Fenomena Kenaikan Harga pada Bulan Puasa dan Lebaran: Benarkah Tidak Bisa Diantisipasi?

diskon lebaranBetapa seringnya kita mendengar berita mengenai lonjakan harga pada bulan puasa dan lebaran. Namun seolah-olah kenaikan ini dianggap sebagai keniscayaan yang tidak bisa diantisipasi. Mengapa harus diantisipasi? Bukankah kenaikan ini wajar terjadi di tengah permintaan yang meningkat?

Kenaikan adalah hal yang wajar. Namun apabila terus berlanjut dan menyebabkan inflasi maka hal ini yang akan memberatkan. Kenaikan ini menjadi tidak wajar pula karena kenaikan ini selalu terjadi pada saat bulan puasa dan lebaran.

Ditinjau dari aspek supply chain maka seharusnya kenaikan harga ini bisa diantisipasi dengan persediaan yang mencukupi. Pertanyaan selanjutnya adalah berapa banyak dan sampai kapan persediaan tersebut dilakukan. Marilah kita kupas fenomena ini dari berbagai aspek terkait agar kenaikan ini bisa dihindari dan masyarakat tidak berat menjalani bulan puasa dan lebaran karena membelanjakan uang lebih banyak dari yang seharusnya.

Fenomena Kenaikan Harga

Kenaikan harga terjadi bila permintaan lebih tinggi daripada penawaran (supply). Jadi ada dua hal yang perlu dipelajari, yaitu permintaan yang lebih tinggi dan penawaran yang tidak bisa memenuhinya. Permintaan pada bulan puasa dan lebaran memang melonjak lebih tinggi. Seberapa besar lonjakan permintaannya belum ada data yang bisa memastikan hal tersebut.

Hal yang berikutnya adalah penawaran, dimana sisi penawaran atau suplai ini tergantung pada musim panen dan cuaca yang mendukung. Contoh nyata adalah akibat gagal panen karena musim penghujan yang terus-menerus menyebabkan gagal panen komoditas cabai.

Aksi ambil untung dari pemain pasar juga menjadi kendala untuk menghindari kenaikan harga. Penjual tentu saja akan berusaha mengambil untung yang sebesar-besarnya. Bagaimana mereka mengambil untung yang sebesar-besarnya? Yakni dengan mengendalikan persediaan sehingga keuntungan per unit yang dijual sangat maksimal. Terlebih apabila struktur pasar yang ada cenderung oligopoli atau bahkan monopoli, maka harga akan lebih mudah dipermainkan pasar.

Perilaku konsumen juga mendorong kenaikan harga ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Karena momen bulan puasa dan lebaran adalah momen ritual yang berharga sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin untuk membeli walaupun dengan harga yang mahal. Momen lain yang memiliki perilaku yang sama adalah pada saat tahun ajaran baru untuk kebutuhan sekolah, seperti buku dan baju seragam.

Itulah beberapa hal yang menyebabkan kenaikan harga barang yang perlu diketahui sebelum kita membahas bagaimana langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan.

Fenomena Bulan Puasa dan Lebaran

Bulan puasa dan lebaran merupakan momen tahunan paling besar bagi masyarakat muslim di tanah air. Pada bulan puasa masyarakat terbiasa untuk menghidangkan makanan yang terbaik dengan jumlah yang mungkin lebih banyak dari biasanya. Sesuatu yang seharusnya bertolak belakang dengan semangat ibadah puasa, dimana kita diwajibkan untuk menahan diri dari makan minum dan nafsu yang berlebihan.

Adapun lebaran adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu masyarakat karena tradisi yang berlaku pada momen ini adalah kembalinya para perantau ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari lebaran bersama keluarga. Terjadi mobilitas orang, kendaraan, barang, dan uang yang berkali-kali lipat dari biasanya sehingga kenaikan harga tidak bisa dihindari pada momen ini.

Kedua hal di atas menjelaskan tentang perilaku masyarakat pada bulan puasa dan lebaran yang cenderung menjadi tradisi, bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Namun karena menjadi tradisi maka membeli makanan atau pakaian yang lebih baik dan lebih banyak menjadi sesuatu yang hukumnya menjadi wajib dilakukan. Perilaku inilah yang menyebabkan selalu terjadinya kenaikan harga.

