GO-JEK: Bahkan Rasa Frustrasi Bisa Menjadi Ide Bisnis Cemerlang

go jekBagi Anda kaum urban, ada pemandangan menarik di jalan raya. Semakin sering kita jumpai orang yang mengendarai motor dimana si pengemudi mengenakan jaket dan helm khas yang berwarna hijau. Mereka memboncengkan penumpang dengan menggunakan helm yang serasi dengan yang dikenakannya.

Jika Anda terbiasa menggunakan ojek, pasti sering melihat tukang ojek yang terlihat berbeda penampilannya di antara tukang ojek lainnya. Ya, mereka itu adalah salah satu pasukan dari GO-JEK, suatu perusahaan penyedia jasa transportasi roda dua alias ojek yang saat ini sedang menjadi fenomena.

Bagaimana mereka bisa menjadi fenomena? GO-JEK menawarkan suatu proposisi nilai yang berbeda jika dibandingkan jasa layanan konvensional. Bahkan pada tingkat ekstrem, GO-JEK mengubah persepsi masyarakat terhadap suatu standar layanan transportasi.

Dengan menggunakan jasa GO-JEK, anda akan diantarkan oleh ‘tukang ojek’ yang lebih profesional–ramah, tidak ugal-ugalan, bahkan memberikan anda helm untuk menunjukkan bahwa Anda aman bersama mereka.  Selain itu, Anda juga akan mendapatkan kepastian tentang harga jasa bahkan dengan alternatif pembayaran.

Menunggu ojek pun tidak lagi harus di pinggir jalan dengan melambaikan tangan. Cukup dari tempat Anda duduk, angkat telepon pintar atau unduh aplikasinya, hubungi GO-JEK, dan tukang ojek tersebut akan menghubungi Anda ketika mereka sudah tiba dan siap untuk mengantarkan Anda.

Namun, menawarkan proposi nilai yang berbeda adalah suatu hal yang biasa-biasa saja dan tampaknya tidak serta merta membuat GO-JEK menjadi fenomena dan bertumbuh seperti sekarang ini.

Jumlah armada yang semakin membesar, wilayah operasi yang semakin luas, serta jasa layanan yang terus berkembang juga tidak muncul semata-mata karena hanya semangat ingin berbeda tersebut. Bahkan kompetitor pun sudah mulai bermunculan dan menawarkan proposi nilai hampir tidak ada bedanya lagi.

Selain semangat untuk berbeda, sebenarnya ada hal lain yang lebih tepat dalam proses perumusan nilai kepada konsumen, yaitu ketepatan dalam membaca keinginan mereka dan memberikan produk yang sesuai. Tepat dalam membaca keinginan konsumen akan lebih menguntungkan daripada terus berupaya membedakan penawaran nilai terhadap pesaing.

Membaca keinginan konsumen secara tepat bukan perkara yang mudah, bahkan tidak sedikit juga yang berpikir terlalu rumit untuk merumuskannya. Sebenarnya hanya ada satu kata kunci sederhana namun cukup sakti dalam upaya penggalian keinginan konsumen, yaitu EMPATI.

Empati secara definitif adalah memposisikan diri pada perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain (baca: konsumen) – put someone else of your shoes. Empati dalam model bisnis, diwujudkan dengan identifikasi terhadap beberapa kondisi yang terjadi dari konsumen, antara lain: (1) apa yang mereka pikirkan dan rasakan; (2) apa yang mereka dengar dan rasakan; serta (3) apa yang mereka katakan dan lakukan.

Kota metropolitan seperti Jakarta sudah identik dengan kemacetan. Prestasinya sebagai salah satu kota termacet di Indonesia sudah pasti membuat mimpi buruk bagi siapa pun yang berkunjung atau tinggal di kota ini.

Bayangkan saja, untuk pergi dari rumah ke kantor dengan menggunakan kendaraan pribadi, sudah lumrah untuk mengalokasikan 2 jam waktu perjalanan. Sampai ada anekdot bahwa ‘orang kota tua di jalan’.

