Industri Alat Berat Ala BUMN Indonesia

alat berat pindad
“Menperin Saleh Husin Tantang Pindad Kembangkan Produksi.” Demikian tajuk siaran pers Kementerian Perindustrian RI pada 28 Februari lalu, yang dirilis saat Menteri Perindustrian berkunjung ke fasilitas produksi PT Pindad (Persero) di Bandung.

Dalam pikiran yang sederhana, mungkin tantangan yang disampaikan oleh Menperin tersebut didasari atas keyakinan bahwa bila Pindad telah terbukti mampu menghasilkan berbagai produk unggul untuk sektor pertahanan dan keamanan, tentunya akan lebih mudah pula bagi perusahaan untuk juga menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan industri lain, alat berat konstruksi misalnya.

Dalam kerangka rantai pasok (supply chain) dengan pendekatan Supplier-Input-Process-Output-Customer (SIPOC), industri manufaktur alat berat dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan industri otomotif.

Pada umumnya, baik perusahaan manufaktur otomotif maupun alat berat lebih berperan sebagai perancang, perakit dan integrator dari sejumlah komponen dan sub-sistem produk, yang dapat dinyatakan sebagai pasokan (input). Berbagai input tadi akan disediakan oleh para pemasoknya (supplier).

Perbedaan yang sangat mencolok di antara keduanya mungkin berada pada segmen penggunanya. Bila produk otomotif dapat ditujukan kepada konsumen perorangan untuk dimanfaatkan, baik sebagai barang konsumsi maupun alat produksi, maka produk alat berat pada umumnya ditujukan kepada segmen pelaku usaha yang memanfaatkan produk tersebut sebagai alat produksinya.

Alat berat konstruksi (maupun alat berat untuk operasionalisasi sektor pertambangan), seperti excavator, dozer, loader, grader, compactor, dan sebagainya, secara kasat mata terdiri dari berbagai komponen yang diproduksi melalui proses pengerjaan logam yang sarat dengan muatan teknologi.

Perusahaan manufaktur yang telah lama memproduksi alat berat sekalipun belum tentu akan melakukan sendiri produksi segala komponennya sendiri.

Penguasaan teknologi pengerjaan logam seperti penempaan (forging), pengecoran logam (foundry), proses pemesinan berat (heavy machining), fabrikasi berat, dan berbagai proses spesifik lainnya tentunya tidak dengan mudah dikuasai oleh perusahaan tadi seorang diri dengan berbagai pertimbangan economic of scale dan economics of scope.

Proses outsourcing yang melibatkan supplier yang menyediakan input akan menjadi jawabannya.

Selain komponen-komponen yang diproduksi dengan teknologi pengerjaan logam tadi, ada pula komponen atau sub sistem elektrikal dan elektronik, yang juga disediakan oleh supplier. Belum lagi terdapat sejumlah jasa pendukung teknis untuk keperluan penjaminan kualitas produk. Semua akan disediakan oleh supplier.

Kembali lagi, perusahaan di sini akan lebih berperan sebagai pengelola rancang bangun yang mampu menerjemahkan keinginan konsumen pengguna, serta berperan aktif dalam mengintegrasikan semua kepingan-kepingan input yang disediakan oleh supplier tadi.

Suatu hal yang lazim dilakukan oleh industri otomotif asal negara Matahari Terbit yang beroperasi di negeri ini adalah sebagian besar komponen kendaraan bermotor hasil produksi mereka masih melibatkan sejumlah supplier, entah yang berasal dari negara asalnya maupun yang diajak untuk beroperasi di Indonesia sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM) kendaraan produksinya.

Tantangan yang dilontarkan Menperin Saleh Husin tadi, tentunya tidak dapat dibaca sebagai tantangan bagi Pindad seorang diri. Mengacu kepada analisis sederhana mengenai rantai pasok industri alat berat tadi, tantangan tersebut juga harus dijawab oleh sejumlah industri manufaktur BUMN yang memang telah lama berpengalaman menguasai teknologi pengerjaan logam untuk industri berat.

Kita masih memiliki PT Barata Indonesia (Persero) dan PT Boma Bisma Indra (Persero), dengan segala kemampuannya memproduksi komponen peralatan industri berat. Bahkan BUMN yang disebutkan tadi memang terbukti telah menjadi penyedia komponen peralatan berat pertambangan bagi PT Bukit Asam (Persero) selama ini.

Jangan pula dilupakan, bahwa supplier-supplier tadi juga membutuhkan pasokan baja sebagai bahan bakunya (input). Di titik ini mungkin kita memiliki PT Krakatau Steel (Persero), Tbk yang dapat diharapkan memainkan peran strategisnya.

Akan halnya sub sistem elektrikal dan elektronis, kita juga memiliki PT Len Industri (Persero). Bila melayani industri pertahanan, transportasi, komunikasi dan energi alternatif saja Len Industri telah mampu menunjukkan kemampuannya, tentunya tidak terlalu sulit bila perusahaan harus menjawab tantangan mengembangkan sistem elektrikal dan elektronik alat berat konstruksi.

Begitu pula dengan jasa pendukung teknis untuk penjaminan kualitas. Di posisi ini kita dapat mengharapkan PT Sucofindo (Persero), PT Surveyor Indonesia (Persero), PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), bahkan PT Industri Nuklir Indonesia (Persero), untuk berperan sesuai dengan kompetensi dan kapabilitasnya.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa segenap kompetensi fasilitas perekayasaan dan produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero) dapat dimanfaatkan keterlibatannya untuk memperkuat rantai pasok tersebut.

Bila memproduksi pesawat terbang yang penuh dengan teknologi presisi saja BUMN kita mampu maka bukan hal yang sulit kiranya menjawab tantangan memproduksi alat berat konstruksi karya putera-puteri Indonesia.

Itu tadi baru di sisi S-I (supplier dan input). Pada sisi O-C (output dan customer), siapa yang akan tertarik menggunakan alat berat konstruksi hasil karya kita? Perusahaan-perusahaan di indusri konstruksi tentunya. Pada titik ini kita memiliki sejumlah BUMN konstruksi dan infrastruktur yang mengemban amanah percepatan pembangunan infrastruktur.

Kebutuhan akan infrastruktur sangat mendesak, dan butuh percepatan dalam pemenuhannya. Pembangunan infrastruktur yang intensif membutuhkan pula kehadiran industri konstruksi yang siap dalam segala kompetensi dan kapabilitas SDM dan alat kerjanya.

Industri alat berat yang bersaing dibutuhkan kehadirannya di sini. Dan industri alat berat, yang terdiri dari rantai pasok yang terintegrasi seperti analisis di atas, sebenarnya sangat berpotensi untuk dihadirkan oleh BUMN-BUMN kita.

Memang terlihat mudah, di atas kertas dan dalam konteks wacana. Tentunya pada kenyataannya nanti tetap akan terdapat berbagai potensi permasalahan yang bila tidak dicermati dapat menggugurkan embrio industri alat berat ala BUMN kita.

Menghilangkan ego sektoral tentunya sangat dibutuhkan di sini. Saling memahami peran masing-masing mata rantai dari keseluruhan rantai pasok, dan memahami tuntutan mata rantai berikutnya (customer) adalah suatu hal yang mutlak dalam membangun sinergi.

Di samping hal tersebut, kebijakan Pemerintah yang berpihak pada peningkatan daya saing BUMN kita juga sangat diharapkan kehadirannya.

*Tulisan dimuat BUMN Insight Online, 2 Juli 2015.

APZAlphieza Syam
Consultant and Trainer PPM Manajemen
PZA@ppmmanajemen.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s