Tanggung Jawab Membangun Komunitas

csr komunitasMemaknai corporate social responsibility (CSR) secara tepat memang bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi kebijakan ini merupakan program ‘hati’ yang tumbuh dari nurani terdalam seorang insan, di sisi lain perusahaan turut berkepentingan untuk menyuarakan hasil-hasil aktivitas sosial yang berdampak positif pada kehidupan masyarakat.

Di situlah terkadang para pengelola perusahaan ‘jatuh’ dalam konteks menempatkan CSR sebagai sarana ‘show off’ kepada khalayak ramai. Aksi sosial diwarnai dengan upaya membangun image perusahaan.

Alhasil program yang seharusnya sinambung terkadang malah bersifat spontan dan berdurasi singkat. Jika ini terjadi akankah program-program CSR masih layak diharapkan berkontribusi positif pada lingkungan?

Beberapa riset pembangunan ekonomi daerah menunjukkan bahwa tingkat kebutuhan masyarakat (khususnya pedesaan) akan adanya program-program pendampingan menuju desa mandiri sangatlah tinggi. Di beberapa tempat bahkan pendampingan berujung pada modernisasi desa tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya asli setempat.

Sebagai contoh, salah satu desa di Jawa Tengah yang kini dikenal sebagai lokasi wisata alam, dengan tetap menjaga keaslian tradisi masyarakat setempat, pendampingan perusahaan berhasil merubah paradigma dari konvensional menjadi modern. Ajakan untuk keluar dari zona nyaman yang ada pun beroleh respon positif sehingga setelah sekian tahun berjalan, kaum pemuda-pemudi yang telah berhasil mendapat gelar kesarjanaan kembali ke desa untuk mempercepat pembangunan yang tengah dilakukan.

Program Pembinaan

Bercermin pada realitas tersebut, program pendampingan dinilai tak cukup jika hanya dilakukan melalui program spontan CSR. Perusahaan harus menggeser paradigma CSR menjadi community development. Meski terkesan baru, namun pola ini berhasil mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Amerika Serikat pasca krisis 2008. Hal senada juga terjadi di China, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. Sebagai warga negara, perusahaan juga turut bertanggung jawab dalam membangun komunitas sekitar menuju kualitas kehidupan yang lebih baik.

Memandang proses pembangunan komunitas sebagai strategi memang bukanlah hal yang mudah. Resistensi yang sangat besar terjadi merupakan penghambat jalannya program. Tak hanya itu, fluktuasi semangat para relawan juga mempengaruhi kontinuitas implementasi program. Karenanya di fase awal community development harus dipahami sebagai pekerjaan rumah dari tiga pihak yakni masyarakat, aparat pemerintah setempat dan tim pelaksana (dalam hal ini adalah perusahaan).

Ketiga unsur ini harus sepakat dengan definisi pengembangan komunitas sebagai sebuah proses menuju kehidupan yang lebih baik. Artinya kontribusi masing-masing pihak dibutuhkan demi keberlangsungan program. Dengan cara ini CSR tak lagi dipandang sebagai sarana perusahaan membagi-bagikan sebagian keuntungannya kepada masyarakat.

Pembelajaran pada fase tersebut akan membawa para pihak kepada kesadaran bahwa tanggung jawab membangun komunitas juga ada pada lingkungan sekitar. Selanjutnya kesadaran ini akan berfungsi sebagai modal awal bagi langkah pembinaan yang berkelanjutan. Di sinilah peran perusahaan berikut tim relawan sangat diperlukan.

Program pembinaan merupakan rangkaian proses untuk merubah cara pandang masyarakat akan potensi kehidupan yang ada. Temuan di lapangan menunjukkan fakta bahwa terkadang mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan tak sepenuhnya sadar bahwa mereka sedang berada di posisi tersebut. Banyak di antara mereka bahkan melihat realitas hidup itu sebagai hal yang lumrah. Inilah yang berpotensi menciptakan siklus kemiskinan dalam beberapa generasi.

Pola Komunikasi

Salah satu pintu masuk yang diyakini efektif adalah melalui keikutsertaan pada kegiatan rutin para warga seperti saat bulan Ramadhan. Bulan penuh Rahmat ini lazim dilakoni masyarakat dengan beribadah dan menimba ilmu. Titik inilah yang perlu disikapi secara efektif. Melalui ceramah yang dilakukan secara periodik, proses penyadaran yang membangun paradigma hidup bahagia dunia akhirat perlu dilakukan secara serius.

Pemberian contoh hidup dengan menampilkan sosok yang dinilai telah berubah dirasa efektif dalam mempercepat perubahan paradigma yang ada. Demikian pula dengan ajakan untuk memandang aktivitas sehari-hari sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Esa. Melalui pola ini pesan utama yang menyatakan bahwa menekuni rutinitas keseharian dengan cara-cara yang lebih baik akan sama halnya dengan ibadah yang sejati dapat tersampaikan secara efektif.

Ketika kesadaran itu telah muncul maka pola pendampingan mulai diarahkan pada sisi teknis yang secara langsung dapat menempa ketrampilan masyarakat. Di sinilah peran aparatur pemerintah setempat dibutuhkan sebab perusahaan sebagai relawan perlu memahami cetak biru pembangunan ekonomi lokal. Opini ini diambil dari pelajaran bagaimana China berhasil merubah wacana CSR menjadi pendampingan komunitas yang pada akhirnya mampu menciptakan kemandirian ekonomi.

Pada fase awal masyarakat perlu diberikan keterampilan yang mendukung proses penciptaan produk (barang maupun jasa). Bila dalam kurun waktu tertentu proses ini sudah dinilai sukses maka program dapat diarahkan pada penciptaan portfolio keterampilan, sehingga memungkinkan daerah mampu menciptakan produk variatif bernilai jual tinggi. Perlahan namun pasti pola ini akan menciptakan sebuah siklus kemandirian ekonomi masyarakat.

Menggeser CSR menjadi pengembangan komunitas membutuhkan ukuran yang jelas bagi perusahaan. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Social Return On Investment. Perusahaan perlu menilai (secara kuantitatif) setiap dampak ekonomis yang timbul dari investasi pengembangan masyarakat.

Dengan menempatkan SROI sebagai ukuran maka para pengelola dihadapkan pada tantangan bagaimana mempercepat siklus proses pembangunan tersebut. Dengan kata lain para relawan ditantang tidak hanya masuk ke tataran paradigma melainkan mampu mengarahkan masyarakat ke dalam kegiatan ekonomi yang positif.

Spirit inilah yang nantinya akan berfungsi sebagai mesin otomatis pencipta corporate social responsibility yang sejati. Semoga momen suci Ramadhan kali ini dapat menyadarkan setiap pihak untuk menempatkan CSR sebagai sebuah upaya aktif dalam membangun masyarakat.

*Tulisan dimuat majalah Pajak  volume VX, Juni 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s