Plus Minus Subsidi Energi

BBM-SubsidiTerlahir di negara yang dikenal dengan komoditas migas-nya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Ketika terlibat dalam diskusi panel subsidi energi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN beberapa waktu lalu, seorang kolega dari Singapura mengungkapkan bahwa kondisi geografis sebuah negara turut menentukan cara berpikir dalam memandang energi (baca: migas).

Sebagai sebuah negara yang konon disebut-sebut tak memiliki sumber daya alam berlimpah, Singapura bertumbuh sebagai bangsa yang sangat menghargai hal-hal kecil yang mungkin oleh pihak lain dipandang remeh. Sejak kecil masyarakat Singapura terdidik untuk memahami bahwa manusia harus berpikir berkali-kali untuk menyediakan energi dalam menggerakkan sejumlah peralatan produksi maupun penunjang hidup sehingga akan ada masa di mana energi tersedia secara berlimpah ruah dan ada pula waktu di mana ia akan semakin jarang ditemukan.

Meski terkesan retoris, namun cara pandang tersebut berhasil memposisikan ketersediaan energi sebagai dasar pengambilan keputusan konsumsi. Saat konsumsi dilakukan pada produk yang nyata-nyata membutuhkan dukungan energi besar maka masyarakat cenderung melihat dampak penggunaan dalam jangka panjang.

Pertanyaan akankah pemanfaatan produk berdampak negatif pada ketersediaan energi diusung tinggi. Perlahan namun pasti, pola pikir tersebut akan membangun sebuah kebijaksanaan dalam melakoni hidup, khususnya pada konteks keseimbangan alam, lingkungan, dan ekonomi.

Paradigma tersebut sangatlah kontras dengan apa yang selama ini saya pahami. Dua puluh tahun lalu Indonesia tak pernah berpikir akan kekurangan energi yang bersumber dari migas. Kala itu kita sempat menikmati harga bahan bakar minyak yang relatif cukup murah dalam mendukung operasionalisasi kehidupan pribadi maupun bisnis.

Namun perlahan realitas tersebut kini sirna. Migas sudah menjadi komoditas yang mahal. Terlebih setelah kita harus terlebih dahulu mengekspor minyak mentah untuk mengimpor minyak yang siap digunakan dalam konsumsi masyarakat. Di sinilah pelajaran berharga itu ditemukan.

Baru-baru ini International Monetary Fund (IMF) mengungkapkan data bahwa hingga akhir 2013, subsidi energi terbesar ternyata dilakukan oleh pemerintah di negara-negara berkembang kawasan Asia. Setiap tahun setidaknya subsidi energi diberikan antara 15%-16% gross domestic product. Belum terhitung besaran dana yang diperlukan untuk melakukan restorasi alam akibat upaya eksplorasi migas. Di sinilah efektivitas subsidi energi mulai dipertanyakan oleh sejumlah kalangan.

Sisi positif subsidi memang harus diakui mendatangkan manfaat bagi kegiatan produksi. Namun rendahnya biaya bahan bakar tidak menjamin tingginya daya saing. Terbukti selama periode BBM murah tersebut produk-produk Indonesia masih sulit bersaing dengan barang-barang impor. Cost leaderships strategy yang seharusnya dapat dilakukan malah jauh dari harapan.

Sebaliknya, sisi negatif pun marak bermunculan. Rendahnya harga BBM akibat subsidi tanpa disadari mendatangkan konsekuensi negatif yang sangat besar dalam jangka panjang.

Pertama, tingginya tingkat polusi yang mengakibatkan pengurangan kuantitas udara bersih dan segar untuk tubuh. Harus diakui bahwa pemicu pertumbuhan jumlah kendaraan di jalan adalah harga energi yang relatif murah. Tanpa adanya dukungan rencana pembangunan infrastruktur yang memadai, situasi ini malah menciptakan kemacetan lalu lintas. Imbasnya ada pada polusi udara yang sangat tinggi terutama di jam-jam sibuk.

Kedua, studi terkait biaya ekonomi lingkungan atas subsidi BBM menyimpulkan bahwa rendahnya biaya energi akan berdampak pada terciptanya iklim yang sangat ekstrim. Potensi hujan besar yang tak lazim mendorong terjadinya sejumlah bencana alam, seperti banjir. Tak ayal dampak ekonomis yang ditimbulkan juga akan semakin besar.

Setiap 1 ton CO2 diprediksi membutuhkan biaya lebih dari $100 untuk melakukan recovery lingkungan sehingga dengan menggunakan data emisi CO2 dunia di 2013 sedikitnya dibutuhkan $2 trilliun sebagai dana recovery lingkungan. Artinya ketika pola ini digunakan secara simultan maka semakin besar dana yang dibutuhkan hanya untuk mengembalikan kualitas lingkungan pada posisi awal, bukan untuk meningkatkan kualitas.

Mengingat usia bumi yang makin tua, niscaya langkah pengurangan subsidi energi dinilai sangat tepat. Selain berpeluang untuk meningkatkan efektivitas alokasi dana, pengurangan subsidi dalam jangka panjang akan dapat memberikan ruang bagi pemotongan tarif pajak. Beberapa negara maju sudah menikmati hal tersebut. Bagaimana dengan kita? Semoga.

*Tulisan dimuat Business Review online, 1 Juni 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s