Work-Life Balance: The company role to balance it

worklife balanceWork-life balance, sebuah istilah yang selalu menarik untuk didiskusikan. Mengapa? Tentu saja karena hal ini berpengaruh terhadap produktivitas karyawan ketika bekerja, serta produktivitas karyawan tersebut ketika berganti peran di rumah.

Work-life balance (selanjutnya akan disebut sebagai WLB) adalah sebuah topik dinamis dimana selalu ada perubahan serta penyesuaian peraturan untuk mengakomodir keseimbangan hidup karyawan di dalam sebuah perusahaan.

Jika ulasan dalam artikel penulis beberapa waktu lalu memaparkan pandangan kepada si karyawan bagaimana cara menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaannya, untuk kesempatan kali ini penulis memberikan ulasan yang dapat dijadikan pegangan bagi perusahaan, bagaimana peran perusahaan untuk menyeimbangkan kehidupan karyawan dengan tanggung jawab pekerjaan mereka.

Simbiosis mutualisme pasti terjadi antara karyawan dengan perusahaannya. Perusahaan membutuhkan karyawan, begitu juga sebaliknya, karyawan pun membutuhkan perusahaan. Seiring berkembangnya zaman berkembang pula sistem pengelolaan manusia di dalam perusahaan. Mulai dari memberikan penggajian yang cukup dan bersaing, memberikan pengembangan kompetensi karyawan, melakukan penilaian kinerja yang adil, sampai dengan memberikan keseimbangan hidup bagi karyawannya.

Keseimbangan hidup seseorang memang menjadi tanggung jawab bagi setiap individunya sendiri untuk menyeimbangkannya. Namun begitu seseorang tersebut menandatangani kontrak untuk bekerja di suatu perusahaan, pengelolaan keseimbangan hidupnya menjadi berpindah sebagian ke perusahaan. Hal ini tentu saja dikarenakan hampir sebagian dari waktu hidupnya dalam sehari akan didedikasikan kepada perusahaan tersebut.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan karyawan adalah dengan menyusun program WLB dengan tepat sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Antara perusahaan IT, FMCG, pendidikan, konstruksi, dan industri lainnya memiliki program WLB yang berbeda. Perbedaan itu muncul karena nature bisnis dan konsumennya yang berbeda sehingga menuntut perlakukan yang berbeda dari setiap aktivitas bisnisnya.

Berikut ini beberapa tahapan yang dapat dijadikan pedoman oleh perusahaan ketika menyusun program WLB :

  • Temukan key person pada level manajerial untuk mendapatkan dukungan pihak manajemen

Dalam tahapan ini, lakukan identifikasi, apa motivasi perusahaan dalam menyusun program WLB. Lakukan analisa apakah ini adalah momentum yang tepat untuk memunculkan isu mengenai WLB. Apabila telah yakin bahwa ini adalah momentum yang tepat, kumpulkan dukungan dari para senior manajer. Lakukan konsultansi dengan lembaga yang relevan mengenai niatan untuk menyusun program WLB. Selanjutnya, tunjuk beberapa orang yang berkompeten dan berkomitmen untuk menjadi tim penyusun program tersebut.

  • Kumpulkan informasi terbaru mengenai ‘apa yang terjadi sekarang’ dan isu apakah yang dapat menjadi dasar untuk menyusun program WLB.

Tahapan kedua, kumpulkanlah informasi, baik dengan cara formal maupun informal mengenai isu-isu terbaru terkait WLB di perusahaan. Setelah itu lakukan pencocokan atas isu tersebut dengan kebijakan dan aturan yang ada di perusahaan, lalu temukan karyawan dan manajer yang mengetahui serta memahami peraturan tersebut.

Identifikasi wilayah-wilayah mana yang dapat digali kembali kemanfaatannya melalui program WLB. Susun dan implementasikan strategi komunikasi yang cocok dalam upaya Anda merencanakan penilaian kebutuhan. Rencanakan, lakukan dan analisa kebutuhan karyawan melalui survey. Buat daftar terkait isu-isu WLB yang didapatkan melalui survey yang disebar kepada karyawan dan tetapkan prioritas isu terkait WLB di dalam perusahaan Anda yang perlu segera ditindak lanjuti.

  • Identifikasi program-program WLB yang dapat menjadi solusi atas isu tersebut.

Tahapan ketiga, buat daftar solusi-solusi yang dimungkinkan. Lakukan review dan riset mengenai program WLB apa yang dilakukan oleh perusahaan lain. Diskusikan dengan manajer, karyawan, dan lembaga yang relevan mengenai solusi yang sesuai untuk perusahaan Anda. Lakukan penilaian atas pilihan yang relevan, kemudian pilih ‘paket program’ tersebut dan mulailah untuk menyusun strategi. Susunlah perencanaan aktivitas untuk merealisasikan strategi tersebut dan dapatkan komitmen dari para stakeholder kunci.

  • Implementasikan program WLB yang telah dipilih.

Tahapan keempat, susun dan implementasikan strategi untuk mengkomunikasikan program WLB. Mulailah untuk mengimplementasikan perencanaan aktivitas yang telah disusun. Tetapkan beberapa pengukuran atas program WLB tersebut serta kerangka waktu untuk mengevaluasi kemajuan dari implementasi program WLB.

  • Lakukan penilaian dan pengukuran kemajuan program tersebut.

Tahapan terakhir, lakukanlah monitoring dan evaluasi implementasi dari program WLB. Sesuaikan atau perbaiki program tersebut bila dirasa ada yang kurang sesuai. Lakukan pemantauan atas praktek-praktek dari program tersebut. Ajukan inisiatif untuk membuat program WLB ini menjadi bagian dari budaya perusahaan Anda.

Tahapan-tahapan yang telah dijabarkan secara singkat di atas merupakan tahapan standar yang dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk mengambil perannya sebagai penyeimbang kehidupan para karyawannya. Tentu saja sangat diperbolehkan melakukan modifikasi atas proses tersebut. Semakin dalam proses pemahaman mengenai kebutuhan perusahaan dan karyawannya, maka akan semakin sesuai solusi atau strategi yang akan dijalankan.

Sangat tidak disarankan untuk menyusun program ini secara terburu-buru atau dengan alasan agar tidak ada ‘konflik’ dalam perusahaan. Pahami dan renungi terlebih dahulu filosofi dasar dari penyusunan program work-life balance ini agar perusahaan dan karyawan benar-benar merasakan asas kemanfaatannya. Jangan sampai program ini justru menjadi bumerang bagi perusahaan.

Sekali lagi, keseimbangan hidup seseorang adalah pilihan. Pilihan akan kehidupan yang bahagia dari sudut pandang masing-masing individu. Lalu apa peran dari perusahaan? Perusahaan merupakan aktor dibalik layar yang dapat merealisasikan adanya keseimbangan hidup para karyawannya.

Berminat untuk mendapatkan dan mempertahankan karyawan terbaik? Lakukan peran Anda dengan baik.

*Tulisan dimuat Business Review online, 20 September 2015.

Titis SetyawardaniTitis Setyawardani, S.E., M.M.
Consultant, Organizational Development Service | PPM Manajemen
TSW@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s