THR: Kewajiban atau Budaya?

THRDatangnya bulan suci Ramadhan selalu disambut suka cita oleh mayoritas masyarakat muslim Indonesia. Pada pertengahan Juni tahun ini, umat muslim mulai berpuasa. Suasana menyambut bulan Ramadhan sudah sangat terasa.

Jika Anda perhatikan, sudah mulai bermunculan iklan lengkap dengan bedug khas berbuka puasa, billboard dan spanduk bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa,” dijajakannya makanan khas berbuka puasa, serta ajakan berbuka puasa bersama dari teman, rekan kerja maupun keluarga.

Tak hanya masyarakat, bahkan organisasi pun sudah mulai mempersiapkan diri menjelang datangnya Ramadhan yang diakhiri dengan hari raya Idul Fitri. Dengan kata lain, perusahaan sudah mulai bersiap-siap untuk berhitung mengenai berapa Tunjangan Hari Raya (THR) atau berapa besaran bonus tengah tahun yang akan diberikan ke masing-masing karyawannya.

Secara garis besar, imbal jasa adalah semua pendapatan yang diterima karyawan dalam bentuk finansial maupun non finansial dari perusahaan. Imbal jasa yang bernilai finansial, biasa disebut upah (compensation), dan imbal jasa yang dapat berbentuk finansial maupun non finansial biasa disebut kesejahteraan (benefit).

Upah biasanya diberikan secara langsung sebagai imbalan bekerja, misalnya gaji pokok, tunjangan, insentif, dan bonus. Sementara kesejahteraan diberikan secara tidak langsung namun memberikan manfaat kepada karyawan, bisa berupa asuransi kesehatan, fasilitas perumahan, program kepemilikan kendaraan, dan lain sebagainya.  Selain itu, ada juga imbal jasa yang tidak bernilai uang berupa hadiah (reward).

Imbal jasa yang efektif dirancang sesuai dengan beberapa sasaran, yang dimulai dari misi hingga pemenuhan persepsi karyawan terhadap tanggung jawab, kondisi pekerjaan, serta bentuk imbalan dengan membandingkan para karyawan di perusahaan yang sama.

Selain itu, imbal jasa juga mementingkan kewajaran/kesetaraan upah suatu jabatan pada suatu organisasi dibandingkan dengan organisasi lainnya. Singkatnya, sistem imbal jasa perlu dibuat sesuai dengan misi perusahaan, strategi perusahaan, budaya perusahaan, kebutuhan terhadap karyawan, karakteristik karyawan, tingkat upah pasar, serta perbedaan jabatan dan kinerja.

Sistem imbal jasa yang sesuai dengan misi perusahaan, dapat mendorong komitmen karyawan untuk menjalankan visi perusahaan. Misalnya saja, untuk sebuah rumah sakit menerapkan sistem pengupahannya berdasarkan tingkat pendidikan dan jam praktek dokter atau jam bekerja perawat.

Berbicara lebih dalam mengenai kesejahteraan, hal ini merupakan pemenuhan kebutuhan fisik dan spiritual yang bisa dilihat dampaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Selain itu, apabila program kesejahteraan disusun secara tepat maka akan menarik minat calon karyawan untuk bergabung dengan perusahaan, mempertahankan loyalitas, dan juga memotivasi karyawan.

Kesejahteraan dapat memberikan manfaat bagi karyawan, dan tiap perusahaan dapat menyusun formulanya sendiri sesuai dengan keadaan perusahaan, lingkungan kerja, cakupan bisnis, jenis pekerjaan, serta lokasi pekerjaan.

Alternatif program kesejahteraan dapat disusun dan dibuat formulanya sesuai kebijakan perusahaan. Namun, ada beberapa program kesejahteraan yang wajib diberikan oleh perusahaan sudah diatur dalam undang-undang, seperti upah tidak melakukan pekerjaan, waktu istirahat dan cuti, kompensasi cacat, pesangon, program BPJS Ketenagakerjaan, serta THR.

Apabila sudah memasuki bulan puasa atau Ramadhan, karyawan sudah mulai menanti-nanti turunnya THR. Apakah sebenarnya THR itu? Apakah THR merupakan bentuk kesejahteraan yang diberikan oleh perusahaan, budaya Indonesia, atau kewajiban perusahaan sesuai undang-undang?

