Spiritualitas dan Kinerja Organisasi

spirituality-itSaya ingin membahas mengenai spiritualitas, bukan karena saat ini sedang Ramadhan. menurut saya sangat menarik bila spiritualitas yang ‘tidak rasional’ itu ternyata merupakan faktor penting dalam upaya mencapai kinerja perusahaan yang serba rasional.

Spiritualitas (spirituality), boleh dikata kini sedang naik daun. Hal tersebut tidak melulu ditunjukkan oleh semakin menggeloranya gelombang kelompok New Age yang notabene banyak peminatnya juga berasal dari kalangan bisnis. Lihat saja kelompok buku-buku best seller di Amerika dan juga di Indonesia. Buku-buku yang membahas spiritualitas laku bak kacang goreng.

Kursus-kursus spiritualitas pun kini laku keras. Baru satu minggu diiklankan sudah fully booked. Yang hadir pun ternyata para eksekutif dari berbagai perusahaan. Bahkan kemudian perusahaan-perusahaan kini meminta kursus yang berbau spiritualitas dilaksanakan secara in-house.

Hal yang juga menarik, spiritualitas, sejak tiga tahun yang lalu menjadi salah satu topik yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan eksekutif terkemuka di dunia. Misalnya pendidikan para eksekutif di sekolah bisnis terkemuka di Sloan (Massachussettes Institute of Technology [MIT] Amerika) dan di Oxford Strategic Leadership program, Universitas Oxford, Inggris.

Spiritualitas selama ini sangat kurang mendapat tempat di antara bidang-bidang kajian bisnis dan manajemen. Salah satu upaya para akademisi dari University of Southern California (USC) untuk memetakan penelitian-penelitian mengenai spiritualitas dalam bisnis menunjukkan bahwa tidak ada studi empiris mengenai pandangan manajer dan eksekutif terhadap spiritualitas.

Kajian-kajian spiritualitas di tempat kerja atau diperusahaan yang dilakukan oleh para akademisi terkemuka di dunia, selama ini lebih banyak mengemukakan pandangan pribadinya atau perasaannya atau written more from the heart. Oleh sebab itu kandungan ilmiahnya pun diragukan.

Apa sih spiritualitas itu? Pertanyaan tersebut tampaknya merupakan salah satu jawaban mengapa spiritualitas tidak banyak didiskusikan dalam forum ilmiah. Selama ini spiritualitas dipercaya sebagai fenomena yang terlalu samar-samar untuk dikaji secara ilmiah. Spiritualitas juga dipercaya merupakan bagian dari agama, oleh sebab itu sebaiknya dikaji oleh para akademisi di bidang agama, bukan akademisi di bidang bisnis atau manajemen.

Di Amerika, spiritualitas mempunyai nama buruk. Masyarakat Amerika bisa dengan fasih menyebutkan berbagai kasus pembunuhan masal di berbagai tempat di Amerika maupun di dunia karena pemujaan berlebihan pada hal-hal yang tidak bisa diterima secara rasional. Hal seperti itu diberi label spiritualitas. Mungkin juga hal ini terjadi di Indonesia.

Dalam kurun 1996-1999 telah dilakukan penelitian mengenai spiritualitas di perusahaan oleh para akademisi dari USC, MIT, dan Oxford University. Walau penelitian ini dilakukan secara terpisah, namun hasilnya kurang lebih mirip.

Ada tiga hal utama yang ingin dijawab oleh penelitian tersebut, yaitu (1) Apa yang dimaksud dengan spiritualitas; (2) Apakah spiritualitas mempunyai korelasi positif terhadap kinerja individu dan organisasi?; dan (3) Bagaimana organisasi bisa memanfaatkan spiritualitas untuk meningkatkan kinerjanya.

Apa yang dimaksud dengan spiritualitas? Para peneliti dari USC mendefinisikan spiritualitas sebagai ‘perasaan terhubungkan dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam semesta secara utuh.’ Para peneliti memilih kata interconnectedness sebagai satu kata yang dirasa paling dapat merefleksikan maksud dari spiritualitas itu.

Mungkin definisi ini terlalu sederhana untuk dapat menangkap seluruh perasaan 100 orang eksekutif berbagai fungsional yang diwawancara dalam proyek penelitian USC, plus 131 orang manajer SDM yang mengembalikan kuesioner, ketika mereka menggambarkan persepsi mereka mengenai spiritualitas. Namun untuk suatu kajian awal, definisi ini akan sangat membantu.

