Business Bluffing dan Etika Bisnis

business bluffingBeberapa minggu yang lalu, penulis dan beberapa sahabat penggemar batu akik ingin merasakan bagaimana berburu bahan batu akik di sumbernya secara langsung.

Berbekal informasi dan beragam pemberitaan terkait keberadaan bahan batu akik di sebuah kabupaten di Jawa Barat, kami memutuskan untuk berangkat dengan sejumput harapan akan memperoleh bahan batu akik seperti yang banyak diwartakan.

Namun kenyataan berkata lain, di beberapa sungai yang disebutkan memiliki sumber bahan batu akik, kami tidak menemukan sebongkah batu pun, yang layak disebut sebagai bahan batu akik. Keanehan semakin membuncah ketika penduduk setempat yang sengaja kami temui juga tidak mengetahui jika sungai-sungai tersebut menyimpan potensi batu akik.

Untuk menuntaskan rasa keingintahuan, kami kemudian mencoba berburu bahan batu akik di lapak penjualan batu akik di pusat kota. Kecurigaan kami terbukti, para pedagang bahan batu akik yang kami temui mengutarakan hal yang cukup mencengangkan.

Para pedagang, yang notabene adalah penduduk asli kabupaten tersebut, tidak pernah mengetahui jika daerahnya memiliki potensi batu akik. “Ah itu mah bisa-bisanya bupati saja agar wilayah kami terkenal, mumpung masyarakat sedang demam batu” lugas mereka.

Bluffing yang juga dapat diartikan membual atau bahkan ada juga yang menyatakannya sebagai menyatakan kebohongan secara sengaja untuk meningkatkan awareness, yang berujung pada peningkatan angka penjualan seperti kenyataan di atas bukanlah hal baru dalam dunia bisnis.

Uniknya masyarakat seperti terhipnotis, mereka menyadari telah tertipu, namun seringkali konsumen seperti membiarkan hal tersebut berlangsung. Alih-alih marah, konsumen sepertinya justeru menikmati situasi ini meskipun mereka telah dibohongi mentah-mentah.

Penulis menemukan beragam literatur yang memaparkan Bluffing vs Business Ethics, Harvard Business Review edisi Januari 1968 misalnya mengangkat tema “Is Business Bluffing Ethical?” yang ditulis oleh Albert Z. Carr.

Dalam tulisannya, Carr menyatakan bahwa seringkali sulit melepaskan bluffing dari proses bisnis, dan Carr juga menggarisbawahi bahwa praktik bluffing ini tidak terkait langsung dengan moral atau nilai-nilai dari entitas bisnis itu sendiri.

Bluffing semata dilakukan untuk mengangkat kualitas yang sebenarnya tidaklah sebagus yang diberitakan umumnya melalui iklan, atau dimaksudkan untuk menutupi kekurangan yang dianggap dapat memicu kegagalan dalam proses penjualan. Pada umumnya bluffing hanya dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

Artikel Carr tersebut sempat mengundang kontroversi di kalangan pebisnis, khususnya di Amerika, dan menguak banyak praktik bluffing yang ternyata telah dilakukan selama puluhan tahun oleh perusahaan-perusahaan produsen beragam produk lainnya di Amerika.
Ironisnya banyak diantara perusahaan tersebut yang telah mendapatkan posisi yang baik di mata konsumen.

Namun, seperti yang telah disampaikan di atas, meski seringkali beberapa produk diiklankan secara berlebihan atau lebih jauh lagi jelas-jelas perusahaan membohongi publik dengan beragam produk yang ‘tidak seperti yang diiklankan’, namun tidak mengubah pandangan masyarakat terhadap produk tersebut.

Contoh sederhana adalah dalam bisnis media massa, terutama koran atau majalah. Seringkali para penerbit berbohong menyangkut jumlah oplah yang mereka terbitkan dalam satu edisi penerbitan. Namun apakah pembaca ‘peduli’ dengan kenyataan ini? Sepertinya tidak. Media massa yang jelas-jelas berbohong tentang jumlah oplah mereka masih tetap dibeli dan dibaca oleh para pelanggannya. Bahkan para pemasang iklan juga tetap memasang iklan di media tersebut.