THR adalah pendapatan pekerja yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan yang berupa uang atau bentuk lain. THR merupakan salah satu program kesejahteraan yang diatur dalam undang-undang. Hal ini sesuai dengan yang diatur pada Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

THR diberikan kepada karyawan atau pekerja menjelang hari raya keagamaan. Ada beberapa perusahaan yang membagikan THR untuk seluruh karyawan sesuai dengan hari raya umat mayoritas, namun ada pula yang membagikan THR sesuai hari raya keagamaan yang dianut karyawan yang bersangkutan. Misalnya saja, THR diberikan menjelang hari raya Idul Fitri bagi karyawan beragama Islam atau Natal untuk Kristen.

THR hanya diberikan satu kali selama setahun bagi karyawan yang telah memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih. Sementara bagi karyawan yang belum memiliki masa kerja satu tahun, namun telah bekerja minimal tiga bulan terus-menerus, maka akan diberikan THR dengan perhitungan proporsional. Menurut aturan yang berlaku, pemberian THR selambat-lambatnya diberikan tujuh hari sebelum hari raya keagamaan.

THR memang menjadi kebiasaan untuk diberikan di Indonesia. Bagi perusahaan di luar negeri, pemberian THR tidak dibiasakan. Imbalan bekerja lebih lumrah diberikan berupa bonus, sementara kesejahteraan oleh perusahaan diberikan dalam bentuk fasilitas kesehatan, perumahan, ataupun mobil.

Lebih dari itu, THR memang sudah diatur dalam undang-undang di Indonesia sehingga perusahaan memang wajib memberikan THR bagi tiap karyawannya sesuai aturan yang berlaku. THR diberikan perusahaan kepada karyawan sebagai wujud kepatuhan atas aturan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Apabila dikaitkan dengan filosofinya, THR merupakan bagian dari imbal jasa yang bersifat tidak langsung, namun diberikan dengan alasan perayaan keagamaan. THR tidak sama dengan bonus atau insentif yang basisnya dari kinerja.

Bonus atau insentif bisa didapatkan karyawan dengan ukuran yang berbeda, tergantung dari kinerja yang dicapai masing-masing karyawan. Sementara THR merupakan kewajiban tiap perusahaan yang sudah diatur oleh undang-undang, dan semua karyawan berhak mendapatkan (secara umum) sebesar 1 kali gaji (sesuai perhitungan yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya).

Secara keseluruhan, paket imbal jasa yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan bisa dibuat lebih menarik. Lantas dimanakah letak menariknya? Sebagai salah satu bagian dari paket imbal jasa, perusahaan dapat mengatur besaran pemberian THR, dimana secara umum yang berlaku pemberian THR sebesar 1 kali gaji, sementara untuk menarik minat calon karyawan dan para pekerjanya, perusahaan dapat memberikan besaran THR sebesar 2 kali gaji. Ketentuan yang memuat kebijakan pemberian jumlah THR yang melebihi peraturan perundang-undangan, dapat dicantumkan pada Peraturan Perusahaan (PP), atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Apakah THR sama dengan ‘Gaji ke-13?’ Gaji ke-13 sebenarnya adalah istilah yang sering digunakan oleh  Pegawai Negeri Sipil (PNS). Gaji ke-13 biasanya memang dibagikan di pertengahan tahun dengan pertimbangan awal tahun ajaran baru pendidikan, untuk membantu kebutuhan dana ekstra bagi sebagian besar orang tua. Sementara secara filosofi, THR diberikan dengan alasan perayaan keagamaan sehingga filosofi THR dan Gaji ke-13 jelas berbeda.

Berbicara lebih lanjut mengenai sistem imbal jasa untuk menunjang efektivitas kesejahteraan karyawan, Departemen SDM di perusahaan perlu bersikap proaktif dan objektif dalam merancang kebijakan, serta mengimplementasikan sistem tersebut guna mengendalikan perilaku juga meningkatkan kinerja karyawan.

Akhir kata, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” dan tetap semangat untuk Departemen SDM serta karyawan di seluruh perusahaan Indonesia!

*Tulisan dimuat Business Review Online, 22 Juni 2015.

yunita blogYunita Andi Kemalasari, S.Si, M.M
Core Consultant PPM Consulting – PPM Manajemen
YUN@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “THR: Kewajiban atau Budaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s