Tidak sedikit juga dari kaum urban yang menghindari kemacetan dengan berangkat ke kantor lebih awal dan pulang paling malam. Sampai-sampai seorang ayah atau ibu pergi ke kantor ketika anaknya tidur dan pulang ketika anaknya sudah kembali tidur. Sungguh membuat frustasi!

Sebenarnya sudah diketahui secara umum bahwa solusi untuk menghindari kemacetan ialah dengan menggunakan angkutan umum. Sayangnya, pada sebagian kota besar di Indonesia, solusi tersebut tidak kalah membuat frustasi.

Tidak adanya kepastian dan ketepatan jadwal, perilaku pengemudi dan awaknya yang kurang bertanggung jawab, hingga rasa tidak aman dan nyaman yang tercipta, menjadi sekian alasan yang membuat kita enggan untuk beralih ke angkutan umum.

Namun selama prasarana yang digunakan masih sama, maka akan kembali ke masalah utama juga, yaitu waktu tempuh yang lama karena macet sehingga sampai saat ini sebagian besar kaum urban menggunakan motor atau menumpang ojek.

Bagi masyarakat, kebutuhan transportasi menjadi salah satu kebutuhan primer sehingga kebutuhan akan jasa layanan transportasi yang cepat, pasti, aman, nyaman, dan terjangkau menjadi semakin mendesak. Rasa frustasi (pain) pada masyarakat menjadi ide awal dari didirikannya GO-JEK dan mereka memberikan solusi atas hal tersebut (gain).

Saat anda frustasi terhadap tukang ojek yang ugal-ugalan, tidak ramah, kurang rapi, dengan GO-JEK anda akan justru akan mendapatkan tukang ojek yang bersahabat dan dapat diandalkan. Di saat anda frustasi ketika menunggu ojek di pinggir jalan yang berdebu atau becek, seperti yang dituturkan Cinta Laura, anda dapat menunggu dengan duduk manis di ruangan anda sampai ojeknya datang.

Di saat anda frustasi dan khawatir uang anda tidak cukup serta malas tawar menawar ongkos, anda diberikan informasi harga dan jarak tempuh yang transparan. Di saat anda frustasi tidak memiliki uang tunai sebagai alat pembayaran ongkos, anda akan mendapatkan alternatif pembayaran lainnya.

Dengan adanya rasa empati kepada konsumen, lebih mudah bagi kita untuk memformulasikan produk yang diharapkan menjadi solusi (gain) dalam mengakhiri kesulitan atau penderitaan (pain) yang dialami konsumen.

Kesulitan dan harapan solusi dari konsumen tersebut tentu saja harus ditinjau juga tingkat kemendesakannya. Semakin mendesak kesulitan dan harapan tersebut, maka akan semakin sering mereka membeli solusi dari kita. GO-JEK sudah membuktikannya kepada kita.

Jika Anda sudah memiliki bisnis, teruslah berempati kepada konsumen dan memberikan solusi terbaik atas rasa frustasi yang dialami mereka. Semakin Anda berempati kepada konsumen, semakin dekat juga konsumen dengan Anda.

Jika Anda sedang mencari ide bisnis baru, bertindaklah seperti calon konsumen anda. Berempatilah terhadap kondisi mereka, rasakan juga penderitaan dan tangkap rasa frutasi mereka. Jika Anda mampu menciptakan solusi maka dapat dipastikan bisnis Anda akan menjadi GO-JEK selanjutnya!

*Tulisan dimuat Business Review Online, 28 Juni 2015.

Kokoh Ronald blogKokoh Ronald Aruan, ST, MM, CSCP
Kepala Divisi Konsultansi & Riset PPM Consulting, PPM Manajemen
KRA@ppm-manajemen.ac.id

2 thoughts on “GO-JEK: Bahkan Rasa Frustrasi Bisa Menjadi Ide Bisnis Cemerlang

  1. Saya salut betul sama GO-JEK ini, selain jadi solusi di jakarta yang macet juga membuka peluang kerja buat orang-orang yang butuh pekerjaan. Jangan salah, karna frustasi & kepepet Bill Gates pun ngebeli OS dari Xerox yang dibranding jadi MS-DOS😀

    Raafi – Plaza Bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s