Puasa dan Kepemimpinan Diri

spiritualSaat ini, seluruh manusia yang beragama Islam sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Tidak kurang dari 1,6 miliar umat muslim dunia, termasuk 200 juta di Indonesia, menjalankannya secara serentak selama 1 bulan penuh.

Kewajiban puasa tidak lahir dari aturan atau undang-undang negara, melainkan aturan ilahi. Allahlah yang mewajibkan umat muslim berpuasa. Pertanggungjawaban puasa bersifat vertikal, langsung kepada Allah. Tentu saja ada iming-iming balasan kebaikan yang  dijanjikan Allah bagi umat muslim yang menjalankan dengan benar dan ikhlas.

Meskipun kewajiban berpuasa bersifat vertikal, namun bukan berarti puasa hanya memiliki dampak vertikal saja. Puasa juga memiliki banyak dampak terhadap kehidupan pribadi dan kehidupuan sosial. Banyak aktivitas yang dianjurkan untuk dikerjakan dalam puasa yang memiliki dampak yang bersifat horizontal (sosial).

Aktivitas berbagi melalui zakat, shadaqah, dan memberi makan fakir miskin adalah contoh dampak puasa pada hubungan sosial. Sementara kesehatan, kepemimpinan, dan manajemen diri merupakan contoh nyata dampak puasa terhadap kehidupan individu. Pada kesempatan ini, penulis lebih menyoroti bagaimana puasa memiliki dampak positif terhadap kepemimpinan diri.

Puasa memiliki dampak bagi kepemimpinan diri. Selama 30 hari sangat cukup membentuk kepemimpinan pribadi yang efektif. Kabar baiknya, ini dapat dilakukan dengan  gratis. Kepemimpinan  diri  yang terbentuk dapat dimanfaatkan dalam bidang apa pun, termasuk dalam dunia kerja, seperti menjadi manajer  atau  entrepreneur yang sukses.

Di antara sekian banyak aktivitas dalam berpuasa, ada satu aktivitas penting yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu niat berpuasa. Niat merupakan keinginan seseorang dalam hatinya untuk melakukan sesuatu. Niat puasa memiliki posisi sangat penting dalam ibadah puasa Ramadhan. Tanpa niat, seseorang tidak sah atau tidak diterima puasanya.

Dalam prosesi niat, seseorang diminta untuk mempersiapkan dan mengkondisikan pikiran, hati, dan fisiknya untuk berpuasa. Dengan kata lain, prosesi niat menuntut seseorang untuk merujuk pada tujuan akhir atau sasaran yang ingin dicapainya. Ini yang disebut oleh Stephen R. Covey, seorang tokoh dan pemikir kepemimpinan terkemuka di dunia sebagai proses penciptaan pertama. Sementara ciptaan keduanya adalah puasanya itu sendiri yang dilakukan pada esok harinya.

Dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menamakan kebiasaan merujuk pada tujuan akhir dengan Prinsip Kepemimpinan Diri. Lebih lanjut  Covey menjelaskan  bahwa Merujuk pada tujuan akhir didasarkan pada prinsip bahwa segalanya diciptakan dua kali. Ada ciptaan mental atau pertama dan ada ciptaan fisik atau kedua.

Sebagai contoh, seandainya anda  ingin membangun sebuah rumah 2 lantai, pertama kali biasanya anda akan membuat gambar  dengan rinci sebelum menancapkan tiang pancang pertama.  Anda akan membayangkan setiap detail rumah, posisi pintu, kamar tidur, pekarangan rumah, parkir mobil, ruang makan dan lainnya hingga benar-benar jelas rumah seperti apa yang diharapkan sebelum kontraktor menjalankan proyek pembangunan. Inilah yang disebut ciptaan pertama.

Ciptaan kedua adalah proses pembangunan rumah tersebut. Kesalahan dalam membuat ciptaan mental atau ciptaan pertama, akan berakibat bertambahnya biaya yang lebih besar lagi dalam ciptaan fisik atau kedua karena perubahan yang terjadi.

Hal yang sama dapat terjadi dalam aktivitas apa pun tak terkecuali dalam dunia bisnis. Jika anda ingin memulai membuka usaha baru, misal usaha waralaba Dimsum, anda akan benar-benar mendefinisikan terlebih dahulu dengan baik mengenai usaha yang akan dijalankannya. Mulai dari siapa konsumennya,  di mana letak gerai usaha strategis yang menjadi lokasi usahanya, mitra bisnis seperti apa yang anda harapkan bisa bekerja sama dengan anda, bagaimana operasional perusahaan akan dijalankan, bagaimana sistem keuangan,  dan lain sebagainya.

Semua hal tersebut harus sudah dipikirkan sebelum penciptaan kedua atau menjalankan operasional bisnis dilakukan. Semakin anda mampu merujuk pada tujuan akhir, semakin besar kemungkinan anda berhasil dalam bisnis.

Niat dalam arti kebiasaan untuk memantapkan hati, pikiran, dan fisik untuk merujuk pada hasil atau tujuan akhir, selaras dengan prinsip kepemimpinan diri. Kepemimpinan dan manajemen merupakan dua istilah yang berbeda, meskipun dua hal tersebut seringkali saling membutuhkan.

