Reshuffle Kabinet di Pemerintah vs di Perusahaan

resuffle kabinet jokowiSetahun sejak terpilih, dan delapan bulan sejak dilantik, muncul wacana bahwa Presiden Jokowi akan melakukan reshuffle terhadap beberapa menterinya. Wacana ini muncul karena dampak dari “Kerja, Kerja, Kerja” yang didengungkan pada awal pemerintahan Jokowi belum dirasakan, atau setidaknya belum terasakan.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul terkait hal ini. Pertama, sudah saatnya kah melakukan penilaian kinerja para menteri tersebut? Apakah waktu delapan bulan sudah dapat menjadi ukuran untuk menilai kinerja mereka? Cukupkah waktu delapan bulan bagi mereka untuk menunjukkan hasil kinerjanya?

Bagaimana dengan di perusahaan? Umumnya penilaian kinerja karyawan dilakukan sekali atau  dua kali dalam setahun. Pada prinsipnya, penilaian kinerja adalah menilai kinerja karyawan dalam satu kurun waktu tertentu. Dalam hal ini, yang umum terjadi kurun waktu tersebut adalah satu tahun.

Mengapa satu tahun? Karena satu tahun dianggap waktu yang cukup bagi si pemegang pekerjaan untuk menjalankan program kerja dan menghasilkan kinerja yang terukur. Satu tahun juga menjadi acuan perusahaan untuk menyusun anggaran dan menetapkan target satu tahun yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, karyawan dinilai setelah satu tahun menjalankan tugasnya.

Lain perusahaan, lain pula pemerintahan. Mungkin kita tidak bisa menyamakan begitu saja antara kedua bentuk kelembagaan tersebut. Namun demikian, kebutuhan untuk melakukan reshuffle kabinet menjadi hal yang urgent saat ini, mengingat Presiden Jokowi hanya memiliki waktu 5 tahun untuk membuktikan semua janji dalam masa kampanyenya.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah bagaimana menetapkan orang yang pantas menggantikan yang akan di-reshuffle? Di perusahaan, kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang sama bila terdapat sebuah posisi yang kosong dalam struktur organisasi atau bila terjadi perubahan struktur organisasi.

Bagaimana bila kita menganalogikan reshuffle kabinet dengan restrukturisasi organisasi di perusahaan? Restrukturisasi organisasi atau penataan kembali struktur organisasi di sebuah perusahaan bukanlah hal yang asing. Sebagian besar perusahaan melakukannya dan pada saat itu, akan muncul pertanyaan kedua tadi, yaitu siapa yang pantas mengisi atau menggantikan sebuah posisi?

Konsep yang tertuang dalam manajamen SDM berbasis kompetensi mengatakan bahwa dasar untuk menempatkan orang pada suatu posisi adalah kompetensi dan kinerja.  Hal ini berlaku untuk penempatan karyawan yang sifatnya promosi dan kandidatnya berasal dari dalam perusahaan.

Mengapa demikian? Karena rekam jejak untuk kedua elemen tersebut sudah tersedia di dalam perusahaan, tertulis maupun tidak tertulis. Lain halnya bila kandidat untuk satu posisi berasal dari luar perusahaan, maka penempatan karyawan pada suatu posisi didasarkan pada kompetensi yang dimilikinya.

Pekerjaan sekaligus pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengenali kinerja dan kompetensi tersebut? Rekam jejak kinerja sesungguhnya tersedia di perusahaan sebagaimana telah disampaikan. Namun harus dipastikan bahwa rekam jejak kinerja tersebut telah merepresentasikan kinerja yang sesungguhnya sehingga seleksi dengan melihat kinerja akan menghasilkan orang yang tepat.

Bagaimana dengan mengenali kompetensi, yang merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang muncul dalam bentuk perilaku yang konsisten dan dapat dikenali melalui sejumlah metode?  Wawancara berbasis kompetensi, observasi, dan kuesioner multirating merupakan beberapa  cara atau metode yang relatif mudah digunakan untuk mengenali kompetensi sehingga seleksi dengan melihat kompetensi diharapkan juga akan menghasilkan orang yang tepat.

Pada dasarnya, hal inilah yang terjadi pada saat Presiden Jokowi hendak memilih para menteri yang akan membantunya menjalankan roda pemerintahan. Beliau melihat rekam jejak para calon tersebut dari dua elemen, yaitu kinerja dan kompetensi. Hal yang sama juga terjadi pada saat Tim Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus menyeleksi calon pimpinan lembaga anti rasuah tersebut. Dua hal yang ingin dilihat, yaitu kinerja dan kompetensi.

Dengan skala yang lebih kecil, pada dasarnya perusahaan menerapkan hal yang sama. Kebijakan dan prosedur serta tata cara dalam memilih serta menetapkan karyawan untuk suatu posisi didasarkan pada dua elemen tersebut.

Namun demikian, dalam prakteknya segala sesuatu tidak selalu berjalan sesuai prosedur yang ada. Pada tataran yang lebih strategis, pertimbangan dan pandangan para pimpinan puncak sangat mempengaruhi keputusan yang dikeluarkan pada saat harus menetapkan karyawan pada satu posisi; terutama bila posisi tersebut adalah posisi yang dianggap penting dan memberikan pengaruh besar pada kondisi organisasi ke depan.

Dalam hal ini sangat diperlukan kematangan dan keluasan cara berpikir dari para pimpinan puncak. Unsur subjektif menjadi hal yang harus diminimalisir sehingga keputusan yang dikeluarkan akan menjadi sebuah keputusan yang dianggap paling optimal.

Bila subjektivitas masih mewarnai para pimpinan puncak maka penetapan seseorang pada posisi tertentu akan menjadi sebuah preseden yang diragukan serta mengoyak kepercayaan karyawan. Pada skala yang lebih besar, seperti negara, maka akan mengoyak kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya.

Meskipun tidak sama seratus persen, pengelolaan sebuah perusahaan merupakan miniatur dari pengelolaan sebuah negara. Dalam beberapa hal dapat menjadi pembelajaran untuk terus-menerus memperbaiki diri. Berkenaan dengan reshuffle kabinet, dapatkah pemerintahan Jokowi melakukannya?

*Tulisan dimuat Business Review online, 28 Juli 2015.

Rachmi Endras blogRachmi Endrasprihatin
Core Consultant PPM Manajemen
AMI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s