Inovasi: Terus Bergerak Atau Mati!

innovation NDI
Sudah menjadi kebiasaan di Jepang untuk mengkonsumsi ikan dalam keadaan segar, yang artinya ikan itu masih hidup sesaat sebelum dihidangkan. Ikan yang segar tentunya menawarkan rasa yang lebih enak, berbeda dengan ikan yang telah diawetkan dalam lemari pendingin.

Ironisnya, nelayan di Jepang sering mendapati bahwa ikan hasil tangkapan mereka banyak yang mati. Untuk menyiasati hal itu, agar memperbesar jumlah ikan tetap hidup, mereka memasukkan seekor hiu kecil ke dalam kolam penampungan ikan. Penjelasannya sederhana saja, ternyata hiu kecil itu memaksa ikan tangkapan untuk terus bergerak, karena jika mereka diam atau lemah maka mereka akan menjadi santapan. Sang hiu memaksa mereka untuk terus bergerak, dan juga memaksa mereka untuk tetap bertahan hidup.

Dalam ranah berorganisasi dan bisnis dalam perusahaan, terus bergerak dapat diartikan sebagai inovasi, yakni menemukan sesuatu yang baru atau melakukan pengembangan dari apa yang telah ada sehingga, mengacu pada cerita ikan di atas, tidak ada pilihan lain bagi sebuah entitas bisnis untuk terus mencari peluang, melakukan beragam riset dan penelitian, atau survei agar perusahaan tetap bertahan hidup.

Ada banyak contoh yang menunjukkan pada kita bahwa bergerak dan senantiasa melakukan perubahan telah membawa perusahaan yang semula hanya perusahaan kecil menjadi perusahaan yang mendunia dan sangat berpengaruh.

Sebagai contoh adalah Nokia, yang pada awalnya adalah sebuah perusahaan kertas, dan terus mengalami perubahan fokus bisnis, hingga akhirnya dikenal sebagai produsen telepon seluler terbesar sepanjang masa, walaupun kini posisinya telah digantikan oleh produsen ponsel lainnya, namun nama Nokia tidak dapat dilepaskan dari gelombang kebangkitan industri ponsel dunia.

Apa yang menyebabkan Nokia melakukan diversifikasi bisnis yang sangat beragam, dan apa latar belakang yang membuat Nokia kemudian memilih industri telekomunikasi?

Salah satu hal yang ditengarai sebagai pemicunya adalah upaya merger Nokia pada tahun 1967, yang menggandeng Idestam’s Nokia AB, Finnish Rubber Works (perusahaan yang memproduksi sepatu boot karet, ban dan beragam produk olahan berbahan karet lainnya), dan juga menggandeng Finnish Cable Works Ltd. (perusahaan yang memproduksi pesawat telepon dan kabel listrik).

Sejak itu Nokia dikenal tidak lagi hanya sebagi perusahaan penghasil kertas, tapi juga perusahaan yang bergerak di industri karet, kabel, kehutanan, elektronik, dan pembangkit listrik.

Nokia sangat memprioritaskan riset dan pengembangan (R&D) dan memiliki fasilitas R&D di 16 negara di seantero dunia, yang melibatkan 37.020 personil, atau setara dengan 30 % dari total karyawan. Nokia Research Center diperkuat oleh tidak kurang 500 peneliti, yang merupakan para ilmuwan dan insinyur dari beragam universitas terkemuka di dunia.

Pada puncak kejayaannya, Nokia memiliki fasilitas perakitan di 15 negara dan perwakilan resmi di 120 negara dengan dukungan tidak kurang dari 123.000 karyawan. Inovasi yang terus menerus dengan cara kerja yang sangat efektif membuat Nokia mendapatkan tingkat produktivitas yang luar biasa dengan budget yang juga sangat efisien.

Menyangkut pengembangan dan upaya untuk mempertahankan para talenta, Nokia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para karyawannya untuk menimba ilmu, khususnya menyangkut sistem operasi dan teknologi informasi. Kenyataannya ini membuat para karyawan bertahan karena merasa dikembangkan dan diperhatikan oleh manajemen.

Selain Nokia, ada perusahaan lain yang juga bergerak dan berinovasi. Berikut adalah beberapa contohnya.

Wrigley, bagi yang senang permen karet tidak asing dengan merek ini. Pada awalnya sang pendiri William Wrigley Jr., memproduksi sabun dan baking powder (bahan untuk mengembangkan adonan kue) dan mengiming-imingi pembeli sabun dan baking powder dengan permen karet. Akhirnya konsumen lebih menyukai permen karetnya ketimbang sabun dan baking powder yang ditawarkan.

Colgate, merek pasta gigi yang mendunia ini pada awalnya hanya perusahaan yang memproduksi sabun, lilin, dan tepung pati nabati. Berdiri pada tahun 1806 dan baru memproduksi pasta gigi pada 1973.

DuPont, perusahaan beragam zat kimia ini mengawali bisnis mereka sebagai produsen bubuk mesiu, dinamit, dan beragam bahan peledak lainnya.

Avon, merek yang tidak asing bagi kaum Hawa ini pada awalnya adalah distributor buku, yang menghadiahkan parfum bagi pembeli buku mereka. Tak dinyana ternyata konsumen sangat menyukai parfum-parfum tersebut. Akhirnya David H. McConnell sang pendiri fokus memproduksi parfum dan secara perlahan meninggalkan bisnis bukunya.

3M, kepanjangan dari Minnesota Mining and Manufacturing Company pada awalnya hanya menghasilkan corundum bahan tambang yang diperlukan dalam pembuatan mesin pengasah (Grinder machine). Sebuah awal yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sekarang dimana 3M lebih dikenal sebagai penghasil beragam produk stationery, seperti lembaran catatan berperekat post it dan lem.

Beberapa contoh di atas menunjukkan pada kita, bahwa banyak perusahaan yang terus menerus berpikir, mencari peluang, dan kemudian hadir dengan produk baru yang mungkin tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Penulis yakin akan ada banyak perusahaan lokal di Indonesia, yang dapat menjelma layaknya Nokia, Avon, DuPont atau 3M, selama mereka terus bergerak dan tidak puas berada di zona nyaman.

Masalahnya adalah masih banyak perusahaan yang gagap dalam melakukan perubahan. Mereka masih terperangkap oleh zona nyaman yang melenakan. Alih-alih berinovasi, banyak perusahaan yang tidak mau berubah ini malah mengembangkan bisnis hanya dalam skala ukuran saja.

Padahal yang diminta oleh konsumen tidak hanya sebatas ketersediaan produk di pasar, tapi juga selalu ada perubahan dalam tiap produk yang mereka nikmati. Bukan tidak mungkin konsumen yang merasa tidak lagi mendapatkan apa yang mereka inginkan akan meninggalkan produk tersebut dan beralih ke yang lain.

Agar bisa tetap hidup dan bertahan dalam persaingan bisnis yang ketat, teruslah bergerak dan berinovasi!

*Tulisan dimuat di BUMN Insight online, 24 Mei 2015.

????????????????????????????????????Suhendi Suaeb
Corporate Relation PPM Manajemen
NDI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s