Work-Life Balance: How To Balance It?

work-life-balanceSuatu hari, terjadi percakapan antar dua sahabat karib melalui Whatsapp Messenger. Badu dan Jerry, mereka bekerja di perusahaan yang berbeda, waktu menunjukkan pukul 20.37 Waktu Indonesia Bagian Jakarta ketika percakapan berlangsung. Dari percakapan tersebut, Badu mengatakan bahwa dirinya masih ‘duduk manis’ di depan komputer menyelesaikan pekerjaan dadakan yang tiba-tiba diberikan kepadanya.

Hari itu berlalu, esok pun menyambut, Jerry kembali mengontak Badu dan mengabarkan bahwa sahabat kecil mereka yang dari jauh akan datang ke Jakarta untuk sebuah urusan dan meminta waktu untuk bertemu sekedar minum kopi sambil bercengkrama. Pagi itu pun Badu berujar bahwa jadwal pekerjaan yang dia miliki sangatlah padat. Saat itu saja (pukul 06.00 wib-red) dirinya sudah berangkat menuju kantor karena harus meeting dengan klien pada jam tujuh pagi.

Pernahkah Anda berada pada kondisi ilustrasi seperti di atas? Lebih dari itu, apakah Anda merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan? Atau pernah merasa bersalah karena sudah sangat jarang bertukar kabar dengan sahabat karib atau bahkan orang tua sendiri karena terlalu disibukkan dengan pekerjaan? Jika ya, itu adalah sinyal bahwa Anda harus berhenti sejenak. Carpe diem.

Tanyakan kembali kepada diri Anda, inikah keseimbangan hidup yang diinginkan? Kerja tiada henti seperti dikejar-kejar, tidak memiliki waktu luang untuk diri sendiri, kurang berkabar dengan orang-orang terdekat, sudah jarang melakukan hobi, dan lain sebagainya. Hal itu merupakan indikasi bahwa keseimbangan hidup Anda mulai berkurang.

Untuk sebagian besar pekerja kantoran, worklife balance adalah sebuah isu klasik yang selalu muncul. Acapkali seorang pekerja merasa tenggelam dalam pekerjaannya dan tidak memiliki kehidupan lain selain kehidupan kerja, kerja dan kerja. Masuk kantor pukul 07.30 dan pulang dari kantor paling cepat pukul 20.00. Jauh melebihi batas orang kerja normal yaitu 8 jam per hari. Belum lagi menghitung waktu tempuh perjalanan dari rumah ke kantor.

Mari kita pahami bersama, apakah sesungguhnya worklife balance itu? Memadukan dari berbagai sumber, work-life balance didefinisikan sebagai suatu kondisi seimbang atas pencapaian prioritas seseorang terhadap tanggung jawab pekerjaannya, dengan gaya hidup pribadi individu tersebut. Terdapat pula pandangan dari beberapa psikolog bahwa kebutuhan seseorang akan karir sebaiknya tidak sampai mengganggu atau bahkan merusak kemampuan individu tersebut  untuk menikmati hidupnya di luar aktivitas rutin pekerjaannya.

Berdasarkan definisi tersebut, mari kita kembali bercermin, apakah kita sudah berada pada kondisi seimbang? Apabila Anda sudah berada pada kondisi tersebut, silahkan dipertahankan. Namun jika belum, berikut ini beberapa hal yang dapat membantu Anda untuk merenungkan kembali bagaimana kondisi seimbang itu dapat dicapai.

Seorang ahli mencetuskan sebuah konsep work-life balance tidak hanya sekedar keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi saja. Terdapat beberapa hal lain yang juga perlu mendapat perhatian dan dapat kita ingat dengan akronim S.P.I.C.E.S.

Social : Kehidupan keluarga, hubungan dengan orang lain, lingkungan, alam dan masyarakat.
Physical : Kebugaran , gizi, kesehatan, dan santai.  
Intelectual : Penguasaan stres dan tekanan, pengembangan diri & profesional, proses belajar.
Career : Sukses bekerja, berkarir dan kesejahteraan finansial.
Emotional : Sense of humor, kreativitas, bermain, dan self esteem.
Spiritual : Ke-Tuhan-an, intuisi, arti dan tujuan  hidup.

Mari kita jabarkan secara singkat satu persatu. Pertama adalah aspek sosial. Merujuk kembali ke fitrah manusia yaitu makhluk sosial, tentu saja kita membutuhkan lingkungan sosial untuk dapat bertahan hidup. Keluarga, hubungan dengan orang lain sebut saja pacar atau pasangan hidup, tetangga samping kanan-depan-belakang rumah, lingkungan alam dan sekelilingnya. Sempatkan diri sejenak untuk menyapa lingkungan, berikan ucapan selamat pagi kepada pasangan, berikan senyum yang indah nan tulus kepada tetangga, tanyakan kabar sanak family, sapa dan siram secara teratur tumbuhan yang ada di pekarangan rumah, dan lain sebagainya.

Dengan melakukan hal kecil tersebut akan memberikan aura positif bagi diri Anda sehingga dapat menjadi mood booster yang ampuh untuk menjalani aktivitas sepanjang hari. Apalagi saat ini teknologi dan media sosial sudah sangat berkembang sehingga mampu mendukung aktivitas sosial kita.