Peter Drucker dan Warren Bennis mengungkapkan bahwa “Manajemen adalah mengerjakan segala sesuatunya dengan benar” sementara “Kepemimpinan adalah mengerjakan hal-hal yang benar.” Dengan kepemimpinan, seseorang dapat mengetahui apa saja yang ingin dicapai. Dengan manajemen, seseorang dapat mencapai yang diinginkan dengan efektif dan efisien.

Sebagai ilustrasi sederhana seandainya anda ingin menaiki sebuah tangga untuk sampai ke lantai 2 sebuah gedung. Di sana anda ditunggu rapat oleh atasan Anda. Kepemimpinan akan memastikan bahwa anda menaiki tangga yang benar-benar tepat untuk mencapai tujuan anda. Sementara manajemen memastikan bagaimana menaiki tangga dengan cepat dan aman. Tanpa kepemimpinan yang efektif, Anda akan sampai ke lantai 2 hanya untuk mengetahui bahwa Anda telah menaiki tangga yang salah meskipun dengan cepat dan aman.

Niat mengajarkan kepada kita untuk memiliki tujuan atau visi dalam kehidupan ini. Entah sebagai orang tua, pengusaha, karyawan swasta, pendidik, pegawai negeri sipil, pekerja sosial, dan lainnya, semuanya harus memiliki visi. Siapa pun lebih membutuhkan visi  terlebih dahulu daripada strategi.

Proses penciptaan fenomenal  apa pun di dunia dimulai dari lahirnya visi baru strategi. Tengoklah penciptaan  telepon, lampu, pesawat, handphone, internet semuanya berawal dari sebuah ciptaan pertama (mental).

Penulis punya pengalaman terlibat proyek konsultansi manajemen untuk membantu sebuah perusahaan  memperbaiki sistem manajemennya. Para manajernya begitu bersemangat melakukan perubahan untuk perbaikan keadaan perusahaan. Namun, yang sangat disayangkan perusahaan tersebut belum memiliki visi dan tujuan yang jelas.

Banyak diskusi yang bertemu  jalan buntu karena bingung apa yang sebetulnya perusahaan hendak capai.  Apakah inisiatif-inisiatif yang dibuat memang penting untuk dilakukan? Akan dibawa ke mana inisiatif-inisiatif yang telah dirancang dengan begitu spektakuler dan terencana? Bagaimana perusahaan dapat mengetahui bahwa kesuksesan dari setiap inisiatif tersebut menjamin perusahaan mencapai tujuan utamanya?

Sebagaimana  Covey katakan bahwa efektivitas –seringkali terjadi dalam kehidupan pribadi–  tidak bergantung semata pada berapa banyak usaha yang telah dikerahkan, tetapi apakah usaha yang dikerahkan itu berada pada tujuan yang benar.

Sebagai renungan, pertanyaan penting yang harus sama-sama kita jawab adalah sudahkah kita memiliki visi dan tujuan hidup yang benar? Atau jangan-jangan kesibukan dan kegaduhan yang memenuhi keseharian kehidupan kita hanyalah aktivitas-aktivitas tanpa makna dan tujuan.

Mengapa kita harus berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam? Mengapa kita harus melakukan kegiatan A, B, C dan seterusnya? Jangan-jangan itu dilakukan hanya karena orang lain melakukan hal tersebut atau karena orang-orang berpengaruh di sekitar meminta kita untuk melakukan itu semua. Sementara kita sang nakhoda perahu kehidupan kita sendiri tidak tahu dimana akhir pelabuhan yang akan dituju.

Langkah awal yang bisa dilakukan sebelum merumuskan visi atau tujuan hidup adalah dengan menyadari misi hidup. Misi berbeda dengan visi. Misi berbicara tentang mengapa atau untuk apa kita hidup. Sementara visi berbicara apa yang hendak kita capai dalam kurun waktu yang kita targetkan.

Kabar baiknya, misi tidak perlu kita cari, dia sudah ada bersamaan dengan terciptanya kita di dunia. Hal yang perlu kita lakukan hanyalah menyadarinya saja. Kita dianugerahi alat canggih untuk mendeteksi misi hidup kita, yaitu kesadaran diri dan suara Hati. Kedua anugerah ini kita bisa gunakan untuk menggali misi pribadi kehidupan Kita.

Sejalan dengan ditemukannya misi, maka selanjutnya kita bisa menciptakan visi kehidupan sendiri.  Kita bisa gunakan satu alat canggih juga, yaitu imajinisasi (visualisasi). Dengan Imajinisasi, kita mampu memvisualisasikan dunia di masa yang akan datang dan menariknya ke masa kini.

Semoga ibadah puasa Ramadhan mampu menghadirkan kembali  misi dan visi kehidupan kita yang dengannya  membuat kita mampu mengeluarkan nilai dan potensi terbaik yang ada dalam diri kita sebagai seorang pemimpin.

*Tulisan dimuat Business Review online, 15 Juli 2015.

???Achmad Fahrozi
Staf Pengajar dan Konsultan PPM Manajemen
OZI@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Puasa dan Kepemimpinan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s