Mengapa Perusahaan “Start-Up” Gagal?

Startup-Lokal Belakangan ini, istilah perusahaan start-up semakin sering kita dengar. Istilah ini memiliki asosiasi dengan perusahan rintisan dengan skala yang kecil, bergerak di bidang teknologi dan biasanya diprakarsai oleh sekelompok anak muda. Namun demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan perusahaan start-up?

Jika mengacu pada kamus Merriam-Webster, start-up berarti “the act or an instance of setting in operation or motion” atau “a fledgling business enterprise.” Sumber lainnya, The American Heritage Dictionary mendefinisikan start-up sebagai “a business or undertaking that has recently begun operation.”

Adora Cheung, CEO dari Homejoy (salah satu dari The Hottest US Startups 2013) juga menyebutkan bahwa yang disebut sebagai start-up adalah ketika sekelompok orang bergabung dalam perusahaan Anda, dan membuat keputusan yang eksplisit untuk mengabaikan stabilitas, dan kepastian akan pertumbuhan yang eksponensial serta kegembiraan atas keberhasilan dalam membuat dampak yang segera.

Pernyataan Adora Cheung tersebut sejalan dengan Eric Ries yang mengatakan bahwa start-up adalah sebuah institusi yang didesain untuk membuat barang atau jasa yang baru dalam kondisi ketidakpastian yang ekstrim. Sebuah definisi lain digagas oleh Steve Blank, seorang profesor dari Standford. Ia menyatakan bahwa start-up adalah sebuah organisasi yang dibentuk untuk mencari bisnis model yang dapat diukur dan berulang (scalable and repeatable).

Menjadi hal yang cukup sulit sebenarnya untuk membuat suatu definisi akan start-up. Sebagian besar ahli kewirausahaan sepakat bahwa start-up ditentukan oleh beberapa hal seperti usia perusahaan, pertumbuhan, profitabilitas atau stabilitas. Tentu saja hal ini akan sangat beragam antara satu perusahaan start-up dengan perusahaan start-up lainnya, antara satu industri dengan industri lainnya.

Pada akhirnya, mungkin memang tidak ada satu definisi yang baku tentang start-up. Banyak pelaku wirausaha yang berkata bahwa bisnis start-up adalah sebuah “state of mind” yang tidak dibatasi oleh usia perusahaan dan jumlah pendapatan yang mampu dihasilkan oleh sebuah entitas start-up.

Di Indonesia, kemunculan perusahaan start-up sebenarnya telah dimulai sejak lama. Beberapa perusahaan start-up di Indonesia pun telah mampu untuk bangkit dan bersaing dalam mendapatkan suntikan dana segar dari berbagai investor. Dua perusahaan start-up asli Indonesia yang mampu unggul diantaranya adalah Traveloka dan Gojek. Kisah sukses keduanya telah menorehkan inspirasi tersendiri dalam dunia wirausaha di Indonesia.

Namun demikian, faktanya sekitar 75% perusahaan start-up yang didukung oleh venture capital gagal untuk memberikan pengembalian kepada investornya. Tidak lebih dari 50% perusahaan start-up gagal untuk tetap hidup hingga tahun keempat.

Mengapa demikian?

Perusahaan start-up atau perusahaan rintisan, seringkali dimulai dari hobi. Memang, tidak ada yang salah dari membangun usaha berlatar-belakang hobi. Akan tetapi, perlu diperhatikan apakah hobi yang dikembangkan menjadi sebuah produk tersebut memang merupakan sesuatu yang memiliki potensi menjawab kebutuhan pasar. Hal pertama yang menyebabkan perusahaan start-up gagal adalah, mereka tidak membuat produk yang dibutuhkan oleh pasar.

Selanjutnya, penyebab kedua dan yang kerap terjadi adalah, kehabisan sumber dana. Investasi yang besar, tanpa diiringi oleh manajemen keuangan yang baik akan berujung pada kegiatan operasional perusahaan yang inefisien. Apalagi, pada fase awal berdiri, perusahaan start-up biasanya belum mampu untuk memiliki revenue stream yang stabil.

Faktor lain yang juga dapat menyebabkan perusahaan start-up terjerembab ke dalam lubang kegagalan adalah konflik internal. Perbedaan prinsip dan pandangan diantara co-founder tak jarang membuat perpecahan di dalam perusahaan. Ketidakmampuan para founder untuk berkompromi dan mencari solusi yang menguntungkan kedua pihak membuat konflik tidak terelakkan. Beberapa start-up kemudian memutuskan untuk menghentikan bisnisnya ketika seorang co-founder dengan founder lainnya sudah tidak bisa lagi sepaham.

Sebagai perusahaan rintisan, sering kali mau tidak mau ia tetap harus berkompetisi pada pasar yang sama, berhadapan langsung dengan perusahaan besar yang sudah jauh lebih stabil. Perusahaan start-up, dengan sumber dayanya yang terbatas kerap tersisihkan dari kompetisi yang ada.

Berkaca dari penyebab kegagalan perusahaan start-up, terdapat beberapa hal yang dapat kita tarik sebagai kunci sukses perusahaan start-up. Pertama, pastikan bahwa produk yang ditawarkan kepada pasar merupakan produk yang solutif, produk yang memang dibutuhkan oleh pasar. Untuk memastikan hal ini, perusahaan dapat mengawalinya dengan membuat riset pasar terlebih dahulu.

Selanjutnya, ciptakan pertumbuhan yang cukup cepat sebelum memulai investasi yang berikutnya. Salah satu hal krusial yang perlu diperhatikan oleh pengusaha start-up adalah untuk mengamankan pasar mereka dan menciptakan revenue stream yang stabil. Dengan demikian, aliran dana yang menjadi darah perusahaan dapat tetap mengalir dan menghindarkan perusahaan dari jurang kematian.

Selamat merintis perusahaan, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat Business Review online, 18 Oktober 2015.

fitri safiraFitri Safira, M. M.
Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif | PPM Manajemen
FFA@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s