Visi untuk Indonesia Raya

IMG GPS Agt 15Seorang mandor buruh bangunan bertanya kepada tiga anak buahnya yang sedang bekerja, “Kalian sedang membangun apa?” lalu ketiganya memberikan jawaban yang berbeda, tukang pertama menjawab, “Saya sedang menyemen batu”, tukang kedua menjawab, “Saya sedang membangun tembok”, dan tukang yang ketiga menjawab, “Saya sedang membangun gedung“.

Pertanyaan yang sama menghasilkan tiga jawaban yang berbeda. Jawaban-jawaban tersebut menunjukkan bahwa tukang yang pertama hanya melihat kepada apa yang dikerjakannya saat ini. Tukang yang kedua melihat jangka pendek dari hasil pekerjaannya. Sedangkan tukang yang ketiga melihat jangka panjang dari hasil pekerjaannya.

Dengan kata lain, jawaban pertama adalah rutinitas, jawaban kedua adalah target, dan jawaban ketiga adalah visi. Dari ketiga jawaban tersebut yang memunculkan motivasi paling besar tentunya adalah jawaban ketiga, mengapa? karena tukang yang ketiga tidak akan terjebak dengan kebosanan rutinitas, pun tidak akan terhalang dengan target yang besar, tetapi akan terpacu untuk segera melihat wujud bangunan megah nan indah yang akan dihasilkannya.

Arham S. Torik, Presiden Direktur Djakarta Lloyd dalam suatu wawancara yang digagas oleh PPM Manajemen berbagi cerita kalau, mindset sumber daya manusia (SDM) Djakarta Lloyd sangat siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), karena sebenarnya kita ini bangsa yang hebat. Malaysia saja belajar dari kita. Kesalahan kita adalah cara berpikir yang terkotak-kotak atau parsial.

Lebih jauh ia menuturkan, seharusnya pemerintah bersinergi dengan swasta, jika kita bertanya pada Bappenas bagaimana menghadapi MEA, mereka pasti akan menjawab bahwa kita baru bisa berperan jika kita memiliki sekian ratus kapal. Padahal, kalau kita bicara tentang kapal di Indonesia, serahkan saja kepada rakyat Indonesia. Permudah persyaratannya dan buat policy yang memudahkan. Beri rakyat kepastian, jangan dibuat kartel.

Dari penggalan cerita diatas dapat dilihat bahwa, seperti itulah pentingnya visi dan kemampuan kepemimpinan untuk menyampaikan visi kepada seluruh anggota dalam suatu organisasi atau pemerintahan. Gambaran akan menjadi apa sangat penting dijelaskan terus menerus kepada seluruh anggota organisasi, sehingga mereka memiliki blue print yang sama dalam bekerja.

Key Performance Indicator (KPI) organisasi yang diturunkan sampai ke level individu seharusnya tidak hanya berupa potongan kecil puzzle yang membingungkan individu dalam organisasi, tetapi seharusnya memberi gambaran yang sangat jelas akan pentingnya kontribusi setiap individu untuk secara teamwork bersemangat mewujudkan kumpulan puzzle sehingga menjadi gambar utuh. Situasi tersebut hanya bisa terjadi bila setiap individu mengetahui dengan pasti gambar apa yang akan dihasilkan oleh tim.

Visi mengacu gambar di masa depan dengan komentar implisit ataupun eksplisit tentang mengapa orang harus berusaha keras untuk menciptakan masa depan tersebut. Dalam proses perubahan, visi yang bagus memberikan tiga tujuan penting.

Pertama, memperjelas arah umum perubahan. Dengan menyatakan ‘kemana seharusnya perusahaan bergerak’, hal itu menyederhanakan ratusan atau ribuan keputusan yang lebih mendetail. Hal itu memotivasi orang untuk bertindak dalam arah yang benar, bahkan meski langkah-langkah awalnya menyakitkan secara pribadi. Visi membantu mengkoordinasikan tindakan banyak orang, bahkan ribuan orang, dalam cara yang luar biasa cepat dan efisien.

