 9 Mei 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s