Akan tetapi kondisi sekarang tentunya telah sangat berbeda, terutama untuk sektor industri makanan atau minuman. Di era penuh keterbukaan, konsumen dapat dengan mudah mencari dan menemukan beragam kebohongan yang dilakukan produsen. Sekali saja mereka menemukan kebohongan tersebut mereka akan meninggalkan produk tersebut untuk beralih ke brand pengganti, bukan lantaran brand pengganti lebih baik, namun lebih lantaran brand tersebut belum lagi terkuak kebohongannya.

Fakta Seputar Business Bluffing

Penulis berhasil mengumpulkan fakta mengejutkan, perihal bagaimana sebuah bisnis ‘berbohong’ semata untuk meningkatkan penjualan produk mereka, entah mengenai kandungan yang tidak seperti yang tertera di kemasan, atau bahkan manfaat atau kelebihan produk yang diperkenalkan kepada konsumen tanpa proses penelitian yang baik. Berikut adalah beberapa faktanya.

Skechers. Pernahkah Anda melihat atau bahkan telah membeli sepatu Skechers yang desainnya dipercaya mampu membakar kalori secara lebih efektif dan membuat kaki lebih jenjang? Tipe sepatu yang dinamakan Shape-Up ini sempat menjadi fenomena di kalangan penggila sepatu sneaker.

Namun ternyata semua itu hanya kebohongan belaka. Tidak pernah ada penilitian ilmiah yang mendukung Shape-Up. Untuk ‘kesalahan yang disengaja’ ini Skechers harus membayar lebih dari 40 juta Dolar Amerika kepada Komisi Perdagangan Federal AS.
Pfizer. Produsen obat kumur pembasmi bakteri Listerine ini, pernah mengiklankan Listerine mampu menghilangkan karang gigi secara efektif, namun penelitian yang dilakukan oleh Komisi Perdagangan Federal AS membuktikan kenyataan yang berbeda. Listerine tidak terbukti secara efektif mampu menghilangkan karang gigi. Akibatnya pihak Federal meminta Pfizer menghentikan iklan tersebut.

Olay. Produk krim penghilang kerutan wajah ini pada tahun 2009 pernah didamprat oleh otoritas hukum di Britania Raya, lantaran iklannnya yang dikatakan mampu menghilangkan kerutan wajah di usia paruh baya (dalam iklan Olay menggunakan Model ternama Twiggy), ternyata tampilan Twiggy dalam iklan tersebut telah dimanipulasi dengan software Photoshop, terutama upaya menghilangkan kerutan-kerutan di daerah mata sang model.

Untungnya Olay dengan bijak menanggapi sorotan ini dan di sebuah media berpengaruh pihak Olay menyatakan bahwa mereka menyadari mereka sudah melakukan kesalahan dan berjanji untuk me-review setiap tahapan proses pembuatan iklan sehingga kesalahan serupa tidak lagi terjadi di masa mendatang.

Walmart. Inilah contoh nyata betapa konsumen tidak peduli dengan kebohongan yang dilakukan oleh produsen dalam hal ini Walmart di China. Bukan hanya kebohongan dalam skala kecil bahkan kebohongan yang masuk kategori luar biasa saja konsumen masih tetap loyal.
Justru otoritas Pemerintah China yang meradang, dan merasa kebohongan ini harus diakhiri. Oleh karenanya, pada tahun 2011, beberapa gerai Walmart dipaksa untuk berhenti beroperasi lantaran mereka memberikan label daging babi organik pada daging babi yang bukan organik.

Konsumen bukan hanya dibohongi namun juga dipaksa untuk membayar lebih mahal dari harga yang seharusnya. Temuan ini ternyata memicu temuan lain yang juga cukup mengejutkan, Walmart China dituduh melakukan 21 pelanggaran iklan, kesalahan dalam pencantuman label, penyajian bahan makanan yang tidak mengacu pada protokol kesehatan makanan dan beberapa pelanggaran lainnya.

Tentunya berbisnis dengan mengacu etika bisnis jauh lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Konsumen yang bahagia, sehat, dan merasa diuntungkan jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat yang justru menyimpan potensi kerugian yang luar bisa di masa mendatang. Berbisnislah dengan benar. Tentunya berbisnis yang beretika, tanpa embel-embel kebohongan.

*Tulisan dimuat BUMN Insight Online, 25 Juni 2015.

????????????????????????????????????Suhendi Suaeb
Corporate Relation PPM Manajemen
NDI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s