Visi yang efektif dan dilengkapi dengan strategi pendukung membantu memecahkan masalah dalam perubahan. Dengan kejelasan arah, ketidakmampuan untuk membuat keputusan bisa lenyap. Debat tak berujung tentang apakah sebaiknya membeli perusahaan lain atau lebih baik menggunakan uangnya untuk memperkerjakan lebih banyak tenaga pemasaran, atau tentang apakah re-organisasi benar-benar diperlukan, dan juga tentang apakah perluasan internasional cukup sering kali muncul. Semua dapat cepat selesai dengan satu pertanyaan sederhana, apakah pilihan yang akan diambil sejalan dengan visi?

Dengan cara yang sama, visi yang bagus bisa membantu membersihkan setumpuk kekacauan yang mahal dan memakan waktu. Dengan kejelasan arah, proyek yang tidak pas bisa diidentifikasi dan dihentikan, bahkan meski proyek-proyek tersebut memiliki dukungan politis. Dengan demikian sumber-sumber daya dapat diarahkan ke proses transformasi.

Fungsi esensial kedua yang dijalani visi adalah memfasilitasi perubahan besar dengan memotivasi tindakan yang tidak perlu berada dalam kepentingan pribadi jangka pendek. Visi yang bagus mengakui bahwa pengorbanan akan diperlukan, tapi menunjukkan secara jelas berbagai pengorbanan ini akan menghasilkan keuntungan tertentu serta kepuasan pribadi yang jauh lebih tinggi dari apa yang ada sekarang.

Bahkan dalam situasi yang menuntut pengurangan karyawan secara signifikan, visi yang tepat bisa menjadi hal yang menarik untuk diperjuangkan. Situasi ekonomi bisa saja membawa organisasi pada kepailitan, tetapi visi dapat menyelamatkan sejumlah pekerjaan, dan mencegah masalah bagi banyak pelanggan serta pemasok, atau membantu ribuan pekerja yang sudah memberikan kontribusi mereka bagi perusahaan.

Ketiga, visi membantu menyejajarkan individu, dengan mengkoordinasikan tindakan orang-orang yang termotivasi dalam cara yang luar biasa efisien. Dengan kejelasan visi, manajer dan karyawan melihat sendiri apa yang harus dilakukan tanpa harus terus-menerus mengecek dengan bos atau rekan sejawat mereka. Dengan visi bersama, mereka bisa bekerja sama dengan otonomi dalam derajat tertentu dan tidak tersandung satu sama lain.

Karateristik visi yang efektif adalah :

  • Bisa dibayangkan: membawa gambaran akan tampak seperti apakah masa depan.
  • Menggairahkan: memikat bagi ketertarikan jangka panjang karyawan, pelanggan, pemegang saham, dan pihak lain yang memegang kepentingan dalam perusahaan.
  • Masuk akal: membentuk tujuan yang realistis dan bisa diraih.
  • Berfokus: cukup jelas untuk memberikan panduan dalam pengambilan keputusan.
  • Fleksibel: cukup umum untuk membiarkan inisiatif individual serta respon alternatif dalam dalam kaitannya dengan kondisi yang berubah.
  • Komunikatif: gampang dikomunikasikan, bisa dijelaskan dengan sukses dalam lima menit.

Jika karateristik visi di atas diimplementasikan pada kabinet kerja pemerintahan saat ini, setiap menteri seharusnya sudah mendapatkan gambaran kemajuan Indonesia yang akan diwujudkan ke depan, sehingga muncul semangat sebagai satu tim untuk mewujudkannya. Alhasil semangat tersebut dapat meyakinkan stakeholder yang berkepentingan untuk terus berinvestasi mendukung penuh, yang tentunya realistis dan dapat dicapai serta jelas wewenang pengambilan keputusannya sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.

Lagu Indonesia Raya telah berkumandang selama 70 tahun di Nusantara. Tetapi, sudahkah kita memiliki gambaran yang sama Indonesia Raya seperti apa yang ingin kita wujudkan?

*Tulisan dimuat pada BUMN Insight online, 9 Agustus 2015.

Gerald PasolangGerald Pasolang MM.
Trainer, Executive Development PPM Manajemen
GPS@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s