Aspek kedua yaitu physical (fisik). Makan makanan yang bergizi sebelum memulai aktivitas harian. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan hidup. Banyak orang beralasan tidak sempat buat sarapan, tidak sempat makan karena kerjaan numpuk dan lain-lain. Ya, mungkin saat ini Anda merasa baik-baik saja. Coba Anda bayangkan akumulasi efek makan yang tidak teratur, saat usia menginjak 40 tahun, akan mulai muncul gejala-gejala yang disinyalkan oleh tubuh atas perlakuan kita kepada mereka di usia muda.

Tubuh yang merasa teraniaya, kebugaran menurun, sering terkena sakit musiman, kesehatan terganggu (darah tinggi, kolesterol, diabetes, jantung, asam urat) semua penyakit yang dulunya tidak kita kenal mulai mengajak berkenalan. Bersediakah Anda berkenalan dengan mereka?

Aspek ketiga adalah intelektual. Intelektual tidak melulu berbicara mengenai pengetahuan kita akan sesuatu hal yang biasa kita kenal dengan istilah hard skills. Intelektual juga membahas mengenai kemampuan yang bersifat soft skills. Salah satunya adalah kemampuan kita untuk mengelola stres dan tekanan yang didapat dari lingkungan sekitar.

Bos marah di pagi hari karena pekerjaan kita yang kurang sesuai menurut dia? tidak perlu dihadapi dengan jawaban membangkang, defensif, atau membela diri. Cukup tersenyum dan mintalah dengan baik untuk ditunjukkan dimana letak kesalahan kita, dan perbaiki dengan segera, itu menjadi salah satu trik sederhana yang dapat digunakan.

Selain pengelolaan stress kita juga perlu selalu mengembangkan diri. Mengembangkan diri tidak selalu pergi bersekolah atau mengikuti pelatihan-pelatihan formal. Aktif dalam diskusi informal, bertemu dengan banyak orang, membangun jejaring, bahkan terlibat menjadi panitia acara tujuh belas agustus di lingkungan tempat tinggal juga merupakan proses untuk mengembangkan diri. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan intelektualitas kita. Namun yang perlu direnungkan maukah kita mendorong diri sendiri untuk selalu mengembangkan diri?

Aspek keempat adalah karir. Sebagian pekerja, mereka dapat dikatakan sukses ketika karir mereka cemerlang atau terjadi peningkatan jabatan dalam beberapa tahun pengabdian pekerjaan mereka. Hal ini tentu saja terkait dengan pemasukan yang akan mereka dapatkan. Namun paradigma karir saat ini mulai bergeser, tidak semua orang membanggakan karir yang mereka miliki. Apalagi untuk generasi produktif saat ini yang didominasi oleh Generasi Y (Gen Y).

Gen Y memandang kesuksesan karir bukanlah terletak pada seberapa tinggi jabatan yang akan mereka dapatkan, namun mereka lebih memilih apa yang bisa perusahaan berikan kepada mereka. Gen Y memiliki ekspektasi yang tinggi, apabila perusahaan tidak bisa memenuhi ekpektasi mereka, maka mereka akan memilih untuk mencari perusahaan lain.

Muncul paradigma lain terkait karir, bagi seseorang yang memilih jalan menjadi pengusaha, karir cemerlang adalah ketika usaha yang mereka rintis dapat berkembang dan bertambah besar yang ujungnya tentu saja dapat memberikan pendapatan yang maksimal. Jadi dalam hal ini masing-masing individu memiliki pandangan sendiri terkait keseimbangan karir yang mereka miliki. Sah-sah saja karena setiap individu memiliki hak untuk memutuskan jalan hidup masing-masing.

Aspek kelima adalah emosional. Apabila seseorang memiliki kestabilan emosi di dalam dirinya, maka keseimbangan hidupnya pun akan mudah diraih. Tentu saja emosi positif yang perlu mendominasi, ketika emosi positif muncul dalam diri seseorang maka akan bisa mendorong terciptanya kreativitas, keriangan hati, menumbuhkan kepercayaan diri, pikiran yang jernih dan lain sebagainya. Hal inilah yang pada akhirnya dapat mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas yang baik pula sehingga dapat menciptakan keseimbangan hidup di dalam diri.

Aspek terakhir yang paling prinsipil dan filosofis adalah spiritual. Keyakinan seseorang atas penciptanya memberikan landasan hidup yang kuat sehingga mampu menghadapi segala macam rintangan dan halangan yang menyemarakkan hidup. Selain itu dengan memiliki keyakinan tentunya akan mendorong seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya yang diturunkan dari keyakinan atas janji yang disampaikan oleh Sang Pencipta.

Keenam aspek tersebut merupakan patokan bagi para pekerja untuk dapat menyeimbangkan hidupnya. Namun alangkah baiknya apabila aspek-aspek tersebut juga didukung dengan program-program yang diciptakan oleh perusahaan.

Apa sajakah program dari perusahaan yang dapat mendukung para pekerjanya untuk mencapai keseimbangan hidup mereka? Tunggu artikel selanjutnya, selamat berefleksi.

*Tulisan dimuat Business Review online, 24 Agustus 2015.

Titis SetyawardaniTitis Setyawardani, S.E., M.M.
Consultant, Organizational Development Service | PPM Manajemen
TSW@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s