Pembentukan dan Pengembangan Pengetahuan dalam Bisnis Keluarga

tumblr_static_family-business-paris-blog3Kebanyakan perusahaan raksasa di Indonesia awalnya, bahkan hingga kini adalah perusahaan keluarga, yaitu perusahaan yang didirikan, dimiliki, dan sebagian dikelola oleh pendiri dan keluarganya.

Dari sudut pandang manajemen pengetahuan, entitas bisnis adalah kumpulan dari pengetahuan. Studi mengenai perusahaan keluarga di Indonesia menunjukkan adanya kekhasan dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan dalam perusahaan keluarga dibandingkan perusahaan yang tidak dimiliki oleh keluarga.

Seperti yang sudah umum diketahui, ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit dan pengetahuan terbatinkan (tacit knowledge). Pengetahuan eksplisit dalam bentuk dokumen, rumus, resep, video, buku, artikel, dan sejenisnya mudah disimpan, juga bisa mudah diajarkan atau diberikan ke pihak lain.

Pengetahuan terbatinkan sebaliknya, tersimpan hanya pada pemiliknya, sangat sulit diajarkan apalagi diberikan ke pihak lain, misalnya gaya melukis, gaya menulis, cara bertutur-kata, keahlian memasak, keluwesan dalam menari, penghayatan saat memainkan musik, atau gaya memimpin orang. Padahal, yang membuat suatu perusahaan unggul dibandingkan pesaingnya justru pengetahuan terbatinkan ini.

Pada perusahaan keluarga, pengetahuan terbatinkan merupakan cikal bakal bisnis. Misalnya di industri jamu di Indonesia, kemahiran meracik jamu datang dari orang tua, terutama sang ibu, yang berusaha menjaga kesehatan keluarganya dengan meracik jamu.

Contohnya adalah produsen jamu PT Jamu Jago yang memproduksi jamu produksi rumahan sejak tahun 1918, atau PT Nyonya Meneer yang mengawali bisnis pada tahun 1919. Pengetahuan terbatinkan ini dikuasai oleh pendiri dan keluarganya, serta menjadi aset strategis yang tak ternilai.

Seperti yang disampaikan di awal, suatu entitas bisnis terdiri dari banyak pengetahuan. Bidang bisnis utama yang digeluti biasa disebut bisnis inti (core business). Misalnya bisnis produsen jamu, produsen makanan dan minuman, kontraktor, pedagang batik, dan sebagainya.

Bisnis inti sebuah perusahaan terdiri dari pengetahuan inti (core knowledge). Ada tiga tingkat pengetahuan inti dalam entitas bisnis: pengetahuan dasar, pengetahuan lanjut, dan pengetahuan inovatif.

Pengetahuan dasar (basic knowledge), seperti namanya, adalah pengetahuan yang harus dimiliki oleh semua orang yang bergerak dalam bisnis tersebut. Sederhananya, untuk bergerak dalam bisnis jamu maka orang harus memiliki antara lain, pengetahuan mengenai bahan baku jamu, cara membuat jamu, cara mengemas jamu, dan cara menyajikan jamu.

Contoh lain adalah pengetahuan mengenai kacang (goreng) yang menjadi bisnis inti PT Garuda Food Putra Putri Jaya (GPPJ), pengetahuan mengenai bisnis batik yang menjadi bisnis inti PT Batik Danar Hadi sejak tahun 1967. Demikian pula pengetahuan yang dimiliki produsen teh Sosro (PT Sinar Sosro) yang mengawali bisnis tehnya tahun 1940 dengan berdagang daun teh kering.

Seringkali pebisnis sukses menyampaikan dalam ‘kisah sukses’-nya bahwa ketika memulai bisnis ia tidak memiliki pengetahuan apa-apa mengenai bisnisnya. Hanya modal nekat. Pernyataan itu tidak salah, karena pengetahuan mengenai bisnisnya dibangun melalui pengalaman jatuh-bangun mengelola bisnisnya.

Bisa juga kalau dari awal berbisnis sudah memiliki pengetahuan, misalnya dengan menempuh jalur waralaba (franchise). Karena pada dasarnya waralaba merupakan pengetahuan-pengetahuan eksplisit, yang dikemas sedemikian rupa sehingga nyaris seperti buku resep. Kalaupun belum ahli, ada yang ahli ‘betulan’ siap mengajar dan memandu.

Tidak ada perbedaan berarti antara pengetahuan dasar yang dimiliki oleh satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam satu industri. Bila pelaku bisnis hanya menguasai pengetahuan dasar bisnisnya, dia tidak akan menjadi pebisnis besar, apalagi unggul. Tanpa keunikan, konsumen sulit mengenalinya di antara belantara produsen produk yang sama. Bahkan konsumen bisa beralih ke produk subtitusinya.

Misalnya daripada mengkonsumsi jamu, konsumen lebih memilih obat bebas atau obat tradisional berbahan herbal (fitofarmaka). Pengetahuan dasar ini sangat besar muatan pengetahuan eksplisitnya sehingga pada saat suksesi relatif mudah mewariskannya pada para penerus.

Pengetahuan lanjut (advanced knowledge), adalah pengetahuan yang membuat suatu bisnis berbeda dengan pesaing-pesaingnya dan bisnisnya bisa berkelanjutan (sustainable). Kembali pada contoh jamu, pengetahuan lanjut dapat berupa pengetahuan atas bahan, proses produksi, pengemasan, dan penyajian yang membuatnya berbeda.

