Seandainya Tidak Ada Lagi Rencana Pembenahan Logistik

Kegiatan logistik awalnya dikenalkan di bidang ketentaraan. Kelancaran pasokan akan tentara, senjata dan konsumsi dapat menentukan kemenangan salah satu pihak.

Saat ini kinerja logistik menjadi penentu kemenangan berkompetisi di dunia bisnis. Logistik masuk dalam ranah stratejik untuk menimbulkan keunggulan bersaing.

Tidak hanya lingkup perusahaan, antar negara juga telah berlomba memberikan kinerja logistik terbaiknya. Pembenahan kinerja logistik seakan menjadi program kerja wajib dalam suatu pemerintahan melalui penyediaan sarana, prasarana dan infrastruktur.

Kegiatan logistik erat dengan proses distribusi atau perpindahan produk dari sumber menuju kepada yang membutuhkan. Perpindahan tersebut dapat terjadi melalui beberapa moda transportasi, dimana moda angkutan laut masih menjadi primadona dalam perdagangan. Hal tersebut tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia yang secara geografis merupakan negara kepulauan.

Namun, kebaikan alam belum mampu diolah untuk membawa Indonesia menjadi yang terbaik dalam dunia maritim. Sebagai gambaran, berdasarkan penilaian World Bank International Trade and Transport Departments mengenai kinerja logistik maka tahun 2012 Indonesia baru berada di peringkat 59 dengan nilai 2.94 jauh tertinggal dari negara Singapura yang menempati ranking 1 dengan 4.13.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Pemerintah dari waktu ke waktu meluncurkan beberapa strategi, rencana, maupun program kerja untuk membenahi proses logistik. Mulai dari yang sifatnya menyeluruh seperti MP3EI dan Sislognas sampai Konsep Pendulum Nusantara dan Tol Laut yang lebih fokus pada pembenahan angkutan laut.

Penguatan fungsi pelabuhan menjadi penentu berhasilnya pembenahan angkutan laut. Pengembangan pelabuhan tertuang dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) dimana sektor pelabuhan akan menjadi titik sentral menciptakan sistem transportasi nasional yang efisien dan efektif serta terintegrasi dengan moda lainnya. Saat ini terdapat 1,148 pelabuhan, mulai dari pelabuhan utama, pengumpul, pengumpan regional dan lokal.

Dikutip dari RIPN, transaksi perdagangan yang menggunakan area pelabuhan di tahun 2030 diramalkan mencapai dua milyar ton dengan pertumbuhan rata-rata pertahun mencapai 3.5%. Lalu lintas peti kemas di Indonesia pada tahun 2020 akan meningkat lebih dari dua kali lipat volumenya dibandingkan tahun 2009 dan akan meningkat dua kali lagi di tahun 2030.

Gambaran peningkatan akan kesibukan moda laut dalam perdagangan tersebut menjadi pembenaran akan pentingnya pembenahan pelabuhan menyeluruh mulai dari kelembagaan, perencanaan, peraturan, pengembangan SDM, teknologi, serta pembiayaan dan investasi.

Dengan banyaknya strategi, rencana, maupun program kerja yang disusun membuktikan bahwa Pemerintah cukup serius dalam membenahi kinerja logistik. Namun itu saja belum cukup. Perlu ada tindakan nyata dalam mewujudkan apa yang sudah direncanakan.

Beragam informasi, angka dan grafik serta ilustrasi saat ini tidak lagi membuai para pelaku bisnis logistik. Mereka lebih peduli pada kondisi pelabuhan yang masih dipenuhi dengan antrean truk-truk besar ataupun ke-tidak optimal-an fasilitas yang ada di pelabuhan. Masalah-masalah yang masih ada dan akan terus ada bila belum ada tindakan nyata yang menyeluruh.

Kompleksitas kegiatan logistik turut mendukung lambannya wujud nyata dari rencana pembenahan. Banyak pemangku kepentingan yang akan terlibat dengan kepentingannya masing-masing. Konflik akan mudah terjadi yang berdampak pada kualitas pembenahan yang dilakukan.

Kesulitan lain yang timbul adalah menemukan dirigen yang tepat untuk membawakan irama pembenahan melalui beberapa pemangku kepentingan. Kendala lainnya adalah bila terjadi ketidakharmonisan antar strategi, rencana dan program kerja.

Seandainya beberapa kendala dapat diselesaikan mungkin pembenahan logistik menjadi optimal. Seandainya ada keterbukaan dan minim ego sektoral antar pihak mungkin pembenahan logistik mencapai fase menyeluruh. Seandainya konflik internal berganti dengan kerja sama mungkin pembenahan logistik dapat mencapai satu tujuan.

Seandainya angka, grafik dan ilustrasi tidak lagi menjadi wacana kondisi yang ada, namun berganti menjadi satu tujuan sasaran pembenahan. Seandainya pembenahan logistik dapat lebih cepat tentunya Indonesia dapat menjadi penguasa maritim.

Seandainya strategi, rencana dan program kerja diganti dengan pelaksanaan maka pembenahan logistik dapat segera dirasakan dampaknya. Jadi, ambil segera tindakan, tindakan, dan tindakan.

*Tulisan dimuat pada Business Review Online, 16 Juni 2015.

Alain WidjanarkaAlain Widjanarka, ST., MM.
Core Consultant PPM Manajemen
ALW@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s