Strategi Pendanaan Film Indonesia

film indonesia

Menyoal film Indonesia, khususnya dari sisi produksi, dewasa ini terjadi fenomena yang menarik kalau tak mau dibilang ironi. Lihat saja, ketika produksi film Indonesia meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah penontonnya. Lain hal kalau kita tengok dengan pencapaian sebuah film hollywood yang menggunakan perhitungan pendapatan uang ketika tayang di bioskop.

Di Indonesia berlaku metode perhitungan jumlah tiket bioskop yang dibeli penonton untuk mengukur pencapaian film di pasaran, dan hingga awal September 2015 meski ada dua film Indonesia yang telah menyedot lebih dari 1 juta penonton, namun bisa dibilang jumlah penonton film Indonesia terus merosot. Lalu bagaimana dengan jumlah produksi film Indonesia itu sendiri pada tahun ini?

Ternyata sineas perfilman tanah air tidak menyerah begitu saja dan tidak ingin perfilman Indonesia kembali mati seperti pada awal 90-an terjadi lagi. Hingga saat ini tidak mudah bagi seorang produser untuk menebak apakah film Indonesia yang diproduksinya akan meraih banyak penonton atau tidak.

Sebagai contoh, film Indonesia yang diangkat dari sebuah novel dengan cap “Best Seller” dan terkenal, serta memiliki pembaca setia dengan usia beragam pun dapat dikalahkan dengan film Indonesia yang diangkat dari sebuah Novelet Teenlit, yang target pasarnya hanyalah remaja.

Ada juga film Indonesia yang dibintangi aktor dan aktris kenamaan dengan kemampuan peran nan apik yang telah meraih banyak penghargaan, pun dapat dikalahkan dengan film Indonesia yang dibintangi aktor dan aktris baru, dan film tersebut kini bertengger sebagai film Indonesia paling laris nomor dua tahun ini.

Strategi pemasaran lewat sarana promosi gencar pun tidak menjamin dalam perolehan jumlah penonton. Menilik fenomena tersebut, pastinya muncul pertanyaan bagaimana bisa sebuah rumah produksi tetap terus memproduksi film ditengah kondisi pasar yang tidak kondusif?

Fenomena produksi film Indonesia yang meningkat ketika jumlah penontonnya cenderung menurun terjadi karena semangat para sineas yang ingin terus berkarya, serta kini banyak cara yang dapat ditempuh para produser untuk mendapatkan dana agar produksi filmnya terus berjalan hingga film-film Indonesia produksinya dapat terus bermunculan di bioskop-bioskop tanah air. Lalu, apa sajakah hal yang ditempuh para produser film tersebut?

Pitching dengan investor

Tidak sedikit Investor yang memiliki dana memberi kesempatan untuk banyak Rumah Produksi melakukan pitching, investor tersebut ada yang datang dari yayasan, komunitas, hingga Instansi pemerintah daerah ataupun negara. Pada tahun ini saja, ada film berjudul Erau Kota Raja yang didanai oleh Pemerintah Kutai Kertanegara, Doea Tanda Cinta yang didanai Induk Koperasi Angkatan Darat, Toba Dreams yang didanai oleh TB Silalahi Center, serta Nada Untuk Asa yang didanai oleh Komisi Sosial Keuskupan Agung Jakarta.

Hak siar di televisi nasional

Beberapa Rumah Produksi menjual hak siar film yang diproduksinya kepada Stasiun Televisi Nasional jauh hari sebelum filmnya tayang di bioskop, oleh karena itu jangan heran jika menemukan logo stasiun televisi muncul di akhir credit title film, namun bagi sebagian orang hal ini pula yang dianggap sebagai biang keladi dibalik rendahnya minat masyarakat untuk datang ke bioskop menonton film Indonesia, mereka memilih untuk menunggu film tersebut tayang di Televisi Nasional.

Sponsorship

Kini sudah banyak Film Indonesia yang disponsori oleh beragam produk, hal ini dapat kita temukan dalam film berupa product placement, mungkin masih segar diingatan kita bahwa ada satu Film Biopik Indonesia paling laris di tahun 2012 dengan latar cerita tahun 80-an tetapi penuh terselip produk-produk makanan yang beredar di akhir tahun 2000-an.

Festival film internasional

Perlu diyakini, film-film produksi dalam negeri kini mampu bersaing di ranah perfilman Internasional. Untuk menambah pendapatan dari produksi filmnya, sebelum tayang di Tanah Air, para produser blusukan ke Festival Film Internasional untuk menunjukkan filmnya, bagi yang beruntung akan terpilih untuk ditayangkan secara eksklusif, selain itu juga mendapatkan dana tambahan.

Kegiatan ini menjadi ajang mingle dengan Investor Asing serta Rumah Produksi ternama untuk membeli hak distribusi, hal serupa terjadi pada film The Raid, jauh hari sebelum tayang di bioskop dalam negeri, film aksi yang berbujet rendah ini terpilih menjadi pemenang Best Midnight Madness Film People’s Choice Award Toronto Film Festival, serta menjadi Official Selection pada Sundance Film Festival dan South by Southwest (SXSW) Film Festival, bonus terbesar yang diraih berupa pembelian hak distribusi oleh Sony Pictures Classic untuk mengedarkan film tersebut di bioskop-bioskop seluruh Amerika.

Metode crowdfunding

Merupakan metode pendanaan yang kini lumayan gencar dilakukan di Perfilman Indonesia. Crowdfunding adalah metode pengumpulan dana dari para donor yang ikhlas membantu membiayai suatu proses kegiatan. Pada tahun ini sedikitnya ada tiga produksi film Indonesia yang menggunakan metode ‘patungan’ ini: Ketika Mas Gagah Pergi, Night Bus, dan Nay.

Pada pelaksanaanya, metode ini menganut sistem simbiosis mutualisme, para pendonor dana diberikan sejumlah benefit berupa pemberian merchandise eksklusif hingga pencantuman nama pada credit title.  Metode Crowdfunding pada produksi sebuah Film Indonesia pertama kali dilakukan oleh Rumah Produksi Kepompong Gendut untuk film Demi Ucok pada tahun 2012.

Beragam upaya yang dilakukan produser tersebut tentunya layak untuk diapresiasi, salah satu bentuk apresiasi kita adalah dengan menonton film produksi Indonesia ketika tayang di bioskop. Selamat menonton Film Indonesia!

*tulisan dimuat Business Review online, 4 Oktober 2015 (Judul asli “Pendanaan Film Indonesia”).

DRI blogHendri Ferdian
Corporate Marketing PPM Manajemen, Pemerhati Film Indonesia
DRI@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s