Antisipasi dan Solusi

Jadi bagaimana menangani permasalahan kenaikan harga yang selalu terjadi saat ini? Seperti penjelasan di atas bahwa kenaikan harga disamping disebabkan oleh hukum supply dan demand, juga disebabkan oleh perilaku konsumen yang mendorong terjadi lonjakan permintaan dan kenaikan harga. Jadi ada dua permasalahan pokok yang harus ditangani untuk fenomena ini, yaitu:

  • Peningkatan supply untuk memenuhi peningkatan demand;
  • Perubahan perilaku masyarakat pada bulan puasa dan lebaran yang mendorong peningkatan konsumsi.

Peningkatan supply perlu dilakukan dengan cara mempersiapkan sediaan (stock) yang cukup dan melakukan operasi pasar agar barang lebih mudah didapatkan di pasaran. Mempersiapkan sediaan harus dilakukan dengan mengantisipasi pengaruh musim terhadap hasil panen atau dengan melakukan impor agar persediaan selalu cukup di pasaran.

Operasi pasar perlu dilakukan secara massive untuk membendung aksi pelaku pasar yang berusaha mengambil untung terlampau besar dengan memanfaatkan momen bulan puasa dan lebaran ini. Operasi pasar yang ada saat ini dirasa kurang efektif karena dilakukan hanya di tempat-tempat tertentu dan tidak tersebar.

Kendala yang ada terkait dengan operasi pasar ini adalah kemampuan distribusi yang terbatas dari otoritas yang ada sehingga perlu kerja sama dengan lembaga lain yang memiliki jaringan lebih luas.

Penulis dalam hal ini memberikan usulan dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki oleh aparat TNI untuk mendistribusikan sembako ini. Mengapa penulis mengusulkan hal ini? Karena TNI memiliki kantor hingga ke tingkat-tingkat kecamatan dan desa, serta memiliki armada yang bisa dioptimalkan untuk melakukan kegiatan pendistribusian.

Satu hal lagi adalah kompetensi bidang logistik yang dimiliki oleh TNI dirasakan cukup untuk menerima tanggung jawab untuk mendistribusikan hal ini. Satu hal lagi adalah TNI merupakan aparat negara yang kemungkinan besar mendukung program operasi pasar ini tanpa kendala, baik dari dalam lembaga maupun dari luar lembaga.

Hal berikutnya yang dirasakan sulit adalah mengubah perilaku masyarakat untuk tidak berlebihan dalam membelanjakan uangnya untuk keperluan bulan puasa dan lebaran. Kecenderungan untuk berlebih-lebihan dalam mempersiapkan makanan juga tidak dianjurkan dalam agama Islam.

Seharusnya dalam bulan puasa permintaan tidak meningkat malah cenderung turun karena masyarakat muslim porsi makannya berkurang hanya dua kali pada saat sahur dan berbuka puasa, tidak seperti hari biasa dimana porsi makannya tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam.

Satu hal lagi yang membuat lebaran menjadi ajang silaturahmi keluarga adalah adanya masa liburan yang relatif panjang apalagi jika bersamaan dengan liburan sekolah sehingga semua anggota keluarga bisa berkumpul bersama pada masa liburan lebaran.

Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang muslim, tetapi juga mereka yang non-muslim yang juga memanfaatkan masa libur panjang ini untuk berkumpul bersama keluarga besar. Jadi benang merah dari momen lebaran ini adalah adanya masa liburan massal di seluruh Indonesia pada saat dan sesudah lebaran.

Pemerintah dalam hal ini bisa berperan memberikan solusi dengan memberikan liburan panjang dan massal alternatif. Misalkan disebutkan sebagai liburan “Akhir Tahun” dan lainnya. Dimana liburan ini panjangnya 1 minggu, bersifat massal seperti libur lebaran.

Libur ini dipastikan akan memecah kepadatan liburan lebaran. Lonjakan permintaan barang, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya akan terpecah tidak hanya pada masa liburan lebaran, tetapi juga pada liburan panjang lainnya. Lonjakan permintaan akan menurun dan mengurangi kenaikan harga karena keterbatasan supply.

Jadi masyarakan tidak akan mampu secara mandiri mengatasi kenaikan harga dengan mengubah perilakunya. Pemerintahlah yang harus menentukan regulasi untuk menurunkan lonjakan permintaan tersebut dengan mengakomodir kebutuhan masyarakat untuk bisa berkumpul dengan keluarga besar tidak hanya pada libur lebaran, tetapi juga pada libur akhir tahun.

*Tulisan dimuat Business Review online, 5 Juli 2015.

ern blogErni Ernawati, STP, MM, CSLP
Core Trainer PPM Manajemen
ERN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s