Kiat Menghadapi Rekan Kerja yang Sulit

image RIF BUMN Insight jun 15“Pekerjaan ini harusnya mudah dan akan lancar andai saja tak ada orang itu, yang terkenal sulit diajak kerja sama.”

Apakah pernyataan itu pernah terucap dari Anda? Penulis yakin pasti jawabannya “Ya,” setidaknya di batin Anda. Tenang saja, itu hal yang lumrah dan sering terjadi pada banyak orang. Jadi jangan berkecil hati. Anda tidak sendirian karena hampir kebanyakan pekerja merasakan frustasi dalam bekerja dan permasalahan justru muncul dari orang-orang di dekatnya.

Sebagai contoh, masalah komunikasi yang tidak lancar dengan rekan kerja dapat membuat pekerjaan tertunda sampai berhari-hari, yang akhirnya menyebabkan penilaian kinerja kita buruk. Mungkin Anda punya contoh atau malah pengalaman sendiri dari kejadian serupa yang akhirnya Anda berkesimpulan bahwa rekan sekerjalah penyebab semua ini.

Setiap hari ada ribuan orang dalam perusahaan, seperti halnya Anda, yang bergumul dengan rasa frustasi dan ditempatkan dalam situasi yang acapkali tidak adil. Jika sudah begini, banyak orang yang ingin bila kewenangan orang lain atas suatu pekerjaan dihilangkan saja atau malah ganti saja si pemangku jabatannya sekalian.

Satu yang pasti, tiada seorang pun yang kebal dari masalah yang berkaitan dengan manusia. Apa pun jenis organisasi/perusahaannya pasti terdapat hubungan antar manusia, karena organisasi itu sendiri merupakan kumpulan manusia dengan tujuan yang sama.

Jangan lupa juga kalau manusia itu menyandang predikat makhluk yang rumit. Oleh karenanya, jangan menyalahkan orang lain. Lebih berguna bila kita mengembangkan keterampilan dalam menghadapi orang-orang sulit penyebab frustasi kerja ini.

Resep meraih sukses memecahkan masalah pekerjaan yang berhubungan dengan orang cukup sederhana, namun tidak mudah. Malah bagi sebagian orang lebih gampang diucapkan ketimbang dilakukan. Kuncinya adalah tanggapi secara profesional, bukan secara personal. Coba kita ingat-ingat kembali kapan kita menanggapi masalah pekerjaan pure dengan hubungan profesional?

Dengan menanggapi masalah pekerjaan secara hubungan personal, sesudahnya kita pasti akan merasa bersalah, konsentrasi jadi terpecah, merasa telah melukai hubungan yang lama terjalin dan akhirnya mengurangi semangat kekompakan dalam kelompok kerja. Ya, menanggapi masalah pekerjaan secara hubungan personal dapat melukai diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, bila ditanggapi dengan hubungan profesional maka akan menguntungkan semua pihak.

Anda dibayar sebagai seorang professional. Ingatlah hal itu ketika berhadapan dengan orang atau rekan kerja yang sulit. Dalam hubungan profesional janganlah memakai ‘hati’, pisahkan perasaan pribadi dengan urusan perusahaan karena ini demi kepentingan orang banyak dan laju roda perusahaan.

Lebih jauh, dampak dari terus menerus memakai pola personal dalam menghadapi hubungan kerja maka akan berujung pada fase burnout, sebuah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger pada 1974. Penelitian mengenai topik ini awalnya dilakukan di bidang pendidikan, terutama pada guru yang mengalami penurunan kinerja yang disebabkan oleh burnout.

Stamm, B (2005) menjelaskan burnout dalam perspektif penelitian, yaitu diasosiasikan dengan perasaan tanpa harapan dan kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau kesulitan mengerjakan pekerjaan secara efektif. Selanjutnya Stamm menjelaskan bahwa biasanya perasaan negatif itu muncul secara perlahan-lahan. Pekerja akan merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak membawa perubahan apa pun.

Kini saatnya kita atur kembali pola hubungan dengan rekan kerja sebagai hubungan profesional. Sebagai penguat coba tanamkan ini pada diri sendiri, “Ini adalah pekerjaan saya, dan saya menyukai pekerjaan ini. Bukan karena pekerjaannya mudah, bukan juga karena tidak berhadapan dengan orang yang sulit, dan bukan pula karena tidak ada frustasi kerja. Orang merupakan bagian dari setiap pekerjaan dan organisasi, oleh karenanya saya bertekad membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah, dengan cara menanggapi semua masalah pekerjaan secara hubungan profesional.”

*Tulisan dimuat pada BUMN Insight online, 15 Juni 2015.

Arif-Rachman crpArif Rachman
Corporate Communication PPM Manajemen
RIF@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s