Karakter Karyawan, Make or Buy?

character_building_logoPada akhir Juli lalu, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah telah dimulai. Bagi saya pribadi hal ini merupakan salah satu momen penting karena kedua anak saya baru saja memasuki kelas satu di sekolah dasar.

Beberapa hari setelah hari pertama ajaran dimulai, jadwal pelajaran pun diterima. Yang cukup menarik perhatian adalah salah satu kegiatan yang tertulis di sana. Pada jadwal tersebut tertulis adanya kegiatan Pembangunan Karakter yang dilakukan setiap awal dan akhir pelajaran. Setelah bertanya kepada pihak sekolah, diketahui bahwa kegiatan tersebut terkait dengan penanaman nilai-nilai moral, ketuhanan, akhlak, dan budi pekerti. Semua hal yang pastinya bernilai positif.

Di sekolah dasar lainnya pun berlaku hal yang sama, ternyata saat ini juga banyak aktivitas yang terkait dengan pembangunan karakter ini. Bahkan secara serius, pemerintah kota Makassar contohnya, menetapkan untuk memasang slogan-slogan kampanye anti korupsi dan anti narkoba untuk dipasang langsung di seragam para siswa dan siswinya.

Syahdan, tak berapa lama dari momen sekolah dasar itu,  penulis bertemu dengan salah satu klien penting. Pada pertemuan tersebut, kami membahas mengenai program pengembangan bagi para peserta Management Development Program (MDP) yang setingkat dengan Management Trainee. Dalam diskusi tersebut tercetus bahwa perusahaan juga membuat kegiatan pembangunan karakter kepada seluruh peserta MDP.

Adapun tujuan dari kegiatan yang dilakukan dengan metode outbound dan experiential learning dengan pendekatan militer ini adalah untuk membentuk akhlak dan mental yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan. Dari kedua kejadian di atas, saya menjadi cukup tertarik untuk membahas mengenai kegiatan pembangunan karakter ini.

Sebenarnya apa yang mendasari dunia pendidikan dan juga dunia bisnis untuk menganggap kegiatan pembangunan karakter ini menjadi sangat penting? Jika ditelaah lagi dan kembali ke beberapa waktu ke belakang, dikala manajemen sumber daya manusia saat ini mulai mengarah pada model kompetensi, ternyata hal ini juga dibarengi dengan kegiatan-kegiatan pembangunan karakter di berbagai instansi, baik swasta maupun pemerintah, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perusahaan.

Belum lagi jika kita ingat mengenai slogan dari presiden terdahulu mengenai pembangunan karakter bangsa. Hal tersebut membuat semakin menguatkan mengenai seberapa penting pembangunan karakter ini.

Jika kita lihat dari tingkat kepentingannya, memang sudah terkonfirmasi bahwa pembangunan karakter ini adalah penting. Stephen Covey juga pernah menyatakan bahwa “90 persen dari kegagalan kepemimpinan adalah karena karakter seseorang yang gagal juga”.  Namun yang tidak kalah penting dari pembangunan karakter ini adalah dengan bagaimana dan bilamana hal ini harus mulai dilakukan.

Bila melihat pada perusahaan-perusahaan yang membuat program pembangunan karakter bagi para karyawan baru, tentunya mereka berharap bahwa dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan akan dapat memperkuat atau mengubah karakter seseorang agar sesuai dengan nilai-nilai perusahaan. Harapan ini tentunya tidak salah, namun yang lebih penting justru pada tahap penerimaan karyawan.

Proses rekrutmen dan seleksi yang dilakukan perusahaan menjadi faktor kritis untuk mendapatkan karyawan yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai dan harapan perusahaan. Dilihat dari konsep psikologi serta kompetensi, karakter ini sangat terkait dengan motivasi dan dorongan yang ada dalam diri seseorang.

Pelatihan-pelatihan yang dapat diberikan oleh perusahaan mungkin saja dapat mengubah perilaku seseorang agar bertindak sesuai dengan tuntutan pekerjaannya namun kemungkinannya kecil untuk dapat mengubah karakter. Perlu kegiatan yang sangat intensif dan mendalam apabila perusahaan berencana untuk mengubah karakter seseorang.

Bagi perusahaan-perusahaan yang sangat mengedepankan nilai-nilai penting serta memiliki budaya organisasi yang kuat, faktor karakter ini menjadi semakin penting. Kegiatan rekrutmen dan seleksi yang dilakukan harus sangat sebisa mungkin memotret para calon karyawan agar yang diterima memang sesuai dengan keinginan perusahaan. Saat ini masih banyak perusahaan yang kurang menganggap penting proses rekrutmen dan seleksi ini.

Dan akhirnya pada saat terjadi kesalahan pada penerimaan, lalu karyawan tersebut tidak berkinerja sesuai harapan, alhasil perusahaan mengalami kesulitan baik untuk dapat menilai, mengembangkan, maupun mengeluarkannya. Bagaimanakah dengan perusahaan Anda?  Selamat berefleksi!

*Tulisan dimuat Business Review online, 9 Agustus 2015.

zusty dewayani blogZusty Dewayani, S.Psi,M.M.
Consultant, Organizational Development PPM Manajemen
ZTD@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s