Peluang Pemerataan Kesejahteraan Melalui Tradisi Mudik

mudikSepuluh hari menjelang Hari Haya Idul Fitri, setiap tahunnya kota-kota besar di Indonesia disibukkan dengan tradisi mudik para kaum urban. Merayakan Lebaran bersama handai taulan di tanah kelahiran merupakan impian para perantau.

Uniknya, aktivitas mudik kini sudah menjadi budaya rutin. Kaum nonmuslim pun turut meramaikan event tahunan ini. Berbagai ruas jalan menuju wilayah Jawa spontan berubah menjadi sangat padat. Tahun lalu sejumlah pemudik bahkan harus rela menempuh perjalanan lebih dari 24 jam untuk sampai di kampung halaman. Semua itu terbayar saat momen-momen kebersamaan yang dinantikan tiba.

Selain mempererat tali silaturahmi, budaya kembali ke kampung halaman tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir setiap negara memiliki tradisi tersebut. Di Amerika Serikat, tradisi mudik terjadi saat Thanksgiving day. Demikian pula halnya di China, tradisi pulang kampung terjadi menjelang Imlek. Meski terdapat perbedaan waktu pelaksanaan, pesan mulia di balik aktivitas mudik masih sama, yakni bernuansa ekonomi.

Pertama, kedatangan para pemudik ke kota asal spontan menghidupkan roda perekonomian di wilayah tersebut. Kurva permintaan akan produk-produk pokok, seperti makanan, kuliner asli hingga oleh-oleh khas daerah meningkat seiring dengan adanya keinginan mereka untuk menikmati kenangan masa kecil. Itulah mengapa sejumlah kota dan kabupaten di sepanjang pantai utara pulau Jawa senantiasa menyambut pemudik dengan cara-cara yang unik.

Selanjutnya, ketika roda perekonomian berputar lebih cepat maka sirkulasi uang akan semakin tinggi. Di situlah potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal tercipta. Sepanjang aktivitas mudik di dua tahun terakhir, hampir 60% peredaran uang yang tadinya berada di pusat ibu kota Jakarta berpindah ke sejumlah daerah di kawasan Jawa dan Sumatera. Jika produsen lokal mampu menjawab permintaan tersebut, niscaya peningkatan omzet akan berujung pada kenaikan keuntungan bersih dalam jangka pendek.

Kedua, acara silaturahmi antara pemudik dengan sanak keluarga selalu dihiasi dengan obrolan hangat tentang berbagai sendi kehidupan. Tak jarang momen itulah yang dinilai efektif bagi upaya membangun paradigma dan semangat baru sehingga cara pandang orang kota perlahan mewarnai pola pikir masyarakat lokal. Fase inilah yang merupakan pemicu kemajuan daerah.

Meski sangat ideal, namun ada hal yang perlu disikapi secara bijak. Seringkali pola tukar ide tersebut berujung pada simpulan bahwa hidup di kota besar jauh lebih menjanjikan daripada tinggal di daerah. Akibatnya adalah, pasca Lebaran, arus balik diwarnai dengan bertambahnya penduduk urbanisasi di kota-kota besar.

Mencermati kondisi tersebut, kiranya momen silaturahmi tahun ini dapat dilandaskan pada semangat yang berbeda, yakni membangun daerah asal. Ritual mudik jangan lagi digunakan sebagai ajang merekrut sanak keluarga untuk ikut pindah ke kota-kota besar tanpa adanya pekerjaan tetap yang menjanjikan.

Spirit yang dibutuhkan kini adalah bagaimana virus ‘perjuangan hidup di kota besar’ atau inovasi untuk berbisnis mampu ditularkan kepada masyarakat lokal. Pemahaman bahwa kesuksesan tidak memandang lokasi perlu ditumbuh kembangkan secara efektif. Masyarakat daerah perlu diberi pengertian bahwa kesuksesan hidup secara ekonomi tidak hanya ditemukan di kota-kota besar, melainkan dapat juga dibangun di daerah setempat.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mempertajam semangat itu adalah dengan meningkatkan sinergi antara para perantau dengan sanak keluarga di daerah asal. Pertama, dalam hal ide bisnis. Berbekal kekuatan inovasi bertahan hidup di kota besar, para perantau dapat mengajarkan konsep mengidentifikasi peluang peningkatan ekonomi kepada masyarakat local, baik di tataran konsep maupun teknis.

Kedua, dengan memanfaatkan saluran atau channel yang dimiliki, para perantau dapat membantu masyarakat di bidang produksi maupun pemasaran. Dengan demikian, hubungan antara keduanya terus terjalin pasca Lebaran sehingga aktivitas mudik tahun berikutnya dapat digunakan sebagai momen refleksi keberhasilan kehidupan ekonomi mereka sepanjang satu tahun.

Melalui cara pandang tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk terus mempererat tali silaturahmi dengan menjadikan aktivitas mudik secara lebih bermakna dan mensejahterakan. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat SWA online,  9 Juli 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s