Optimalisasi Kenaikan PTKP

tax-freeRencana pemerintah menaikkan pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari yang semula 24 Juta rupiah menjadi 36 Juta rupiah per tahun sontak beroleh respon positif dari masyarakat.

Respon senada juga terjadi di awal 2013 silam. Kala itu PTKP naik dari Rp. 15.800.000 menjadi Rp. 24.300.000 per tahun. Kenaikan ini diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat sehingga memicu pertumbuhan ekonomi khususnya menjelang penerapan era perdagangan bebas ASEAN di pengujung 2015 ini.

Bercermin pada realitas di 2013, kenaikan PTKP sebesar 54% mampu memicu pertumbuhan ekonomi hingga 0,08%. Tanda-tanda kenaikan tersebut terlihat jelas pada pertambahan lapangan kerja baru selama kuartal pertama yakni sebesar 0,0031%. Persentase inilah yang ke depan sangat diharapkan mampu mendongkrak perekonomian tanah air.

Menjelang penerapan masyarakat ekonomi ASEAN atau yang dikenal dengan MEA, masing-masing negara anggota terlihat tengah mencermati upaya-upaya yang dinilai mampu melindungi pasar domestik. Meski penetapan tarif sebagai salah satu bentuk proteksi telah diminimalkan melalui kebijakan ini, namun langkah menjaga stabilitas daya beli masyarakat merupakan salah satu elemen kunci.

Upaya menggairahkan daya beli masyarakat tergolong hal yang sulit. Peningkatan PTKP secara sepihak tidak serta merta memicu peningkatan daya beli. Terlebih, jika laju inflasi tak dapat ditahan. Pertambahan pendapatan yang diiringi oleh kenaikan harga barang-barang secara umum membuat posisi arus kas masyarakat berada pada posisi seimbang. Dalam konteks ini, pekerjaan rumah pemerintah tak selesai begitu saja. Kenaikan PTKP harus diimbangi oleh penahan laju inflasi yang efektif sehingga masyarakat akan mengalami peningkatan kesejahteraan.

Kompleks

Di masa sekarang ini, skema penahan laju inflasi terbilang kompleks. Alasannya, pertama, beban hidup masyarakat bertambah pasca kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa bulan terakhir. Meski tujuannya sangat tepat, namun efek domino kebijakan tersebut harus dipahami secara arif dan bijaksana. Harga barang-barang meningkat seiring dengan kenaikan biaya logistik dan transportasi. Apalagi untuk produk-produk pokok yang dijual di daerah dengan radius jarak cukup jauh. Niscaya konsumen jualah yang menanggungnya.

Kedua, sinyal perlambatan pertumbuhan industri domestik kini mulai menyala. Sejumlah besar perusahaan terpaksa memilih opsi pemutusan hubungan kerja bagi sebagian karyawan menyusul tingginya biaya operasi. Ujung-ujungnya untuk menjaga harga jual pada posisi yang kompetitif, manajemen memilih melakukan upaya efisiensi yang ketat.

Untuk menjaga efektivitas kebijakan kenaikan PTKP (sisi konsumen), pemerintah perlu menyiapkan insentif dari sisi produsen. Pemberian tax holiday dalam jangka menengah dinilai sebagai opsi menarik. Pelemahan Rupiah hingga di level Rp. 13.000 telah membuat industri ‘gigit jari,’ terutama mereka yang bergantung pada bahan impor. Di sisi lain, peralihan dari bahan impor ke bahan lokal tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Meski demikian setidaknya realitas ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran yang terbaik untuk tidak bergantung hanya pada bahan baku impor. Untuk itu kesiapan infrastruktur dalam negeri yang mendukung penggunaan bahan lokal perlu dicermati secara strategis.

Upaya pemberian insentif lainnya adalah dengan menyediakan dukungan dana berbiaya kompetitif bagi kalangan industri yang terpaksa harus melakukan restrukturisasi keuangan. Kini dengan spread bunga lebih dari 6 persen, industri tidak akan tumbuh secara efektif. Jika ditambah dengan kenaikan risiko dan pelemahan nilai tukar maka spread suku bunga kredit dan simpanan diprediksi akan meningkat hingga 8 persen.

Apabila pemerintah mampu menurunkan spread hingga 4-5 persen niscaya alarm perlambatan pertumbuhan akan terhenti. Disitulah roda perekonomian akan semakin cepat berputar. Alhasil, perusahaan berpeluang untuk mempertahankan stabilitas operasinya sekaligus beroleh peningkatan pendapatan.

Dengan cara ini masyarakat sebagai bagian dari perusahaan juga turut memperoleh dampak positif berupa peningkatan pendapatan. Saat itu terjadi maka wacana kenaikan PTKP akan membuahkan tambahan dana segar siap konsumsi.

*Tulisan dimuat majalah Pajak Volume XVI, Juli 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s