Pentingnya Melek Risiko Dalam Supply Chain Management

img BUMN Insight Jun 15 ERNBambang (bukan nama sebenarnya) akhirnya tersenyum bahagia ketika buah pisang di kebunnya seluas dua hektare itu ranum memerah. Dua hari kemudian Bambang memanen buah pisang itu dan mengemasnya dalam peti-peti kayu untuk dikirim ke Jakarta. Bayangan keuntungan di tangan sudah di pelupuk mata.

Sehari kemudian, berderet truk di depan rumahnya antri berjejer menunggu muatan pisang miliknya untuk dikirim ke Jakarta. Lambaian tangan anak istrinya mengiringi kepergiannya bersama puluhan truk ke Jakarta.

Saat itu musim hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Lampung hingga Jakarta. Dalam perjalanannya pun Bambang terhambat oleh derasnya hujan sepanjang jalan menuju pelabuhan penyeberangan. Tak ayal jadwal pun terlambat. Sialnya lagi gelombang tinggi di Selat Sunda mengharuskan ia dan truknya menunggu pengumuman selanjutnya dari syahbandar.

Kapal penyeberangan tidak bisa diberangkatkan. Berkurang sudah keuntungan Bambang karena truk dan supir harus bermalam di pelabuhan. Keesokan harinya kapal diberangkatkan menuju Pelabuhan Merak.

Apalah daya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika kapal merapat di Pelabuhan Merak tersiar kabar bahwa di tol Merak terjadi banjir sehingga jalan tol tidak dapat dilewati. Berkerut kening Bambang, masalah datang bertubi-tubi memupus bayangan keuntungan yang bakal ia raih.

Ada dua pilihan baginya saat itu, terus melanjutkan perjalanan ke Jakarta atau putar balik kembali ke Lampung dan menjual produknya di sana. Akhirnya Bambang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena harga buah di Jakarta pasti sedang tinggi karena bencana, pikirnya saat itu.

Sekali lagi untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, karena banjir yang terjadi sangat parah. Antrian panjang mengekor karena kendaraan sama sekali tidak dapat melintasi jalan tol. Beberapa kendaraan mencari jalan alternatif agar sampai di Jakarta.

Namun, untuk sampai ke jalan alternatif itu kendaraan masih harus menginap di jalan kembali karena kemacetan parah terjadi di persimpangan jalan arteri yang menjadi alternatif tersebut. Tak ayal, sudah dua malam dihabiskan hanya untuk menunggu karena gangguan cuaca dan banjir di jalan. Sesuatu yang tidak ada dalam bayangan Bambang sebelumnya apalagi dipikirkan.

Akhirnya pada hari kelima, Bambang sampai di pasar induk Kramatjati tempat biasa ia menjual buahnya. Hatinya sudah berdegup karena bimbang apakah buah pisang yang dibawanya masih layak dijual. Kalaupun masih, apakah bisa untung seperti yang ia bayangkan.

Ketika muatan dibongkar hatinya sedih karena sebagian buah telah membusuk dan ia harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mensortirnya. Akhirnya, kemalangan yang didapatnya, karena ia mengalami kerugian besar akibat bencana alam yang terjadi.

Inilah sekelumit kisah yang menunjukkan betapa pentingnya kita mempertimbangkan risiko dalam menentukan strategi atau mendesain rantai pasok (supply chain). Sejak membangun infrastruktur jalan hingga penentuan titik-titik mata rantai sehingga ketidakpastian yang berisiko bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan.

Kita jarang sekali menyinggung keterkaitan risiko dengan desain rantai pasok, padahal Indonesia adalah negeri dengan risiko bencana alam yang besar. Konflik horizontal juga berpotensi terjadi, karena perbedaan suku dan agama. Semua ini harus diperhitungkan risikonya karena jika risiko itu terjadi maka keuntungan akan sirna dalam sekejap.

Dalam kasus Bambang ini, ia tidak mempertimbangkan faktor cuaca dan tidak mencari informasi yang cukup mengenai kondisi selama perjalanan yang akan ia lewati. Jika ia mengetahui kondisi tersebut maka bisa jadi ia tidak akan memanen terlalu cepat.

Menunda 2-3 hari tidak akan menimbulkan kerugian yang lebih besar seperti sekarang. Jika ia mengecek kondisi jalan sebelumnya ia bisa menjual pisang ke rekannya di Cilegon. Buah pisang bisa langsung dipindahkan ke truk yang lebih ke kecil untuk langsung diditribusikan ke pasar-pasar di Provinsi Banten dan sekitarnya.

Namun karena tidak ada komunikasi sebelumnya, maka rekannya di Cilegon tidak bisa serta merta menerima tawarannya karena ia harus mengontak juga rekan-rekan pembelinya. Jika Bambang sebelumnya sudah mempersiapkan hal ini, maka akan lebih mudah ia menjualnya dan tidak mengalami kerugian besar.

Kisah di atas menunjukkan betapa pentingnya memperhitungkan risiko sebelum keputusan diambil dalam penentuan rantai pasok. Tidak hanya komoditas pertanian yang rentan rusak, komoditas dagangan lain pun juga perlu memperhitungkan risiko.

Tidak hanya perusahaan kecil sekelas Bambang, perusahaan multinasional pun harus mempertimbangkannya. Contohnya, Benua Afrika adalah potensi pasar yang sangat besar dan berkembang saat ini. Hampir semua perusahaan besar melirik benua ini.

Namun tidak semua tempat di benua ini aman untuk disinggahi, apalagi ditempati untuk menjalankan bisnis karena di beberapa lokasi sangat rawan konflik. Hingga saat ini kita masih mendengar konflik bersenjata seringkali terjadi. Jadi inilah risiko yang harus diperhitungkan oleh siapa saja yang akan masuk ke dalam negara tersebut. Sekali terjadi konflik, maka bukan untung yang diraih, tetapi kebuntungan yang akan terjadi.

Perhitungan risiko ini tidak hanya untuk pelaku bisnis, tetapi juga untuk pembuat kebijakan, seperti pemerintah yang bertanggung jawab membuat infrastruktur baik jalan, jembatan, pelabuhan, maupun bandara, sehingga bisa memiliki tingkat risiko yang rendah. Karena risiko yang semakin kecil akan mengamankan tingkat keuntungan yang sudah diperhitungkan. Jadi marilah kita sekarang melek risiko dalam mata rantai pasok di negeri ini.

*Tulisan dimuat BUMN Insight Online, 8 Juni 2015.

ern blogErni Ernawati, STP, MM, CSLP
Core Trainer PPM Manajemen
ERN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s