Strategi Bertahan Rumah Tangga Pasca Hari Raya

img YLT jul 15Perspektif hari raya adalah saat yang selalu dinanti banyak orang. Berbagai rencana telah disiapkan sejak jauh hari, mulai dari rencana berpergian, rencana kumpul keluarga, rencana liburan, rencana pemberian rezeki kepada orang lain, sampai perencanaan makanan apa saja yang akan tersaji di hari raya. Namun, adakah yang membuat perencanaan keuangan dan belanja pasca hari raya?

Suasana menjelang hari raya selalu ramai, sibuk, dan di beberapa tempat terasa hiruk pikuk. Lihat saja kondisi pasar tradisional dan modern, bank, dealer kendaraan bermotor, toko emas, toko elektronik, jalan raya antar kota-antar provinsi, hingga tempat pegadaian barang. Nilai transaksi tunai maupun kredit meningkat hingga 30 persen. Sebenarnya ini merupakan kesempatan yang bagus untuk memperbaiki keadaan ekonomi, terutama bagi sektor menengah bawah.

Meningkatnya kebutuhan konsumsi harian menjelang hari raya dinilai wajar, karena adanya perhatian lebih pada hal-hal yang bersifat occasional. Bukan hanya kebutuhan akan pangan yang tak jarang lebih spesial dibandingkan biasanya, kegiatan memperbaiki atau mempercantik rumah pun banyak dilakukan menjelang hari raya, ditengah kebutuhan tambahan dalam rangka persiapan hari raya.

Selain itu, penerimaan THR sanggup memberikan efek psikologis, yakni seakan-akan masih memiliki uang cukup banyak. Sementara itu, pengeluaran terus menerus mengalir. Membeli kue-kue kering seringkali menjadi saat-saat yang menyenangkan, karena kita ingat bahwa kue-kue itu akan menjadi buah tangan yang manis untuk kerabat. Berpotong-potong pakaian baru pun dibeli karena kita membayangkan pakaian tersebut akan melekat indah pada tubuh keponakan atau cucu di kampung sana.

Belum lagi persiapan untuk perjalanan menuju kampung halaman. Makanan, oleh-oleh, dan barang apa pun bisa dipaksakan masuk ke dalam tas. Bagi yang pulang kampung dengan kendaraan pribadi, uang bensin pun tak apa dilebihkan, karena menyadari bahwa perjalanan kali ini akan membutuhkan bahan bakar lebih banyak dari biasanya.

Rasanya kita akan melakukan apa pun supaya bisa berhari raya bersama orang terkasih, dengan makanan lezat yang bervariasi, dengan perhiasan dari emas asli, atau dengan gadget baru nan canggih yang bisa dipamerkan.

Euforia hari raya pun tidak reda dalam sehari-dua hari setelah hari raya. Semuanya berlangsung, hingga pada saatnya kita menyadari bahwa sudah waktunya bekerja kembali, mencari rezeki yang bagi sebagian orang artinya kembali ke kota.

Setelah merayakan hari raya, dan kembali bekerja, banyak di antara kita yang hanya memiliki sisa-sisa uang untuk melanjutkan hidup sampai dengan gaji berikutnya. Keadaan ini tentu saja memprihatinkan. Sebagian uang yang telah keluar sejak persiapan hari raya telah raib tidak berbentuk, makanan lezat telah habis dimakan, bensin sekian liter pun telah tak ada wujudnya lagi.

Tidak ada yang salah dengan persiapan hari raya. Hanya saja sebagian dari kita terlewat untuk membuat perencanaan pasca hari raya karena terlalu sibuk membuat perencanaan persiapan hari raya.

Perencanaan pasca hari raya dalam hal ini terutama terkait dengan kondisi keuangan rumah tangga. Sesedikit apa pun waktu yang Anda miliki, upayakan membuat perencanaan keuangan rumah tangga pasca hari raya yang masih memungkinkan.

Mulailah dengan membuat perencanaan belanja untuk kebutuhan konsumsi harian: berapa rupiah yang dihabiskan untuk konsumsi harian, bahan makanan apa saja yang dibutuhkan untuk menyokong konsumsi pribadi dan keluarga. Dengan perencanaan belanja yang tepat, pengeluaran belanja kita akan lebih efisien, meskipun dalam anggaran atau budget yang terbatas.

Pembuatan perencanaan belanja ada baiknya dibarengi dengan pengalokasian dana untuk berbagai kebutuhan yang diperlukan. Cek ulang, apakah kita perlu membayar kontrakan rumah, misalnya, atau perlu membayar iuran sekolah anak, atau mungkin sekadar pijat refleksi untuk mengembalikan kebugaran tubuh seusai perjalanan panjang menyambangi kampung halaman.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah menginventarisasi barang-barang yang kita miliki. Ini digunakan sebagai pengingat apabila kita akan membeli sesuatu. Misalnya, pada saat kita tertarik membeli pakaian (lagi) setelah hari raya, kita dapat mengingat bahwa kita masih memiliki pakaian yang cukup baik di rumah sehingga kita dapat menunda pembelian yang tidak penting atau urgent.

Inilah saatnya kita membuat perencanaan pasca hari raya sehingga keuangan kita dapat bertahan, bukan hanya sampai gaji berikutnya, tapi lebih lama lagi.

Selamat berhari raya!

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 24 Juli 2015.

yolenta blogYolenta R.P. Widyastika
Research-Case Publication & System Development Staff PPM Manajemen
YLT@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Strategi Bertahan Rumah Tangga Pasca Hari Raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s