Alam Indonesia Penopang Devisa

bromoAlam Indonesia amat terkenal di manca negara. Siapa yang tak tahu Bali, pulau dewata, yang namanya sudah menyebar seantero dunia. Namun, masih banyak tempat lain di nusantara ini yang perlu dinikmati keindahannya dan sejatinya bisa mengangkat daya saing Indonesia dari sisi pariwisata.

Coba tengok perjalanan mulai dari Balikpapan menuju Berau, lalu Tanjung Batu menuju pulau Maratua dan pulau Derawan yang terkenal dengan ubur-uburnya. Infrastruktur, sebut saja bandara di pulau Kalimantan ini, tidak kalah bagusnya dengan bandara di Pulau Jawa. Bandara Balikpapan, yang dahulu bernama Bandar Udara Sepinggan, saat ini berganti nama menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman, bahkan sudah bertaraf internasional, kategori baru dan futuristik. Merupakan bandar udara kebanggaan PT. Angkasa Pura yang diresmikan pada tahun 2014.

Mengapa Balikpapan berupaya untuk ‘berdandan’? tentu jawabannya tidak jauh-jauh dari keinginan menambah pendapatan sektor pariwisata bagi kesejahteraan rakyat disana. Kepulauan Derawan dengan kumpulan pulau yang memiliki beragam keindahan laut menjadi aset membanggakan, yang seharusnya bisa menghasilkan devisa dan kesejahteraan bagi rakyat di kepulauan tersebut.

Ironisnya, kawasan wisata di pulau-pulau nusantara sudah semakin banyak dimiliki oleh orang asing, yang memasang tarif dalam USD atau Euro. Seperti misalnya pulau-pulau yang berada dekat dengan pulau Komodo dimana Taman Nasional Komodo berada, sudah banyak dikelola oleh investor asing. Kawasan wisata memang menjadi terkelola, namun menjadi tidak terjangkau oleh kita yang ingin masuk dan melihat, bahkan acapkali dilarang untuk masuk.

Kita menjadi tamu di tanah air kita sendiri yang indah ini. Bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi juga di pulau-pulau Indonesia lainnya, patut adanya evaluasi apakah investasi asing yang ditanamkan juga memberikan dampak bagi kesejahteraan, terutama bagi penduduk lokal di pulau tersebut.

Memang perlu diakui pariwisata merupakan salah satu industri jasa yang kalau dikelola dengan baik akan menghasilkan banyak devisa bagi negara yang memilikinya. Menurut Lovelock & Wirtz dalam buku Service Marketing yang banyak digunakan di sekolah bisnis menyebutkan, industri jasa menyumbang 68.0% bagi GDP USA di tahun 2014. Hal yang sama juga dialami oleh Jepang (74%), Perancis (73%), Belanda (73%), Inggris (73%), Kanada (71%) dan Singapore 67%. Pertumbuhannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kalau diamati, apa yang dijual dan dipromosikan tidak lebih bagus atau lebih indah dari yang dimiliki Indonesia.

Pertanyaannya mengapa Indonesia belum bisa mendorong pariwisatanya menjadi sangat tinggi pertumbuhannya?

Ternyata, untuk memajukan sebuah industri jasa, tidak cukup hanya produk yang diminati atau yang hanya memiliki nilai unggul saja yang dijual, namun perlu juga dikemas dengan pesan yang dikomunikasikan secara apik dan tepat sasaran. Lalu yang juga penting, pesan yang ingin dikomunikasikan bisa diakses secara mudah oleh mereka yang membutuhkan. Contohnya para travel agent di Indonesia perlu memiliki website yang mampu mengantarkan informasi produk yang akan dijual sekaligus sebagai wadah interaksi antara penjual dan pembeli.

Supaya tetap diminati, artinya sang pengunjung tidak kapok untuk datang kembali, maka infrastruktur dan fasilitas perlu dibuat senyaman mungkin dan bisa memberikan kepuasan serta kemudahan. Proses juga harus tidak bertele-tele namun cepat, dan akurat. Sumberdaya manusia yang merupakan ujung tombak juga tidak kalah pentingnya. Mulai dari penerima tamu (front office), back office, manajer, bahkan top management semuanya berorientasi pada kepuasan yang membeli jasa. Memberikan service excellence.

Ibarat mencari terang kala memegang obor. Kita lupa potensi yang dimiliki oleh sumberdaya alam Indonesia, alam kita sendiri, yang nyata-nyata bisa menghasilkan banyak devisa. Bila strategi pemasaran bidang jasa yang dikemukakan diatas tersebut bisa dilakukan, diasah menjadi kompetensi, maka tidak diperlukan investasi asing, kita yang akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semoga.

*Tulisan dimuat BUMN Insight online, 12 Oktober 2015.

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia| PPM Manajemen
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s