Sesuai studi yang dilakukan terhadap konsumen jamu di pulau Jawa tahun 2013, diketahui bahwa produk jamu yang dipilih konsumen adalah jamu produksi perusahaan besar/ modern, dengan kandungan herbal, murah, dan berkhasiat.

Kalau produknya makanan, biasanya keunikan strategis yang dihasilkan oleh pengetahuan lanjut adalah rasa. Sama-sama mie ayam, namun kuahnya lebih sedap, baksonya lebih gurih, dan aromanya menerbitkan air liur. Akibatnya konsumen jadi kangen pada produk tersebut, dan lebih memilihnya dibandingkan produk dari produsen lain.

Hal yang perlu diperhatikan pada pengetahuan lanjut, muatan pengetahuan terbatinkan semakin besar dibandingkan pengetahuan dasar. Diperlukan semangat, kecintaan atau passion serta waktu belajar yang panjang untuk membangun pengetahuan terbatinkan dalam bisnis.

Dalam situsnya, dikisahkan bagaimana keluarga Sosrodjojo dari PT Sinar Sosro terus berupaya memperluas pemasaran produk tehnya dengan berbagai cara menyeduh dan mengemas sampai akhirnya tiga dekade sejak mengawali bisnisnya, tahun 1970 keluarga Sosrodjojo berhasil menelurkan produk teh dalam kemasan botol. Tidak heran bila salah satu tag-line Sosro tahun 1997 adalah “Ahlinya Teh.”

Dapat dibayangkan kesulitan untuk mewariskan pengetahuan terbatinkan yang dibangun melalui proses yang panjang kepada generasi penerus bisnis keluarga. Di banyak perusahaan keluarga di Indonesia, khususnya di Jawa, pengetahuan terbatinkan lebih mudah diteruskan bila keluarga memiliki kebiasaan berdiskusi mengenai bisnis dalam suasana informal dan memperkenalkan generasi penerus sedini mungkin mengenai bidang bisnis keluarga.

Pengetahuan lanjut kalau tidak terus disempurnakan lambat laun dapat ditiru atau dimiliki oleh perusahaan lain – misalnya melalui proses akuisisi produk atau perusahaan. Bila sudah banyak perusahaan dalam satu industri memiliki pengetahuan lanjut yang mirip, maka pengetahuan tersebut merosot menjadi hanya pengetahuan dasar.

Hal yang bisa mengakselerasi pembentukan pengetahuan lanjut sudah disebutkan sebelumnya: semangat, kecintaan, dan kerja keras. Dalam perusahaan pada umumnya dikenal sebagai budaya organisasi. Khusus pada perusahaan keluarga, percepatan pembentukan pengetahuan lanjut dapat dilakukan dengan memanfaatkan nilai-nilai keluarga, hubungan akrab dan tentunya kepercayaan (trust) antar anggota keluarga.

Bila untuk membangun pengetahuan lanjut diperlukan waktu serta upaya yang panjang, apalagi untuk membangun pengetahuan inovatif (innovative knowledge), yaitu pengetahuan yang membuat pelaku bisnis pemiliknya bisa memimpin pasar.

Muatan pengetahuan terbatinkan mendominasi pengetahuan inovatif. Selain itu, pengetahuan inovatif juga bisa merupakan kombinasi antara pengetahuan-pengetahun lain yang terintegrasi menjadi pengetahuan baru.

Kembali pada contoh produsen teh dalam botol, pada tingkat pengetahuan inovatif, produsen tidak lagi hanya menguasai pengetahuan inti untuk memproduksi barang atau jasanya, melainkan pengetahuan-pengetahuan lain yang membuat produknya hadir untuk pelanggan dengan lebih efektif dan efisien. Misalnya sistem distribusi, pengelolaan kegiatan pemasaran, pengelolaan sumberdaya manusia, pengelolaan kegiatan riset dan inovasi, dan sebagainya.

Kemampuan perusahaan keluarga untuk membangun pengetahuan inovatif dipengaruhi oleh karakteristik keluarga pemilik dan pengelola perusahaan. Kalau perusahaan dimiliki oleh keluarga yang senang belajar, berani mengambil risiko, senang bereksperimen, kreatif, ditambah keinginan untuk menjadi yang terbaik atau dominan di industrinya, maka perusahaan cenderung memiliki kemampuan tinggi untuk melakukan inovasi.

Faktor lain adalah kualitas kompetensi sumberdaya manusianya. Perusahaan keluarga yang mempekerjakan terlalu banyak anggota keluarga yang tidak kompeten akan menurunkan kemampuan perusahaan melakukan inovasi.

Pembentukan pengetahuan inovatif juga dapat dipercepat dengan memasukkan para profesional yang bukan anggota keluarga untuk memegang posisi kunci. Para profesional ini diharapkan membawa berbagai pengetahuan baru ke perusahaan melalui pengalaman profesionalnya di perusahaan sebelumnya.

Dengan menggunakan sudut pandang pengetahuan, perusahaan keluarga dapat melakukan audit terhadap kualitas pengetahuan yang dimilikinya. Juga melakukan perencanaan suksesi pengetahuan, khususnya pengetahuan terbatinkan pada anggota keluarga penerus.

*tulisan dimuat SWA online, 3 September 2015.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir,
Koordinator Kelompok Keahlian Manajemen Strategi-PPM Manajemen
NKY@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Pembentukan dan Pengembangan Pengetahuan dalam Bisnis Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s