Active Empathic Listening, Meningkatkan Efektivitas Kepemimpinan

listeningShinta keluar dari Ruang Rapat dengan wajah masam.  Bukan presentasi proposal yang menjadi ganjalannya, karena semua aspek yang terkait dengan proposal sangat dikuasainya.  Hanya sikap yang ditunjukkan dari salah seorang Direksi disepanjang presentasi dan diskusi berlangsung yang sangat mengusik hatinya.

Ekspresi wajah yang ‘dingin’ dan ‘clue-less’ sulit untuk diterka apakah beliau mengikuti dengan baik topik yang dibicarakan. Belum lagi, pandangan mencuri-curi yang lebih sering tertuju ke arah gadget yang beliau genggam cukup membuat Shinta merasa sesak.  Ajang presentasi proposal yang diharapkan dapat berakhir dengan diskusi tindak lanjut ke arah perbaikan menjadi tidak optimal.  Shinta pun sangat kecewa.

Efektivitas peran pemimpin di dalam organisasi juga dipengaruhi oleh kemampuannya untuk menjadi komunikator yang baik. Bukan hanya sebagai pembicara yang baik, tetapi juga diharapkan menjadi pendengar yang baik.  Apa realita yang terjadi? Lebih banyak upaya yang dilakukan untuk menjadi pembicara yang baik daripada menjadi pendengar yang baik.

Masalah yang dihadapi oleh poor listener bukan hanya perilakunya dianggap tidak sopan tetapi juga akan kehilangan peluang untuk memahami aspek penting yang muncul dari pembicaraan yang terjadi. Studi tentang efek multi-tasking pada proses belajar yang dilakukan oleh Wood et al. (2008) memperlihatkan bahwa siswa yang mendengarkan kuliah sambil melakukan sms, email, update status di FB serta menggunakan instant messages memiliki nilai yang lebih rendah daripada siswa yang mendengarkan kuliah tanpa gangguan.

Selain dianggap kurang sopan, poor listener secara umum juga mempunyai kecenderungan memiliki social skills yang rendah.  Studi yang dilakukan oleh pakar komunikasi Christopher Gearhart and Graham Bodie (Louisiana State) dengan melibatkan lebih dari 300 siswa,  memperlihatkan bahwa siswa yang memiliki kualitas ‘active empathic listening’ yang rendah juga memiliki nilai social skills test yang rendah.

Bayangkan Anda sebagai pembicara, apa yang Anda harapkan dari pendengar Anda?  Sudahkan Anda belajar untuk menjadi pendengar yang baik? Menjadi pendengar yang aktif diantaranya adalah menjadi pendengar yang menggunakan emphaty (Active Empathic Listening, AEL); yaitu tidak hanya sekedar mendengar, tetapi Anda juga memahami perasaaan lawan bicara Anda.

Active Empathic Listening (AEL) adalah kemampuan untuk mendengarkan secara aktif menggunakan client-centered approach;  meliputi kemampuan untuk merasakan (sensing), memproses (prosessing) dan merespon (responding) secara empathic.

Empathic Sensing merupakan kemampuan Anda untuk memahami APA yang disampaikan dan juga BAGAIMANA cara penyampaiannya; meliputi:

  1. Menunjukkan kepekaan terhadap apa yang disampaikan
  2. Menyadari maksud yang tersirat
  3. Memahami perasaan pembicara
  4. Memperhatikan hal lain selain kata-kata yang diucapkan

Empathic Processing merupakan kemampuan Anda untuk mengikuti proses pembicaraan dan meyakinkan pihak pembicara; meliputi:

  1. Meyakinkan pembicara bahwa Anda mengingat hal-hal yang disampaikannya
  2. Bila perlu, meringkaskan apa yang disepakati atau tidak disepakati
  3. Mengikuti dengan seksama poin-poin yang dibahas

Empathic Responding adalah kemampuan Anda untuk menyatakan secara verbal dan/atau non-verbal memberikan perhatian kepada pembicara; dengan cara:

  1. Meyakinkan pembicara menggunakan balasan verbal bahwa Anda mengikuti pembicaraan
  2. Meyakinkan pembicara bahwa Anda mau menerima idenya
  3. Mengajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa Anda memahami posisi pembicara
  4. Memastikan bahasa tubuh Anda menunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan seksama.

Menajamkan kemampuan untuk menjadi active empathic listerner akan meningkatkan efektivitas peran pemimpin melalui berbagai macam aspek; mulai dari memberi contoh perilaku baik dalam menghargai pembicara, meningkatkan pemahaman atas aspek yang dibicarakan, dan pada akhirnya juga akan mengasah keterampilan sosial.  Andai saja atasan Shinta sudah mendemonstrasikan Active Empathic Listening, kemungkinan besar Shinta akan keluar dari Ruang Rapat dengan wajah ceria.

Let’s be an active empathic listener …

*Tulisan dimuat SWA online, 28 Oktober 2015.

DPS ppm manajemenDjati Purwanti Setyorini, MBA
Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif | PPM Manajemen
DPS@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s