Apakah spiritualitas mempunyai korelasi positif terhadap kinerja individu dan organisasi? Ketika para narasumber ditanyakan hal-hal yang membuat mereka senang dengan pekerjaannya sehingga dapat menunjukkan kinerja yang prima.

Jawaban yang dikemukakan kelompok eksekutif dan kelompok manajer SDM relatif sama, yakni (1) Kesempatan untuk mengekspresikan seluruh potensi diri sebagai seorang manusia; (2) Diasosiasikan dengan organisasi yang etis/baik; (3) Pekerjaannya menarik; dan (4) Uang.

Bila menganalisis jawaban para narasumber, maka definisi spiritualitas di atas mengindikasikan adanya ketidaklengkapan yang terjadi saat individu bekerja dalam organisasinya. Bila seseorang bekerja maka ia dituntut terutama untuk mengerahkan intelektualitasnya. Oleh sebab itu para eksekutif pun merasa lebih mudah mengekspresikan intelektualitasnya daripada emosi atau perasaannya di tempat kerja.

Temuan ini tidak mengejutkan karena desain pekerjaan di organisasi-organisasi konvensional memang demikian. Jadi disini terjadi pemisahan antara otak dengan hati (emosi, perasaan), yang sangat kontras dengan hal yang dianggap paling memberikan makna dalam bekerja pada para eksekutif: Kesempatan untuk mengekspresikan seluruh potensi diri sebagai seorang manusia.

Bagi mereka yang bekerja di organisasi nirlaba, apalagi yang ada hubungannya dengan agama, jangan keburu girang dengan hasil penelitian di atas. Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa organisasi nirlaba memberikan kesempatan yang lebih besar pada anggotanya untuk mengekspresikan diri secara utuh sebagai manusia, dibandingkan organisasi berorientasi laba.

Penelitian justru menunjukkan bahwa kelemahan organisasi nirlaba adalah tujuan perusahaan yang seringkali bermotifkan politis. Sedangkan pada organisasi nirlaba yang ada hubungannya dengan agama, sering menggunakan ajaran agamanya justru untuk membelenggu anggotanya mengekspresikan diri sebagai manusia.

Bagaimana organisasi bisa memanfaatkan spiritualitas untuk meningkatkan kinerjanya. Organisasi sering dimetaforakan dalam berbagai wujud: Mesin, organisma, ekosistem, otak, arena politik, dan lain sebagainya. Spiritualitas dipercaya dimiliki oleh makhluk hidup, khususnya manusia.

Oleh sebab itu, organisasi yang ingin mempertimbangkan spiritualitas dalam dinamikanya, wajib memandang dirinya sebagai sesuatu yang hidup. Yang tumbuh dan berkembang karena memberi dan menerima. Memberi pada anggotanya (karyawan/eksekutif), dan menerima dari anggotanya.

Para nahkoda organisasi perlu memikirkan dengan serius apa yang ingin dicapai oleh organisasinya. Kalau uang, ya berarti organisasi itu cuma mesin. Manusia kan tidak hanya butuh uang. Manusia juga ingin hidupnya bermakna. Penelitian Oxford University menunjukkan bahwa spiritualitas berkembang karena manusia krisis makna. Oleh sebab itu, kehadiran organisasi juga harus memberikan makna.

Satu hal penting yang tak boleh dilewatkan dari hasil penelitian ketiga lembaga pendidikan bisnis terkemuka di dunia tersebut adalah kenyataan bahwa organisasi yang etis atau yang baik biasanya dipandu oleh para pemimpin yang pernah mengalami krisis.

Namun hal ini tidak berarti bahwa organiasi harus mengalami krisis dahulu untuk menjadi ‘baik’. Juga tidak harus menjadi terlalu kaya dahulu sehingga kehilangan selera pada hal-hal yang rasional. Hari ini, saat ini pun kita bisa mulai. No organization can survive for long without soul.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir,
Dosen, Peneliti dan Konsultan PPM Manajemen
NKY@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Spiritualitas dan Kinerja Organisasi

  1. Halo Bu Ningky,apa kabarnya dan masih ingat dengan saya beberapa tahun yl kalau tidak keliru juga ada pak pak Alvin Soleh berbicara sedikit tentang “Lahiriah – Batiniah – Ilahiah (Spiritual)”. Silahkan berikut ini kontribusi saya tentang hal tsb dengan judul ”HUMAN KNOWLEDGE ENLIGHTENMENT PROCESS WITHIN NATURE KNOWLEDGE CONTINUUM : NATURE KNOWLEDGE THEORY (NKT) VIEW TOWARD M-THEORY* – URL http://ow.ly/PkNWF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s