Manisnya Kurma di Tengah Pahitnya Dolar

kurmaSejak pertengahan Juni lalu, tak mengherankan jika kita jumpai pasar modern, pasar tradisional, gerai-gerai retail, hingga pasar dadakan yang bermunculan dipadati pembeli.

Mengapa begitu? Jawabannya adalah karena Ramadhan, bulan yang dinantikan 209 juta warga muslim Indonesia, yang merupakan 13% dari umat muslim dunia atau negara berpopulasi muslim terbesar di dunia.

Saat Ramadhan, umat muslim melaksanakan ibadah puasa, yaitu menahan diri untuk tidak makan dan minum dari Subuh hingga Maghrib selama satu bulan penuh sejak Juni hingga pertengahan Juli nanti.

Bulan puasa yang pada hakikatnya latihan untuk menahan lapar dan dahaga tampaknya bertolak belakang dengan gairah konsumsi masyarakat. Selama Ramadhan, konsumsi masyarakat meningkat dibanding bulan-bulan lainnya dalam setahun.

Beragam tradisi dan kegiatan yang mewarnai ‘puasa’ ini berdampak pada peningkatan kebutuhan barang konsumsi. Belum lagi tradisi menggunakan pakaian baru, biasanya akan ada peningkatan pembelian pakaian untuk menyambut hari raya Idul Fitri di Indonesia.

Sebagaimana disampaikan kajian Prof. Didik Rachbini, pada bulan puasa ini konsumsi masyarakat Indonesia meningkat terjadi sejak menjelang dan sesudah hari raya. Frekuensi dan jumlah makanan yang dikonsumsi masyarakat semestinya berkurang, justru meningkat.

Tentu saja perilaku konsumsi masyarakat memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memenuhi permintaan yang meningkat. Tanda-tanda peningkatan sudah nampak dengan peningkatan impor bahan makanan ditengah turunnya nilai impor Indonesia. Hingga Mei saja, impor golongan barang, seperti buah-buahan meningkat 46,14% dan sisa industri makanan meningkat 16,48% dibandingkan April 2015.

Boleh jadi, Ramadhan berperan sebagai penggerak gairah pasar yang melambat ini. Daya beli konsumen yang tinggi juga direspon di sektor keuangan. Perbankan mulai meningkatkan ketersediaan kasnya untuk memberikan layanan kepada masyarakat selama Ramadhan.
Ramadhan menjadi ajang bagi pengusaha untuk mendongkrak omzetnya.

Meningkatnya inflasi tidak terlalu dihiraukan masyarakat dalam berbelanja selama Ramadhan. Kegairahan pasar selama Ramadhan diharapkan dapat menopang kinerja usaha ditengah lesunya perekonomian Indonesia yang tidak mencapai taget pada semester ganjil 2015. Apalagi mata uang dolar sampai awal Juli lagi-lagi telah menembus titik Rp 13.316.

Harus kita akui, dilihat sejak Juli tahun lalu, tren Rupiah makin loyo terhadap Dolar AS. INDEF memproyeksikan Dolar AS dapat saja mencapai Rp 14.000 dengan berbagai asumsi. Utang Pemerintah yang jatuh tempo tepat pada tengah tahun ini dan impor produk dan bahan baku yang masih menggunakan mata uang Dolar AS dalam jumlah besar tentu berimbas pada peningkatan penggunaan Dolar AS.

Semoga saja dengan terbitnya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 agar seluruh transaksi dalam negeri menggunakan Rupiah dapat menjadi angin segar untuk menjaga stabilitas mata uang RI kembali menguat.

Momentum Ramadhan selalu menjadi ujian bagi top management. Bisa menjadi ancaman ketika pelaku usaha terbebani dengan beban usaha didominasi Dolar AS. Sebaliknya, bisa menambah pundi-pundi Rupiah bagi perusahaan yang memanfaatkan peningkatan volume penjualan selama Ramadhan.

Top management harus bekerja ekstra menghadapi menguatnya Dolar AS. Berbagai upaya dilakukan, seperti pengembangan portofolio produk dan atau sebisa mungkin memangkas penggunakan biaya berbasis Dolar AS. Hal tersebut harus dilakukan untuk mempertahan kinerja usaha, paling tidak sampai penghujung tahun 2015 agar kinerja perusahaan tetap tumbuh sesuai rencana.

Ramadhan selalu meninggalkan kenangan berbeda-beda bagi pelaku usaha di tengah lesunya perekonomian dan menguatnya nilai dolar hingga Juli ini. Kenangan manis akan dirasakan ketika laju penjualan selama Ramadhan mampu berkontribusi pada pencapaian laba usaha.

Kenangan pahit akan dirasakan ketika laba usaha harus terkikis akibat menguatnya dolar dan perusahaan hanya menjadi penonton momentum Ramadhan. Kemampuan top management sangat diuji dalam menghadapi situasi ini. Semoga saja, Anda kebagian manisnya kurma saat Ramadhan ditengah pahitnya nilai Dolar terhadap Rupiah!

*tulisan dimuat BUMN Insight online, 10 Juli 2015.

YNR 160x160Yanuar Andrianto
Core Faculty PPM School of Management
YNR@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s